Magar Menggugat

0
257
Foto: Even Edomeko, Kabag Humas Setda Kabupaten Sikka

*) Oleh: Even Edomeko

“PEMERINTAH menghimbau kami untuk makan makanan lokal. Misalnya saat acara Hari Pangan Sedunia di Lapangan Kota Baru Maumere belum lama ini. Lalu Dinas Kesehatan & PKK ajarkan kami untuk konsumsi makanan secara 3B: bergizi, berimbang, bervariasi. Misalnya dalam program Germas & 10 Program Pokok PKK. Tapi, waktu kami makan makanan lokal kami yaitu magar, kenapa orang ribut?,” Begitu kata Emanuel Nong, tokoh masyarakat Desa Natarmage.

Saya terkejut. Tak tahu hendak menjawab apa. Lalu pria 54 tahun itu melanjutkan, “Kami tahu cara olah yang benar. Kami tahu resikonya jika keliru olah, yakni mabuk. Tapi kami juga tahu obatnya jika mabuk. Nenek moyang kami memakannya, sejak kecil kami makan ini barang, dan sekarang anak-anak saya memakannya. Tidak ada yang mati. Justru anak-anak jadi sehat dan gemuk”.

Desa Natarmage, seperti wilayah kebudayaan Tana Ai lainnya, belum lama mengenal system pertanian modern. Pada tahun 60-an, Pater Heinrich Bollen SVD mengenalkan tanaman kakao & cengkeh di Watublapi dan sekitarnya.

Untuk Tana Ai, pertanian modern baru diperkenalkan pada 80-an oleh anak angkat Pater Bollen, yakni Rafael Raga, sarjana pertanian Unika Widya Karya Malang, melalui LSM Bangwita (Yayasan Pengembangan Wilayah Tana Ai). Tahun 1998, saya bergabung dengan LSM ini, dan sempat mengunjungi Natarmage.

Kala itu masyarakat masih akrab dengan system ladang berpindah. Sulit juga meyakinkan mereka akan pentingnya kebun permanen, terasering, dan bertani dengan sistem terbarukan. Namun sulit bukan berarti mustahil. Biar lamban, selalu ada kemajuan. Targetnya stok makanan selalu ada. Meski begitu, magar tetap menjadi makanan kerinduan.

Magar sesungguhnya bukan monopoli orang Tana Ai. Tanaman dengan nama Latin Dioscorea Hispida, dari family Dioscoreaceae itu juga dikonsumsi di banyak daerah NTT dan bahkan seluruh dunia. Di samping mengandung racun yang bisa diatasi lewat teknik pengolahan yang benar, magar juga mengandung nutrisi, gizi, dan bermanfaat banyak bagi kehidupan manusia.

Ada sumber yg justru menulis bahwa ubi hutan ini adalah makanan pokok di NTT Di Natarmage sendiri, bagi beberapa orang tua, pergi cari magar di hutan adalah bagian dari adat agar hujan segera turun dan tanaman segera berbuah.

“Itu sebabnya kami bikin adat dulu baru masuk hutan cari magar,” timpal Pak Gabriel Manek, kepala suku Soge.

“Jadi , Pak, daripada ribut karena tradisi kami ini, mungkin lebih baik kalau bapak mereka kirim ahli-ahli gizi untuk pelajari magar ini, agar bisa menjadi makanan alternatif yang bernilai ekonomis. Misalnya bagaimana dibikin keripik,” katanya.

Saya tersenyum, dan mulai mampu bicara. “Oktober ini, para mama PKK Kabupaten Sikka akan berangkat ke Pontianak untuk ikut LOMBA MASAK MAKANAN TRADISIONAL TINGKAT NASIONAL. Mereka menang di tingkat Provinsi NTT, sehingga dikirim ke tingkat nasional… Saya akan minta para beliau untuk mencoba mengolah magar ini, sehingga publik tahu kalau magar merupakan makanan tadisional yang kalay akan nutrisi dan lain sebagainya.

*) Penulis adalah Kabag Humas Setda Kabupaten Sikka, tinggal di Maumere

Komentar ANDA?