Makna dan Implikasi Diksi dalam Komunikasi 

0
131

Oleh : Hanna Suteja, S.Pd., M. Hum.

Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat digunakan sebagai komoditas politik (Fairclough, 2001) untuk tujuan politik tertentu. Oleh karena itu, demi mencapai tujuan tersebut bahasa juga seringkali digunakan untuk menyebarkan kebohongan, intoleransi, dan kebencian yang berpotensi menyebabkan polarisasi dan kegaduhan dalam masyarakat. Hal ini sudah terjadi pada pemilihan presiden pada tahun 2019 dengan dipopulerkannya sebutan  kadrun, kaum sumbu pendek, cebong yang menjadi jargon politik yang tidak asing di kalangan masyarakat pada waktu itu. Penggunaan label kadrun untuk kelompok kanan semakin popular waktu pemilihan gubernur DKI Jakarta yang sarat dengan politik identitas dan bahkan masih digunakan sampai sekarang pada kelompok yang sama.  Hal ini menjadi indikasi kuat polarisasi dalam masyarakat berdasarkan kelompok pendukung sosok politik tertentu pada waktu itu dan masih relevan sampai saat ini.  

Pemilu baru akan digelar pada Februari 2024, tetapi geliatnya sudah mulai terasa di kalangan politisi dan masyarakat. Para petinggi partai sudah mulai melakukan lobi-lobi dengan partai lain untuk kemungkinan berkoalisi demi mendulang suara calon pemilih di Pemilu mendatang. Para pendukung bakal calon presiden juga mulai bergerak untuk menyuarakan dukungan maupun kritik untuk kepentingan kelompok mereka. Baru-baru ini  telah terjadi keriuhan atas pidato Rocky Gerung yang disampaikan dalam Seminar dan Konsolidasi Akbar Aliansi Aksi Sejuta Buruh (AASB) pada 29 Juli 2023 di Islamic Center, Kota Bekasi. Menurut Rocky Presiden Jokowi adalah seorang  bajingan tolol  yang tidak memikirkan rakyat (baca: buruh) demi mempertahankan legasinya atas proyek IKN dan penggantinya nanti. Hal ini sontak membuat para pendukung  Jokowi di berbagai daerah dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan bereaksi keras atas ucapan yang dianggap sebagai penghinaan terhadap Presiden Jokowi dan melaporkannya ke pihak yang berwajib. Seperti diketahui umum Rocky Gerung adalah sosok yang cukup dekat dengan bakal calon presiden Prabowo. Jadi, bisa saja ucapan Rocky Gerung ini  dimaknai sebagai serangan terhadap Jokowi yang mendukung bakal calon presiden Ganjar Pranowo yang bakal maju melawan Prabowo.

Beberapa hari terakhir banyak sekali komentar, ulasan, dan analisis dari berbagai politisi dan pakar di bidang politik, komunikasi, linguistik mengenai ujaran Rocky Gerung yang kontroversial tersebut di berbagai sosial media dan kanal YouTube. Pada umumnya, banyak kalangan menanggapi secara negatif pilihan diksi yang digunakan Rocky Gerung terhadap Presiden Jokowi. Namun, yang menarik adalah respons Rocky Gerung terhadap kritik atas ucapannya dalam pidato tersebut yang dianggap menghina Jokowi. Namun, Rocky menyanggah telah melakukan kekerasan narasi.

Rocky mencoba beragumentasi dengan menjelaskan bahwa kata bajingan itu tidak selalu berarti negatif. Dalam forum politik tidak jarang orang menggunakan diksi yang sarkastik dan provokatif agar efektif dalam menyampaikan pesannya. Rocky dalam argumennya mencontohkan bahwa bajingan adalah sebuah kata yang juga memiliki arti dan konotasi positif, misalnya, pada zaman Kerajaan Mataram bajingan adalah sebutan untuk seorang kusir dokar/gerobak sapi  yang mengangkut bahan makanan. Pada masa itu penjajah Belanda selalu mencari pejuang-pejuang kemerdekaan dan pembawa gerobak ini dianggap sebagai orang yang membawa berkat karena menyembunyikan para pejuang kemerdekaan tersebut agar tidak ditangkap Belanda. Tentu saja penjelasan ini sulit ditarik benang merahnya mengingat konteks ujaran Rocky pada waktu dan kepada siapa diksi tersebut dimaksudkan sangat jauh berbeda.  Demikian juga jika kata bajingan  kadang-kadang digunakan sebagai candaan dengan orang dekat, hal ini tentu tidak dapat disamakan dengan konteks pertemuan dalam sebuah forum politik. Siapa Rocky sebagai pembicara dan siapa pendengarnya dalam forum ini tentu tidak memaknai kata bajingan dalam konotasi yang positif. 

