KUPANG KOTA FLAMBOYAN

0
747
Foto: Theo Widodo, Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT

*) Oleh Theodorus Widodo

PENGALAMAN mengantar rombongan tamu keliling kota Kupang beberapa waktu lalu membawa saya pada satu kesimpulan. Sepe atau Flamboyant bisa jadi salah satu andalan wisata kota Kupang.

Di sepanjang jalan para tamu “wisatawan terhormat” ini terkagum-kagum pada pohon sepe yang mulai berbunga. Padahal yang berbunga itu baru sedikit sekali. Kebanyakan masih berbentuk kuncup. Belum cukup eksotik bagi warga Kupang yang sudah terbiasa acuh melihatnya. Bahkan sebagian besar daunnya belum tumbuh pertanda kemarau ini belum tuntas.

Tapi barangkali ibarat gadis cantik di tengah kerumunan,  merah flamboyan yang sporadis di antara hijaunya pepohonan ini justru yang membuat para tamu kagum. Tak jarang mereka minta supir menghentikan bus yang kami tumpangi untuk turun sebentar berfoto-ria bersama.
Pengalaman ini membuat saya teringat pada satu perjalanan wisata ke Jepang beberapa waktu lalu. Wisata terjadi setelah terkecoh publikasi beras-besaran pariwisata negeri sakura. Jepang yang sedang galau karena banyak industrinya dilibas negara-negara lain terutama ras serumpunnya Korea Selatan dan China harus putar otak cari sumber devisa lain. Dan pilihan jatuh pada pariwisata. Maka sektor inipun digenjot habis-habisan. Mulai dari tiket  murah, atraksi budaya, kuliner mentahan khas Jepang, taman bunga, Fujiyama, mandi sauna bersama tanpa busana (onzen), arak Jepang sake dan entah apa lagi. Termasuk juga di sini promosi sakura yang setengah dipaksakan.

Sakura gencar diiklankan ke mana-mana. Tidak peduli musim semi sudah mulai berakhir. Tidak peduli bunganya sudah mulai layu dan rontok. Sakura tetap saja jadi andalan promosi. Yg penting wisatawan datang. Hotel penuh. Orang Jepang yang memang dasarnya ramah kepada siapapun sekarang lebih rajin membungkuk kepada wisatawan asing sambil berucap Ohayou Gozaimazu…Arigatou Gozaimazu.

Jepang memang terkenal pandai memanfaatkan apa saja. Semua barang sepertinya jadi barang habis pakai. Hampir semua yang bisa didaur ulang tidak ada sisanya. Nyaris tidak ada sampah yang tersisa di jalan maupun di gang-gang sempit pasar tradisional. Termasuk di sini kepandaian mereka memanfaatkan rasa ingin tahu orang sedunia tentang sakura.

Bunga sakura yang sudah setengah layu berwarna kuning kecoklat-coklatan dan kusampun tetap dianggap layak jual. Tetap saja sakura layu ini bisa jadi obyek wisata yang menurut mereka masih lumayan seksi. Maka apa boleh buat. Wisatawan manca negara yang sudah terlanjur datang  jauh-jauh dengan biaya yang begitu besar dipaksa harus menikmati “bunga kertas” ini.

Tidak ada pilihan lain. Maka semua wisatawan asing terpaksa harus bisa menikmatinya. Termasuk wisatawan Indonesia. Termasuk rombongan kami. Semua rajin berfoto ria bersama di samping pohon setengah kering itu. Barangkali juga foto-foto itu tetap perlu. Untuk dijadikan bukti sudah pernah ke salah satu negeri paling maju di dunia. Negeri paling disiplin. Negeri dimana orang terbiasa mencocokkan jarum jam di tangan pakai waktu kedatangan MRT.

Bandingkan dengan flamboyant yang sekarang mulai mekar di jalan jalan di kota Kupang.
Flamboyan kita jauh lebih cantik.

Tanaman divisi Tracheophyta kelas Magnoliopsida ini dalam bahasa Yunani disebut Delonix regia. Artinya cakar yang mencolok. Keindahan bunga flamboyan yang menyerupai cakar benar benar tampil mencolok diantara tanaman lain.  Warna merah-ungu dengan sedikit kuning di lingkar dalam. Beberapa benang sari di pusat. Mekar di tengah hijau pepohonan di median jalan. Ini semua membuat flamboyan tampil luar biasa cantik.

