Lusia Lebu Raya: Orang Desa Perlu Ditolong

0
176

“MENGUBAH mindset masyarakat pedesaan bukan pekerjaan mudah. Tetapi bagaimanapun juga harus dilaksanakan secara terus menerus. Kegiatan sosialisasi terus ditingkatkan baik dari segi kualitas juga kuantitas karena tidak bisa kita harapkan hasil dari sekali atau dua kali kegiatan sosialisasi. Selain sosialisasi, juga harus diikuti dengan aneka kegiatan nyata agar mereka tertarik dan mau berpartisipasi secara penuh,” kata Lusia Adinda Lebu Raya.

TERLAHIR di kota tepatnya di Denpasar, Bali, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya sama sekali belum mengetahui denyut nadi kehidupan masyarakat pedesaan yang ada di NTT derah asalnya. Dia sama sekali tidak membayangkan kalau kehidupan orang-orang di desa masih terlilit dengan kehidupan yang serba sulit dan boleh dikatakan kehidupan dalam kubangan kemiskinan.
Pasca menikah dengan Frans Lebu Raya yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD NTT tahun 1999 lalu, Lusia akhirnya kembali ke Kupang mengikuti suaminya. Bersama suaminya, kemudian mereka membentuk Forum Gema Perjuangan Sarinah yang merupakan under bow dari PDI Perjuangan. Dia dipercayakan menjadi ketua Forum itu hingga saat ini.
Sejak itu dia berkeliling ke seluruh wilayah provinsi NTT daerah asalnya. Betapa terkejutnya ketika menyaksikan kehidupan asli masyarakat pedesaan di seluruh NTT. Mayoritas masyarakat pedesaan masih hidup dibawah garis kemiskinan.
“Saya tidak membayangkan kehidupan masyarakat NTT terutama masyarakat di pedesaan seperti itu. Mereka makan seadanya, pakaian seadanya dan rumah juga seadanya. Karena itu kita bertekad untuk perlahan-lahan sesuai dengan kemampuan yang ada untuk menolong mereka tentu dengan skala prioritas tertentu,” kata Lusia Adinda Lebu Raya di sela-sela kegiatan Jambore Kader Posyandu dan Kader PKK tingkat provinsi NTT tahun 2014 di Kupang, Jumat 8 Agustus 2014 lalu.
Ketika suaminya menjadi wakil Gubernur NTT bersama gubernurnya Piet Alexander Tallo (Almarhum), Lusia akhirnya menjadi wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT. Kesempatan untuk berkeliling seluruh NTT semakin terbuka. Kemudian sejak 2008 Frans Lebu Raya menjabat Gubernur NTT, Lusia kemudian naik tingkat menjadi ketua TP PKK Provinsi NTT dan kesempatan untuk berkeliling ke desa-desa sambil berbuat baik terus ditingkatkan.
Hingga suaminya menjabat Gubernur NTT periode kedua (20013-2018), Lusia mengaku sudah mengelilingi seluruh wilayah NTT dan sudah menyinggahi sekitar 80-an persen desa-desa yang ada di NTT.
Dia dating dari desa ke desa bersama tim penggerak PKK dari Provinsi dan kabupaten untuk melihat dari dekat denyut kehidupan masyarakat desa. Dia berdialog dengan mereka dan mendapatkan banyak input yang kemudian disampaikannya kepada pemerintah untuk bisa memperhatikan dalam berbagai program pembangunan.
Berbagai masukan yang disampakan TP PKK provinsi itu dengan kondisi riil masyarakat di pedesaan, makah lahirnya program pemerintah provinsi NTT yang dikenal dengan nama Gerakan Desa Mandiri Anggur Merah (Anggaran untuk rakyat menuju sejahtera (Anggur Merah).
Berbagai ketimpangan yang terjadi di daerah-daerah diakui Lusia sebagai momok yang perlu mendapatkan perhatian yang serius dan secepatnya agar tidak mengakibatkan hal-hal ikutan lainnya yang akhirnya menyengsarakan masyarakat pedesaan.
Masalah yang ditemui Lusia bersama pasukannya PKK Provinsi ketika berkunjung ke daerah-daerah adalah masih rendahnya pendidikan kaum wanita di daerah pedesaan. Hal ini karena ada anggapan yang sangat keliru dari orang-orang kampong bahwa untuk apa sekolahkan anak tinggi-tinggi, tetapi pada akhirnya mereka kembali mengurus dapur rumah tangga. Pemikiran “kolot: seperti itu yang harus dibasmi dari pemikiran orang-orang kampung.
Tampilnya PKK dengan merekrut para kader PKK hingga di tingkat desa sebenarnya bermula dari keprihatinan seperti itu. Karena itu PKK sebagai ujung tombak dalam merubah mindset (pola pikir) masyarakat desa. Bahwa jaman sekarang wanita juga sudah sangat diperhitungkan dalam berbagai sektor.
“Mengubah mindset masyarakat pedesaan bukan pekerjaan mudah. Tetapi bagaimanapun juga harus dilaksanakan secara terus menerus. Kegiatan sosialisasi terus ditingkatkan baik dari segi kualitas juga kuantitas karena tidak bisa kita harapkan hasil dari sekali atau dua kali kegiatan sosialisasi. Selain sosialisasi, juga harus diikuti dengan aneka kegiatan nyata agar mereka tertarik dan mau berpartisipasi secara penuh,” kata Lusia Adinda Lebu Raya.
