Kyai Soleh yang Bermanfaat Bagi Ziarah Iman Saya

0
1238

SEBAGAI  seorang Katolik, harus saya akui bahwa saya sangat senang membaca dan mendengarkan pengajaran, kotbah dan dakwah para kyai soleh seperti Gus Dur, Gus Mus dan Quraish Shihab serta para kyai lainnya yang selalu mewartakan kebaikan, perdamaian dan pengajaran mereka selalu menginspirasi, menambahwa wawasan serta meneguhkan iman saya sebagai seorang Katolik.

Sebagai penganut Katolik, bagi saya pengajaran kyai soleh seperti yang saya sebutkan diatas adalah suara pengajaran Paus dan para uskup yang mendamaikan, menyejuhkan dan menguatkan. Membaca dan mendengarkan pengajaran para kyai soleh mengajak saya untuk kembali memperdalam iman saya melalui ajaran-ajaran Yesus.

Diatas segala pengajaran mereka yang menyejuhkan, mendamaikan dan meneguhkan ada satu nilai yang saya pelajari dan berusaha untuk menghidupi adalah kerendahan hati mereka. Mereka yang memiliki segudang ilmu tentang Al-Quran dan hadits Islam, yang sudah malang melintang mewartakan ajaran Nabi namun tidak pernah membanggakan ilmu atau gelar apapun dan dari universitas mana mereka belajar dan lulus.

Bahkan untuk memberikan ceramah atau kotbah kepada jemaat mereka sekalipun hampir tidak pernah ada pengumuman dengan spanduk yang menjadi sarana promosi bagi mereka. Suara mereka tak pernah keras dan bising ketika memberikan kotbah. Suara mereka lembut menyejuhkan selembut suara pengajaran nabi.

Pak kyai Quraish Shihab adalah salah satu ulama yang saya cintai dan yang banyak memberikan inspirasi bagi ziarah iman saya dengan segala pengajaran Beliau yang meneguhkan dan membuka wawasan akan hidup beragama dan beriman saya sebagai seorang penganut Katolik.

Keberagamaan itu dibawah kemanusiaan, Kemanusiaan itu mendahului keberagamaan, demikian kyai Quraish Shihab mengajarkan tidak hanya kepada para sahabat umat Islam tetapi juga untuk saya. Bahwa keberagamaan saya sebagai seorang Katolik harus sampai pada tindakan iman yang memanusiakan manusia (bdk. Orang Samaria yang murah hati, Luk 10:25-37).

Seperti Abi Quraish yang menjelaskan bahwa bekerja dan memberi manfaat kepada orang lain adalah ibadah, ibadah dari Abi Quraish juga saya alami manfaatnya melalui pengajarannya yang meneguhkan ziarah iman saya untuk menjadi ibadah bagi sesama sebagai seorang Katolik.

Bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ruangan gereja, hari Minggu serta pantang dan puasa sebagaimana yang diuraikan oleh Abi Quraish bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada masjid, sholat, puasa dan haji tetapi setiap penggunaan daya iman saya yang bermanfaat adalah ibadah menjadi percikan cahaya yang menerangi iman kekatolikan saya.

Terimakasih Abi Quraish Shihab yang telah menjadi ibadah bagi perjalanan iman saya sebagai seorang Katolik. Karena Abi sudah menerangi iman kekatolikan saya dengan sebait nasehat bijak;

“Keberagamaan itu dibawah kemanusiaan,
Kemanusiaan itu mendahului keberagamaan”
(Quraish Shihab).

Manila: 28 Februari 2020
Pater Tuan Kopong MSF

Komentar ANDA?