Kunker Ke Sumba Barat Daya, Gubernur VBL Minta Masyarakat Kembangkan Tanaman Hortikultura

0
329

NTTSATU.COM — SUMBA BARAT DAYA — Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) kembali melakukan kunjungan kerja ke Pulau Sumba kali ini di Kabupaten Sumba Barat Daya pada Jumat (21/10/2022). Kunjungan kerja di Kabupaten Sumba Barat Daya ini dilaksanakan selama 3 hari mulai 21-23 Oktober 2022.

Dalam kunjungan hari pertama Gubernur VBL melaksanakan penanaman serta panen komoditas hortikultura cabai merah di tiga lokasi diantaranya Desa Ramadana Kecamatan Laura, Desa Kabali Dana Kecamatan Wewewa Barat, dan Desa Hameli Ate Kecamatan Kodi Utara.

Penanaman komoditas holtikultura cabai merah ini merupakan langkah sinergitas Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten bersama masyarakat dalam pengendalian inflasi pangan.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat meminta masyarakat untuk terus mengembangkan tanaman holtikultura sebagai langkah aktif membantu Pemerintah dalam mengendalikan inflasi.
“Hari ini kita menanam cabai merah di lahan seluas 4 Ha dan kita mulai dengan 1 Ha. Atas nama Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya bersama masyarakat berterima kasih kepada Bank Indonesia atas kolaboras yang dilakukan terkait pengendalian inflasi dengan baik melalui penanaman hortikultura,” jelas Gubernur saat menanam cabai merah di Desa Ramadana Kecamatan Laura.

“Terima kasih juga untuk kolaborasi dari Bupati Sumba Barat Daya bersama jajarannya dan juga para petani sehingga hari ini juga kita bisa memanen cabai merah disini. Ini hasilnya sangat bagus dan saya meminta untuk terus ditingkatkan karena ini dapat membantu pengendalian inflasi. Kita butuh banyak sekali komoditi hortikultura seperti cabai merah ini namun stok dipasar kurang dan itu menyebabkan inflasi dengan adanya kenaikan harga,” ujar Gubernur VBL saat kegiatan panen cabai merah di Desa Kabali Dana Kecamatan Wewewa Barat.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Lecky Frederich Koli, S.TP menjelaskan pentingnya setiap desa mengembangkan budidaya tanaman hortikultura. “Ini adalah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang digagas agar kita bisa mengendalikan produksi pangan hortikultura untuk stabilitas harga. Jadi kita ingin setiap desa itu ada kluster holtikultura untuk seperti cabai, bawang ataupun tomat dan komoditi lainnya seringkali menyebabkan inflasi. Ini komoditas yang perlu diatur. Terima kasih kepada Bank Indonesia yang sudah intervensi gerakan ini dengan baik,” ujar Lecky.

Beliau juga turut mengapresiasi kinerja Pemerintah Sumba Barat Daya dengan Program TJPS mencapai 36.000 Ha. “Kita juga harus mengubah perspektif dengan keyakinan bahwa Sumba Barat Daya sebagai penyumbang kemakmuran di NTT. Itu dibuktikan dengan musim tanam 2 kemarin itu ada lompatan hebat dari Kabupaten Sumba Barat Daya yang berhasil menanam jagung dengan luas 36.000 Ha di musim panas. Terima kasih untuk Bupati dan jajaran Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya serta masyarakat yang sudah berkolaborasi mewujudkan hal tersebut,” ungkap Lecky.

“Hal seperti inilah yang kita harapkan untuk mendorong ekonomi daerah. Kita harus kerja yang lebih besar lagi sehingga ada hasil yang luar biasa. Maka itu juga Bupati Sumba Barat Daya juga sudah bertekad bersama masyarakat bahwa akan kembangkan lagi tanam jagung hingga 100.000 Ha. Dari 100.000 Ha itu juga ada intervensi pemerintah seluas 15.500 Ha,” tambahnya.

Lecky juga menjelaskan, pengembangan dan peningkatan produksi pangan akan sangat membantu dalam menghadapi ancaman krisis pangan lokal yang diprediksi melanda dunia tahun depan. “Maka kita manfaatkan dengan baik seluruh lahan dan komoditi tanaman untuk bahan pangan dan sumber ekonomi serta peningkatan gizi. Kita fokus pada padi, jagung sorgum dan kelor,” ungkap Lecky.

Bupati Sumba Barat Daya dr. Kornelius Kodi Mete menjelaskan untuk membangun daerah dan masyarakat menjadi sejahtera maka harus dengan kerja dan niat bersama. “Kita butuh orang yang bekerja keras untuk bangun bersama daerah ini keluar dari kemiskinan. Di Sumba Barat Daya ini ada 11 Kecamatan, 173 Desa dan 2 kelurahan serta dan akan mekar lagi 77 Desa yang sudah mendapatkan penetapan kode registrasi untuk desa persiapan. Saya minta masyarakat untuk kelola lahan dan budaya kerja keras itu harus kita jalankan dengan baik sehingga hasilnya dapat dinikmati banyak orang. (sipers adpim)

Komentar ANDA?