Lembata Bakal Mendunia Pasca Harnus 2016

0
499
Foto: Sebuah tarian yang diperagakan 250 penari saat puncak Harnus di Lewoleba, Lembata, Selasa, 13 Desember 2016 lalu

HARI NUSANTARA (HARNUS) 2016 yang berpuncak pada 13 Desember 2016 lalu sudah berakhir, tinggal cerita-cerita yang terus beredar. Kisah tentang ketidak hadiran Presiden RI, Joko Widodo dan hanya dau menteri saja yang hadir yakni Menko Kemaritiman dan Mendagri yang membuat panitia terutama panitia lokal yang  bekerja sangat keras mempersiapkan perayaan nasional itu bergumam kecewa.

Ketidak hadiran Presiden pada puncak Harnus itu memang mem uat masyarakat Lembata kecewa, namun mereka bisa menerimanya karena pasti ada tugas negara yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar hadir di Lembata untuk sebuah perayaan Harnus. Semuanya sudah berakhir dan jangan diperdebatkan lagi.

Namun suatu hal yang pasti adalah even besar itu membuat Lembata akan semakin terkenal ke seluruh penjuru dunia. Lembata telah dipromosikan melalui berbagai media sehingga Lembata yang kaya potensi ini akan semakin dikenal dan bisa dipastikan suatu saat Lembata akan menjadi incaran wisatawan dan juga pelaku-pelaku ekonomi yang ingin “menggarap” potensi Lembata yang sangat besar ini.

Penyelenggaraan Hari Nusantara 2016 yang mengangkat tema “Tata Kelola Potensi Maritim Nusantara yang Baik Menuju Poros Maritim Dunia” dengan sub-tema “Dari Lembata Nusa Tenggara Timur Membangun Potensi Maritim Nusantara” sudah nampak jelas bahwa  pemerintah pusat memiliki kemauan besar untuk membangun Lemata dari berbagai aspek terutama pariwisata karena daerah ini memiliki potensi yang sungguh besar.

Kementerian Pariwisata yang kini sedang gencar membangun sektor pariwisata di seluruh wilayan NKRI memang harus diberikan jempol, karena potensi Indonesia memang sangat besar. Setiap daerah memiliki potensi ini, hanya saja masih banyak sekali kendala yang membuat potensi ini masih tersembunyi. Dan inilah saatnya untuk diangkat untuk semakin dikenal.

“Hari Nusantara ini sebagai destinasi prioritas pembangunan infrastruktur dan promosi pariwisata NTT kita gencarkan termasuk memanfaatkan momentum Hari Nusantara tahun ini, sehingga siap membawa Lembata ke dunia internasional,” jelas Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta menjelang Harnus.

Menurutnya, kunjungan wisatawan ke NTT tahun lalu mencapai 2,8 juta, sedangkan yang berkunjung ke Kabupaten Lembata sekitar 5 ribu wisatawan termasuk 1.000 wisman yang sebagian adalah para yachter dunia.

 

Mengenal Lembata

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT juga terus mempromosikan potensi pariwisata di daerah ini. Dan jika berbicara soal destinasi wisata di NTT, tidak akan pernah selesai. NTT yang memiliiki lebih dari seribu pulau ini, semuanya memiliki keindahan alam yang memukau dan tentunya akan membuat banyak wisatawan takjub dibuatnya. Belum lagi budaya dan aneka potensi wisata lainnya.

Lembata, sebuah kabupaten yang baru resmi berpisah dari induknya Flores Timur pada tahun 1999 lalu kini sudah menjadi salah satu destinasi favorit bagi  para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Banyak daya tarik yang terdapat di pulau itu. Salah satunya adalah percikan lava yang tiada habisnya di Gunung Api Batutara, yang merupakan salah satu gunung api paling aktif di kepulauan Lembata dan budaya lefa, penangkapan ikan paus secara tradisional oleh nelayan Lamalera di Kecamatan Wulandoni, Lembata.

Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur, Marius Ardu Jelamu mengatakan Gunung Api Batutara yang berada di tengah laut itu meletus setiap 20 menit sekali yang didahului dengan gempa bumi. Dan sekarang letusannya masih terus terjadi hanya durasinya tidak seperti pertama kali terjadi.

“Setelah gempa bumi, akan keluar magma dari dalam gunung, sangat indah di malam hari. Ini salah satu keajaiban dunia. Keindahannya memang sangat luar biasa,” ujar Marius.

Biasanya, para wisatawan diajak ke tengah laut untuk melihat magma yang keluar dari gunung api. Keindahannya sangat sempurna jika disaksikan pada saat langit sudah gelap.

“Biasanya wisatawan diajak melihat gunung meletus jam 11 malam,” katanya,

Marius mengatakan, banyak wisatawan asing yang terpesona dengan luapan magma yang keluar dari perut gunung. Bahkan tidak sedikit wisatawan asing yang penasaran dan mendekat ke kaki gunung.

“Orang barat itu gila, sampai tidak puas hanya dari jarak 300 Meter, mereka merapat hingga dekat. Mereka penantang alam karena indah banget. Saya pernah mengantar mereka untuk menyaksikan letusan gunung Batu Tara itu,” ungkapnya.

Tidak hanya keindahan alam yang ditawarkan, seni budaya yang ada di Pulau Lembata juga sangat menarik, salah satunya adalah tradisi menangkap ikan paus.

“Tradisi menangkap ikan paus itu berada di Desa Lamalera dan sudah sangat terkenal. Bahkan punya branding internasional, banyak sekali wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang datang untuk lihat itu,” tuturnya.

Marius menjelaskan, berbeda dari negara-negara maju yang menangkap ikan menggunakan teknologi tinggi, di Desa Lamalera justru masih menggunakan peledang atau tombak tradisonal.

Kekuatan budaya pun masih melekat di desa itu. Para nelayan yang hendak berburu paus, sudah melewati ritual yang dianggap suci, karena resiko melaut sangat besar. Jadi hanya orang-orang “suci”  saja yang boleh berburu paus.

Uniknya, saat berlayar masyarakat itu melebarkan layarnya menandakan akan pergi berburu, sementara masyarakat lain menunggu di tepi pantai menanti hasil buruannya. Saat sudah dapat pausnya, para nelayan yang berburu paus itu akan menurunkan layarnya menandakan kepada  masyarakat di kampung bahwa mereka sudah mendapat seekor ikan.

Lembata juga memuliki sejumlah potensi wisata lainnya yang masih tersembunyi karena tidak diekspose secara meluas. Sebut saja pesta kacang di Ile Ape, potensi wisata pantai yang ada di Lembata, dan atraksi budaya lainnya

Sebuah kendala besar yang dihadapi adalah, akses menuju lokasi-lokasi wisata itu seperti di Lamalera. Jalan dari Lewoleba menuju Lamalera dalam kondisi sangat parah. Jika ingin ke Lamalera menggunakan jalur darat, orang harus ekstra hati-hati karena jalannya sangat rusak.

Barangkali,  kiat pemerintah pusat untuk membangun daerah-daerah tertinggal dalam semangat Nawacita yakni “membangun dari pinggiran” bisa terjawab dalam waktu dekat. Apalagi Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan yang mewakili presiden dalam Puncak Harnus lalu mengatakan, pemerintah pusat akan membangun bandara di Lembata dan mendukung pembangunan infrastruktur di daerah ini.

Mari kita nantikan saja, kapan janji pemerintah itu terwujud. Kita berharap janji Luhut Binsar Pandjaitan itu bisa terwujud dan tidak hanya sekedar janji belaka. (*bonne pukan)

 

 

 

Komentar ANDA?