Mengintip Pilunya Kehidupan Rakyat di Perbatasan RI – Timor Leste

0
215

DENGAN bangga Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo mengklaim infrastruktur di daerah perbatasan sudah dibangun. Karena itu, dana untuk daerah perbatasan dikurangi tahun depan. Tidak tanggung-tanggung, alokasi anggaran yang dikurangi sangat besar, mencapai Rp 2 triliun. Tahun ini disiapkan dana Rp 16 triliun, tahun depan hanya Rp 14 triliun, bahkan bisa terus menurun.

“Hampir semua infrastruktur kan sudah dibangun, jadi anggarannya turun. Tidak mungkin kan kita bangun jalan lagi,” ujar Tjahjo awal Desember 2015.

Faktanya jauh panggang dari api. Kondisi infrastruktur dan kehidupan masyarakat di daerah perbatasan masih belum berubah, memprihatinkan. Hidup serba penuh keterbatasan dengan fasilitas seadanya. Sulit mengamini pernyataan Tjahjo yang menyebut semua infrastruktur sudah dibangun di perbatasan.

Beberapa waktu lalu ketika menengok kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan NKRI dan negara tetangga, yakni di Dusun Nelu, Desa Sunbaki, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Dusun terpencil ini berada jauh di atas bukit, menjadi pemukiman yang jauh dari perubahan dan perhatian Pemkab TTU.

Dusun Nelu merupakan salah satu titik perbatasan antara NKRI dan Leolbatan, wilayah Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Untuk mencapai kampung ini dibutuhkan waktu 2 jam dari Kota Kefamenanu.

Meski ada jalan yang bisa dilalui mobil, sejauh ini hanya mobil patroli milik Dansatgas/Danki Kipur I Pamtas RI-RDTL Sektor Barat yang mampu menaklukkan medan jalan yang terjal dan curam. Jalanan yang selama ini jadi ciri khas daerah perbatasan di Indonesia.

Menginjakkan kaki di dusun ini seolah memasuki ‘kota sunyi’ tanpa kehidupan. Sangat jarang menemukan atau melihat aktivitas masyarakat. Di siang hari, kebanyakan mereka berada di tengah ladang.

Terbayangkan suasana yang makin mencekam ketika malam karena sejauh mata memandang tidak ada fasilitas penerangan jalan. Hanya ada beberapa rumah beratapkan alang-alang dan beberapa lainnya beratapkan seng. Rumah ini yang jadi saksi bisu minimnya pembangunan daerah perbatasan.

Thomas Kolo (30), seorang warga Dusun Nelu. Dia menceritakan, tempat tinggalnya menjadi satu-satunya titik perbatasan yang jauh dari kemajuan. Apalagi jika dibandingkan titik perbatasan lainnya di TTU. Di sana tak ada sarana pendidikan, kesehatan yang memang dibutuhkan masyarakat.

“Jangankan sekolah atau layanan kesehatan seperti Puskesmas, Polindes yang kecil saja tidak ada di sini,” kata Thomas.

Jangan membayangkan jalan menuju Dusun Nelu mulus diaspal. Jalannya setapak dengan kondisi memprihatinkan. Tapi itu akses jalan satu-satunya yang dimiliki warga, termasuk anak-anak yang hendak ke sekolah. Anak-anak di dusun itu tak punya pilihan. Setia hari, mereka ‘dipaksa’ berjalan 7 km untuk bisa sampai ke sekolah.

“Anak sekolah pergi-pulang 6 jam dari rumah ke sekolah. Kasihan yang masih kelas 1 dan 2. Masih kecil-kecil untuk jauh sejauh itu,” desah Thomas.

Kondisi ini juga dikeluhkan Komandan Pos perbatasan, Sertu Sodikin. Minimnya infrastruktur dan akses jalan menjadi satu-satunya kendala aktivitas warga dan pasukan penjaga perbatasan.

“Kami sudah beberapa kali membicarakan hal ini dengan Camat dan Kepal Desa Sunbaki. Tapi sejauh ini belum ada realisasinya,” terang Sertu Sodikin.

“Kalau sakit dan berobat kami harus ke Kecamatan. Kadang kalau sudah tak tahan lagi, ada warga yang meninggal di perjalanan,” kenangnya pilu. (sumber: mereka.com)

=====

Keterangan foto: Inilah kondisi riil di Dusun Nelu, Desa Sunbaki, untuk mendapatkan air minum saja, warga harus menempuh perjalanan berberapa kilo meter

Komentar ANDA?