Demikian juga jika kita melihat kombinasi kata yang digunakan dalam pidato tersebut yaitu bajingan tolol tentu orang pasti memaknainya secara negatif. Kata tolol sendiri sudah berkonotasi negatif; jadi agak tidak masuk akal kalau kombinasi kedua kata tersebut berkonotasi positif. Definisi  kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring untuk bajingan yang berarti penjahat, pencopet, kurang ajar (kata makian) nampaknya lebih sesuai untuk memaknai ujaran Rocky tersebut.  Tentunya Rocky Gerung bukan tidak menyadari implikasi pemilihan diksi tersebut mengingat dia diundang oleh Konfederasi Buruh yang jelas menentang pemerintah soal Omnibus Law yang dianggap merugikan buruh.

Konteks saat itu adalah mereka sedang melakukan konsolidasi untuk mengadakan demonstrasi akbar pada 10 Agustus nanti. Di depan forum Rocky sendiri dengan tegas menginginkan agar demonstrasi tersebut dapat memacetkan jalan tol daripada memacetkan jalan pikiran. Pernyataan ini disambut dengan tepukan tangan oleh para buruh pendengarnya yang berarti tujuan komunikasinya efektif dengan adanya respon positif para buruh yang menghendaki gerakan menentang kekuasaan pemerintah. Ini mengonfirmasi  apa yang dikatakan oleh Bordieau,seorang ahli filsafat dan sosial Perancis, bahwa bahasa  tidaklah netral karena bahasa dapat digunakan sebagai alat kekuasaan untuk kepentingan tertentu.  Dalam hal ini pidato Rocky Gerung jelas sekali sangat sarat dengan pesan politik dengan menggunakan diksi yang bernada sarkastik dan provokatif.

Bahasa sebagai alat komunikasi politik dapat digunakan  untuk menyebarkan ideologi, propaganda, dan pencitraan. Bahasa tidak hanya dibaca dan dimaknai berdasarkan kata-kata, struktur kalimat dan gramatikanya saja, tetapi pesan yang ingin dikomunikasikan adalah inti komunikasi politik. Pemilihan diksi dengan gaya bahasa ironi, sarkasme, eufimisme, dan hiperbola perlu dicermati, karena itu adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan. Di antara pro dan kontra atas ujaran Rocky Gerung apakah ujarannya menghina Jokowi  dalam kapasistas dan fungsinya sebagai presiden atau  sebagai pribadi haruslah dianalisis secara cermat dan objektif dengan kaidah keilmuan yang sesuai. Walaupun Rocky sudah menyanggah bahwa dia tidak memiliki dendam pribadi terhadap Presiden Jokowi dan bahkan mengaku berteman dengan Gibran, anak Jokowi, peristiwa ujaran Rocky tentu tidak dapat disederhanakan dan diselesaikan dengan permintaan maafnya di depan publik. 

Tanggapan Presiden Jokowi  atas ujaran Rocky dalam pidatonya yang kontroversial hanya dianggap sebagai hal kecil dan Beliau hanya mengatakan “saya kerja saja.” Pemilihan diksi hal kecil dan saya kerja saja juga dapat dimaknai secara politis. Jokowi sedang menunjukkan siapa dirinya dalam kapasitasnya sebagai seorang presiden yang tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk melakukan kekerasan narasi terhadap pihak yang berseberangan pandangan dengan kebijakan pemerintah. Dengan perkataannya Jokowi ingin memperkuat citra dirinya  sebagai presiden yang hanya ingin fokus bekerja untuk kepentingan NKRI dan mengenyampingkan riak-riak protes terhadap diri dan pemerintahannya.  

Dalam kasus ujaran Rocky Gerung kita dapat melihat pentingnya peranan pemilihan diksi  dan implikasinya dalam berkomunikasi untuk mencapai tujuan tertentu. Mengingat pemilihan umum sudah mendekat marilah semua pihak bijaksana dalam menggunakan diksi di ruang publik agar tidak terjadi kegaduhan di tengah masyarakat sehingga pemilu  Februari 2024 nanti dapat diselenggarakan dalam kondisi yang kondusif.

=======

Penulis adalah Dosen Bahasa Inggris Universitas Pelita Harapan

Komentar ANDA?