Lembata Disapa ‘Tiap Lima Tahun?’

0
1158

Oleh:  Robert Bala

SAYA agak tersenyum melihat postingan seorang warga Lembata di tanah rantau. Ia menyapa Lembata. Kalau orang biasa yang menyapa tentu dilihat sebagai sebuah ungkapan puitis rindu. Tetapi kalau diungkapkan oleh orang yang punya keterkaitan politis maka hal itu bisa ditafsir secara sangat luas. Beberapa hari sebelumnya, orang yang sama mengadakan ‘vlog’. Di sana ia ungkapkan apa yang dilakuakn di daerah lain (bukan Lembata).

Untuk hal ini tentu wajar-wajar saja. Setiap orang bebas menggunakan media sosial, termasuk orang yang mengupdate statusnya setiap saat. Dilihat dari umur sudah dianggap ‘sepuh’, tetapi masih rajin update foto-fotonya. Kadang saya tertawa geli. Saya bertanya, apakah lebih baik ‘update hutang’ (kalau ada dan untuk orang tertentu memang saya pastikan ada?). Apakah lebih baik ‘diam-diam saja’?

Kembali kepada modal politik. Sebenarnya untuk jadi pemimpin (termasuk di Lembata) mudah-mudah saja (itu menurut saya). Mudahnya itu apa? Lakukan intervensi secara berlanjut. Sapalah Lembata selama 5 tahun secara terus menerus. Kalau ingin menyapa ‘apa kabar Lembata’ maka bisa dilakukan secara kontinyu. Jangan memberi kesan, mendekati pilkada baru kita menyapa. Itu akan terlambat karena orang Lembata juga tidak bodoh-bodoh amat.

Lembata memiliki banyak permasalahan, sama seperti daerah lain. Tetapi yang lebih penting adalah: apa yang bisa dikontribusikan untuk perbaikan situasi? Apakah dengan terus menggonggong ada solusi? Apakah dengan menaikkan status FB mengkritik memberikan solusi? Memang kita butuh orang yang selalu menggongong demi mengingatkan. Untuk hal itu patut kita jempoli. Tetapi masih ada cara lain yang lebih bijak (itu menurut saya).

Pertanyaan ini muncul karena dua hari lalu, saat wafatnya Jacob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, kalimat itu cukup kuat. Baginya, kita perlu mencerahkan, ikut ambil bagian secara positif. Kalau kritik jangan sekadar mengikuti naluri melampiaskan emosi tetapi dengan kebijaksanaan mengajukan solusi.

Bagi Jacob, kita perlu mencerahkan. Dunia (termasuk Lembata) sudah gelap, kalau kita kategorikan seperti itu. Karena itu, apakah percikan sedikit cahaya bisa kita hadirkan untuk memberikan sedikit optimisme? Apakah kita bisa menghadirkan kata-kata menyejukan demi memperbaiki situasi?

Bagi para politisi yang ingin tampil sebagai pemimpin, jangan lupa, model komunikasi selama lima tahun sangat penting (bukan komunikasi lima tahunan). Mulailah dengan berbuat sesuatu meski sekecil apapun. Berikan ide-ide yang langsung diwujudkan.

Kalau ada ide pertanian yang handal, jadikan areal persawahan (misalnya Waikomo) sebagai uji coba. Berikan buktinya dan hal itu akan bercerita. Apa yang dibuat secara kecil selama lima tahun akan ‘bersuara’ memuluskan seseorang untuk tampil sebagai pemimpin.

Kalau ada ide dalam bidang pendidikan, kebudayaan, sosial, lakukan itu. Tetapi yang paling penting, lakukan sesuatu secara alamiah. Taburlah secara iklhas tanpa upaya memanipulasi untuk tujuan tertentu. Bahwa kemudian dimaknai orang dan menjadi modal politik, tidak salah juga. Tetapi itu berarti orang lain yang melihat prestasi itu bukan kita memaksakan diri sendiri.

Hal ini akan menjadi lebih baik kalau memadukan ide dalam sebuah kolaborasi. Jaringan internet terutama media sosial telah menjadi sarana untuk menyatukan ide demi menawarkan solusi. Bila dilakukan dalam kolaborasi maka masalah yang pelik dan rumit akan menjadi sebuah solusi.

Saya terkesan dengan kesepakatan para ahli dalam bidangnya di Santa Fe pada tahun 1986. Para ahli ekonomi, mikrobiologi, sosiologi, paleontologi, fisika, berkumpul di sana dan menyibak rahasia untuk sebuauh keberhasilan. Bagi mereka, dunia ini menjadi begitu kompleks. Bila kita lihat dari luar maka terdapat jaringan yang rumit seakan tidak ada solusi.

Terhadpa masalah itu maka tidak ada pilihan selain berkolaborasi secara interdisipliner. Artinya, setiap orang dari latar belakang berbeda perlu bekerjasama untuk mengurai benang kusut yang ada dalam masyarakat. Inilah jawaban terhadap kompleksitas.

Hal yang sama mestinya terjadi di Lembata. Masing-masing orang dari berbagai disiplin ilmu dapat bekerjasama, keluar dari egoisme sektoral untuk menawarkan sebuah solusi Bersama. Yang paling penting, kolaborasi yang dimaksud perlu didasarkan pada nilai yang selanjutnya dijiwai oleh setiap orang yang ingin bergabung.

Nilai seperti: Kejujuran, Komitmen, Kepedulian, Kontribusi, dan Kolaborasi misalnya menjadi sangat penting. Barangkali ada organisasi yang sudah terbukti mewujudkan nilai-nilai itu hal mana patut kita saluti. Kita mengharapkan lebih banyak organisasi yang mewujudkannya karena merupakan nilai-nilai menentukan tidak saja bagi organisasi tetapi menjadi sebuah modal untuk masyarakat yang lebih luas.

Saya yakin, ke depan, dalam hal politik, masyarakat lebih melihat bukti karya dan nilai yang mendasarinya sebagai acuan mereka dalam memilih pemimpin. Pemimpin yang dikupas, dikuliti, diteliti berdasarkan apa yang menjadi dasar nilai yang diyakini dan bukti kerja yang sudah ditunjukkan.

Bisa saja dalam hal politik, masyarakat akan merasa bosan dengan terlalu banyak pamer diri politisi yang kelihatan akrab, santun, proaktif, tetapi hanya ditunjukkan setiap lima tahunan. Masyarakat tahu bahwa yang akan menentukan adalah hal kecil yang sudah ditunjukkan dan bukan sapaan kosong, ungkapan bombastis yang diucapkan setiap lima tahun sekali.

Bagi politisi sendiri juga mesti tahu bahwa biasaya untuk mempromosikan diri menjelang pilkada seperti itu juga mahal sekali (dan belum tentu juga terpilih). Lalu untuk apa mengeluarkan dana yang besar untuk kampanye dengan hasil yang sudah terbukti bahwa tidak efektif?

Saya juga kira ke depan orang Lembata yang kian pintar akhirnya mencari orang yang tidak mau jadi pemimpin. Mereka akan memaksakan orang yang tidak mau jadi bupati atau wakil bupati. Mereka sudah bosan dengan oarng yang ‘menjual diri’ tetapi belum (tidak memberikan bukti) kepada masyarakat.

Semuanya hanya menjadi masukan agar kalau ingin menyapa Lembata, sapalah setiap hari, selama 5 tahun, dan bukan lima tahunan.

=====

Penulis adalah warga Lembata tinggal di Jakarta 

Komentar ANDA?