Provinsi NTT memiliki berkagai potensi yang jika dikembangkan dengan baik akan sangat mendatangkan manfaat besar. Sebut saja bahan pangan lokal dan kegiatan perempuan berupa tenun ikat.
Terkait pangan lokal, Lusia menuturkan suatu ketika saat berada di Denpasar, dia sempat menikmati hidangan pisang goreng yang sangat gurih. Ketika dia bertanya kepada pelayan di restoran itu tentang asal pisang, pelayan menyebutkan kalau pisang itu berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat.
“Saya init tahu persis cita rasa pisang asal Flores dan Sumba. Pisang yang diakui pelayan restoran itu berasal dari Bima, bagi saja bukan dari Bima tetapi dari Flores atau dari Sumba yang masuk ke Bima kemudian Bima menjualnya ke Bali dan dikenal sebagai pisang dari Bima,” kata Lusia.
Kemudian pangan lokal lainnya dari Flores Timur dan Lembata yakni jagung titi. Otensi pangan local seperti pisang dan jagung itu sangat besar namun pengelolaannya masih sangat terbatas karena terbentur juga pada sumber daya manusia juga karena modal usaha untuk mengembangkan potensi pangan lokal itu dengan baik sesuai permintaan dan kemauan pasar.
Lusia mengakui, PKK sudah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk melatih kaum ibu terutama dalam soal bagaiaman mengemas pangan lokal itu sehingga mempunyai daya tarik yang baik.
“Kalau jagung titi misalnya dikemas dalam plastik yang ujungnya dibakar pakai lilin, tentu penampilannya sangat tidak menarik dan orang akan meragukan tingkat higienisnya. Karena itu kerjasama yang kami bangun dengan Dinas Perindak adalah membantu teknik, proses dan bahan pengaman plastic sebagai kemasan pangan lokal tersebut,” katanya.
Terkait uaha tenun ikat, Lusia juga mencoba mengkritisinya dengan pemikiran yang jernih. Tenun ikat yang dilakukan oleh kaum perempuan di seluruh NTT pada awalnya hanya merupakan pekerjaan sambulan bukan sebagai salah satu mata pencaharian. Karena itu mereka melakukannya dengan asal jadi, juga lebih karena adanya tuntutan adat istiadat.
“Misalnya di Adonara, perempuan yang melakukan kegiatan tenun ikat itu jika ada waktu luang, karena pekerjaan itu bukan pekerjaan pokok. Pekerjaan pokok mereka adalah bertani. Kaum perempuan menenun jika ada pesanan orang atau lebih karena tuntutan adat. Ini yang menjadi pergumulan kami selama ini,” katanya.
Keprihatinan inilah yang mendorong PKK Provinsi NTT untuk memberikan pengertian kepada kaum perempuan bahwa, pekerjaan tenun ikat harus menjadi pekerjaan pokok yang bisa membantu menghidupi keluarga. Selama ini upaya Lusia bersama pasukannya akhirnya berhasil mengumpulkan sedikitnya 52,000 pengrajin yan tersebar di seluruh wilayah NTT. Hasil tenun ikat kelompok ini sudah dipamerkan di berbagai negara dengan mendapat sambutan yang sangat besar.
Kemudian bagaimana agar usaha mereka ini harus berkembang. PKK kemudian mendiskusikan dengan pemerintah provinsi NTT dan juga di tingkat Kabupaten/ Kota untuk membantu menghidupi kelompok pengrajina itu. Maka muncullah kebijakan pemerintah provinsi kemudian diikuti dengan kebijakan Bupati dan walikota se-NTT untuk mewajibkan semua Pegawai Negeri Sipil mengenakan busana tenun ikat khas NTT seselama dua hari dalam sepekan yakni hari Rabu dan hari Kamis.
“Kebijakan ini secara langsung maupun tidak langsung sudah membantu kaum pengrajin tenun ikuat di derah ini. Coba bayangkan, ribuan PNS di seluruh NTT mengenakan busana tenun ikat khas NTT berarti ratus ribu lembaran kai tenutn ikat yang dibeli dari para pengarajin itu,” katanya.
Lusia juga berkisah tentang bagaimana upayanya bersama PKK Provinsi NTT agar para pengrajin tenun ikat itu meningkatkan kualitas hasil tenunannya, buka asal jadi adalah dengan menghadirkan Koperasi Benang.
Koperasi benang yang sudah hadir di Kupang sejak tiga tahun terakhir ini adalah untuk memasok benang berkualitas dengan harga yang relative mura. Tujuan kehadiran koperasi benang ini adalah untuk memberikan kemudahan bagi para pengrajin tenun ikat agar mereka dapat dengan mudah mendapatkan benang berkualitas namun harganya relatif murah dari benang-benang pada umumnya yang dijual di pasaran-pasaran bebas. (Bonne Pukan/floresbangkit.com…….. bersambung)

Komentar ANDA?