Logika Terbalik (Menyimak SD 1 Tarcicius Lembata)

0
388

Oleh: Robert Bala

Pengalihan sebuah sekolah dari Yayasan yang satu ke Yayasan yang lain mestinya ‘adem-adem saja’. Karena itu peralihan SD Tarcicius Lembata dari Yapenduklem ke Yayasan Bintang Samudera mestinya tidak perlu diributkan (apalagi diperebutkan).

Pada sisi lain, kaum awam yang tergaung dalam Komite pun tidak usah berlebihan. Bila yang mengelola adalah para suster, bukankah mestinya disyukuri?

Tetapi membaca komentar di medsos (yang tentu tidak perlu dipercayai semuanya), kita yang dari jauh ikut bertanya malah ragu-ragu hingga meragukan keputusan yang ada: Logika apa yang ada di baliknya sehingga Uskup Larantuka pada 14 Juli 2022, menyerahkan sekolah yang berakreditasi A kepada kongregasi CB?

Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja ada pada pihak keuskupan Larantuka. Ia (keuskupan) menjadi pemilik dan kalau ia serahkan ke pihak lain ‘emang ada masalah buat lho?’ Lebih lagi yang protes ‘hanyalah awam’ yang secara hirarkis berada di piramide terendah, terbawah, atau dalam istilah orang Lembata “di bawah lere-lere?”

Jelasnya, Uskup (dan jajarannya) tentu saja punya peritmbangan. Dengan jelas hal itu diungkapkan Frans Kopong Kung bahwa penyerahan itu untuk semakin menigkatkan kualitas sekolah katolik (Pos Kupang 16/7). Hal itu pula menguatkan apa yang pernah diungkapkan saat pelantikan pengurus Yapenduklem 3 bulan sebelumnya. Singkatnya, Kopong Kung sangat mengharapkan perbaikan dan peningkatan.

Yang jadi pertanyaan: mengapa SD 1 Tarsisius yang menjadi ‘bidikan’ untuk peningkatan kualitas, padahal ia sudah berakreditasi A? Mengapa bukan sekolah lain di Lembata yang ‘mati segan mati tak mau’ yang dibenahi?

Rangkaian pertanyaan ini seperti inilah yang barangkali membuat ‘awam’ merasa heran, mungkin juga galau. Seakan partisipasi mereka dilihat sebelah mata (bahkan sama sekali tidak dilihat alias buta karena seluruh mata justru tidak difungsikan).

Tetapi para awam juga harus tahu diri. Akhirnya ia terpaksa terima karena masih cukup ‘jinak’ dengan gereja. Tetapi luka seperti ini kalau terakumulasi, tentu menjadi preseden tak sehat, hal mana patut disayangkan.

Kolegial – Partisipatif

Bukan maksud tulisan ini untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Apalagi keputusan sudah diambil: Roma locuta, finita est (Roma sudah memutuskan, kasus selesai). Memang demkian.

Demikian juga tulisan ini tidak bermaksud mengakumulasi aneka kecurigaan yang namanya curiga tidak akan selesai. Tulisan ini hanya mau meneropong problematika ini dari sisi gereja partisipatif-kolegial yang merupakan roh dari Konsili Vatikan II (yang harusnya lebih dipahami oleh Uskup dan jarjaannya).

Sejak saat itu, ‘communio’ (persatuan) menjadi kata kunci untuk melakukan pembaharuan gereja (aggiornamento). Dengan model ini maka pertumbuhan dan perkembangan gereja tidak lagi hanya berada pada hirarki, tetapi kerjasama hirarki dengan umat beriman. Kaum beriman yang oleh pembabtisan dipanggil menjadi anggota yang hidup, menyumbangkan segala tenaga untuk perkembangan gereja (LG 33).

Dalam kaca mata ini (yang seharusnya dijadikan pijakan keputusan dan bukan yang lain), maka partisipasi awam sudah tepat. Mereka secara bersama-sama merancang sekolah hingga menjadi seperti yang sekarang. Darah dan keringat mereka sudah mengantar sekolah seperti sekarang. Sebuah dedikasi yang dilaksanakan hanya demi mengekspresikan partisipasi mereka sebagai awam (meski mereka barangkali tidak paham itu ‘communio’ dan ‘aggiornamento’ seperti Uskup dan jajarannya.

Tapi terus bertanya seperti ini rasanya tidak ada manfaatnya karena segala keputusan telah final. Karena itu saya hanya mau mengakhiri tulisan ini dengan sebuah lukisan di sebuah gereja di Amerika Selatan.

Di dalam gereja itu digambarkan kehadiran misionaris awal saat datang ke sebuah tempat. Terlihat di kapal itu ada para misionaris (pastor, bruder, suster) hal mana terlihat dari pakaian kebiaraan dan salib besar.

Di gambar yang sama terdapat jajaran umat yang menunggu di pinggir pantai. Yang menarik, justru Yesus berdiri bersama di antara umat menunggu di pinggir pantai.

Lalu di manakah Yesus dalam keputusan ini? Apakah bersama para Uskup dan imam di dalam ‘perahu hirarki’ atau bersama umat di pantai menanti? Memang klaim kerap lebih menyangka Yesus ada di perahu yang oleh banyak orang semakin disadari sebagai logika terbalik. Yesus ada di sana menunggu.

========

Robert Bala. Penulis buku Cara Mengajar Kreatif Pembelajaran Jarak Jauh (Grasindo, 2021).

Komentar ANDA?