Medah Pindah Partai Bukti Bahwa DPP Memiliki “Agenda Senyap”

0
186
Foto: Urbanus Ola Hurek, Dosen pada Fisip Unwira Kupang dan juga kandidat doktor Ilmu Politik Pemerintahan ada Unpad Bandung

NTTsatu.com – KUPANGPengamat Politik Unika Widya Mandira, Urbanus Ola Hurek menilai, pindahnya Ibrahim Agustinus Medah dari Partai Golkar ke Hanura sudah menunjukkan kalau DPP Partai Golkar  memiliki “agenda senyap”.

“Saya menilai rupanya Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar memiliki “agenda senyap yang tidak diketahui dan kurang diantisipasi oleh kader di daerah. Kader di daerah merasa ditelikungi sehingga memilih pidah ke partai lain. Dan apa yang dilakukan mantan Ketua DPD Partai Golkar NTT, pak Iban Medah itu bisa jadi karena hal itu,” kata Urbanus yang dihubungi NTTsatu.com, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Kandidat Doktor Ilmu Poitik Pemerintahan di Universitas Padjadjawan (Unpad) Bandung ini menjelaskan, kepindahan Medah ke Hanura pertama terkait problem internal partai terutama komunikasi dan sinkronisasi. Ketika kader di daerah yang telah matang dan siap bertarung dalam gelanggang  politik lokal tetapi tidak  sinkron kepentingan dengan pengurus pada level DPP maka jadinya seperti ini.

“Beda kepentingan ini yang memicuh kader di daerah menjadi apatis bahkan flontal berpindah ke parpol lain,” kata dosen Fisipol Uniwira Kupang ini.

Hal initernal lainnya kata Ubranus, adalah macet saluran komunikasi organisasi terkait agenda strategis partai. Agenda strategis partai mesti jelas diutarakan kepada pengurus dan simpul partai sehingga sejalan antara pusat dan darah. Misalnya agenda strategis terkait dengan kaderisasi diutarakan terang dalam grand strategi supaya jadi komitmen bersama.

Urbanus mengatakan, aspek momentum politik juga berpegaruh atau menjadi godaan bagi kader untuk beralih atau loncat ke parpol lain. Fenomena ini terkait dengan peluang yang ingin diraih politisi.

“Biasanya juga terjadi karena hukum oligarki. Dominasi sekolompok elit dalam partai mengambil keputusan yang kurang memberi kesempatan kepada politisi atau kader. Hal  ini terjadi pada kader atau politisi yang merasa punya kans untuk terlibat dalam momentum politik tertentu tetapi tidak diakomodir,” katanya.

Meski demikian, Urbanus juga menyatakan, “Kalau parpol dan kader yang baik adalah parpol dan kader yang taat pada regulasi partai, namun ketika regulasi tidak diindahkan lagi maka patut dipertayakan, apakah petinggi atau kader yang kelewat ngotot mau menang sendiri. Para pihak, baik pengurus daerah maupu DPP patut introspeksi diri,” tandasnya.

Untuk diketahui, Ketua DPD Partai Golkar NTT, Ibrahim Agustinus Medah secara resmi meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Partai Hanura sejak Kamis, 24 Agustus 2017. Pada hari itu juga, Medah mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Hanura. (bp)

Komentar ANDA?