LSI sebut Luhut Bisa Bawa Golkar Menang Pemilu 2019

0
176
Foto: Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan.

NTTsatu.com – Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ardian Sopa menilai politisi Golkar yang memiliki elektabilitas yang paling tinggi dibandingkan dengan kader lainnya adalah Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan.

“Dia (Luhut) masih di bawah lima persen. Kalau dibandingkan elektabilitas paling tinggi itu masih dimiliki Presiden Joko Widodo (Jokowi) 45 persen dan Prabowo di angka 20 persen,” ujar Ardian di kantor LSI Jalan Pemuda Rawamangun Jakarta Timur, Rabu (18/5).

Dia mengakui Luhut memang memiliki potensi membawa Golkar menang di Pemilu 2019. Hal tersebut dikarenakan Luhut sekarang ini telah mengakomodir program Pemerintahan Joko Widodo.

“Luhut itu sosok branding baru di Partai Golkar. Jadi dia dinilai sosok paling potensial membawa Golkar menjadi pemenang Pemilu capres ke depannya,” ucap dia.

Sebelumnya Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menilai Partai Golkar memerlukan ‘branding’ baru di tengah kepemimpinan baru Setya Novanto. Maksudnya, partai beringin tersebut harus memiliki gagasan atau program baru yang segar dan menjanjikan rakyat.

“Golkar tak hanya melakukan pergantian ketua umum dan kepengurusan saja. Golkar perlu branding baru, roh baru, strategi baru yang lebih besar ketimbang pergantian kepengurusan biasa,” kata peneliti LSI Ardian Sopa, di Gedung LSI Jalan Pemuda Rawamangun Jakarta Timur, Rabu (18/5).

Menurut dia, Golkar sekarang ini bukan hanya sekedar kepada kepengurusan baru atau ‘repositioning’ di pemerintahan saja, tetapi branding baru juga sangat diperlukan.

“Ini lebih kepada kepengurusan Golkar yang sekarang ini, mulailah dengan membuat gagasan baru yang bisa ditawarkan kepada publik. Publik itu penting karena dari merekalah akan menentukan keberlangsungan partai yang ada di Indonesia,” kata dia.

Dari penelitian LSI, ada sekitar 64,5 persen publik yang menyatakan Golkar perlu branding baru untuk dapat berjaya kembali.

“Branding baru ini yang berarti image publik terhadap Golkar. Kemarin itukan masyarakat menilai Golkar ini tempatnya orang konflik semua atau penilaiannya bahwa pragmatisme-nya tinggi, serta di mata orang kan Golkar disebut mata duitan. Rebranding ini terhadap hal hal itu. Hal- hal baru itulah yang harus dirumuskan oleh pengurus yang sekarang,” tutupnya. (merdeka.com)

Komentar ANDA?