Bunga flamboyan mulai mekar diakhir Nopember atau awal Desember, bersamaan dengan datangnya musim hujan setelah kemarau yang panjang. Bertepatan juga dengan masa adven bagi umat Kristiani.

Tanaman yang konon berasal dari Madagaskar ini tumbuh subur di daerah tropis pada ketinggian 9 sampai 15 m diatas permukaan laut. Cocok buat kota Kupang. Pohonnya lumayan besar. Dahan dan rantingnya tumbuh melebar ke samping dengan daun di ujungnya membentuk kanopi atau payung. Maka pohon ini bisa juga berfungsi sebagai pohon peneduh.

Flamboyan termasuk tanaman semi-evergreen atau setengah hijau abadi yang nyaris tidak bisa mati dimusim kemarau yang panjang ataupun ditebang. Untuk penyesuaian dimusim kemarau, demi menghemat konsumsi air dan mempertahankan eksistensinya, sebagian besar daun flamboyan akan rontok dengan sendirinya.

Dimusim hujan semua daun tumbuh hijau kembali. Tanaman ini benar-benar termasuk tanaman yang sulit mati. Jika dipotongpun, dalam tempo singkat flamboyan akan tumbuh kembali seperti sediakala.
Morfologi bunga Famboyan terdiri dari bagian-bagian yang tersusun dalam konfigurasi yang luar biasa indah. Kelopaknya dengan panjang 4–7 cm seolah membentuk mahkota tegak. Dengan warna merah, kuning, ungu, putih dan beberapa benang sari di tengah, mahkota bunga ini benar-benar nampak eksotik.

Flamboyan selalu berbunga diakhir Nopember atau diawal Desember bertepatan dengan masa adven umat Kristiani. Suasana natal kian terasa ketika kita memandang flamboyan. Apalagi diiringi lagu-lagu natal. Ditambah kantor, mal, toko, jalan-jalan yang mulai berhias diri.
Dan pohon natal di perempatan jalan.


Flamboyan bisa jadi ikon kota Kupang?

Tentu ada yang tidak sependapat. Alasannya, flamboyan bukan hanya ada di Kupang tapi juga di kota-kota lain sementara sakura hanya ada di Jepang. Siapa bilang sakura milik satu-satunya Jepang? Jika ke Tiongkok, anda bisa menjumpai banyak sakura di kota kota  seperti Shanghai, Guangzhou, Wuxi, Kun Ming dan lain lain.

Di ibukota Beijing anda juga bisa menikmati bunga sakura di Yuyuan Tan Park, Beijing Botanical Garden, Pinggu’s Peach Groves dan lain-lain yang tidak kalah bagus dibanding sakura yang ada di Jepang. Pertanyaannya kenapa sakura tetap milik Jepang? Karena sakura memang sudah terlanjur jadi milik Jepang. Karena itu mumpung belum ada kota flamboyan, mari kita jadikan flamboyan milik Kupang.

Terbayang sekali kelak seluruh median jalan dalam kota kupang dipenuhi pohon sepe. Kalau mau menikmati libur akhir tahun sambil merasakan suasana natal, Kupanglah yang akan jadi destinasi utama.
Sepe di seantero kota. Monumen Garuda Pancasila di Bolok. Taman ziarah di Oebelo. Gedung Sasando di El Tari. Gunung batu di Fatuleu. Batu warna di Kolbano. Semakin lengkap Kupang sebagai tujuan wisata. Paling tidak, ketika para pelancong mampir dalam perjalanannya ke Labuan Bajo, Kelimutu, Wae Rebo, Alor, Rote, Sabu, Sumba dan lain lain,  di Kupang waktu mereka tidak terbuang sia sia. Ada yang bisa mereka nikmati.

Karena itu mari kita tanam sepe sebanyak-banyaknya. Di halaman rumah. Di pekarangan kantor. Di kebun. Di jalan-jalan. Di mana saja.
Pertanyaannya, siapa yang mau mulai?

 

*) Penulis adalah Wakil Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT

 

Komentar ANDA?