Melirik Pesta Adat “Penti Peso Beo” di Kampung Bes Mese – Manggarai

0
655
Foto : Frumen LTK berpose bersama pemain caci kampung Bea Mese setelah melakukan pukulan perdana

PESTA ADAT  “penti peso beo” merupakan pesta adat syukuran masyarakat Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atas segala hasil panen selama setahun berlangsung dan pergantian tahun ala Manggarai.

Kesempatan ini NTTsatu.com melirik lebih mendalam pesta adat penti tersebut di Kampung Teber desa Bea Mese  kecamatan Cibal kabupaten Manggarai bersama Emilianus Sarwandi tokoh adat sekaligus ketua umum Pantia Penyelenggara pesta adat penti di kampung Bea Mese.

“Kami orang Cibal lebih khusus kampung Bea Mese, pesta adat Penti Peso Beo  diselenggarakan setiap tahun,” katanya kepada NTTsatu.com, Sabtu, 2 September 2017.

Emilianus menjelaskan beberapa rangkaian dalam pesta adat Penti Peso Beo  yang sudah diwariskan turun temurun  dimana beberapa rangkaian ritual  yang masih dipertahankan sebelum mencapai puncak pesta adat Penti Peso Beo.

Dia mengatakan, ritual awal yang  dilakukan tokoh adat dan warga kampumg Bea Mese adalah “barong” persembahan atau bentuk syukuran di tempat yang menjadi sumber kehidupan atau akar kehidupan masyarakat Bea Mese yakni dengan mengadakan ritual “barong lodok” , ” barong Wae Teku”, dan ” barong Watu”.

Dijelaskan Emilianus yang merupakan tokoh adat, “barong Lodok” adalah sebuah bentuk syukuran warga kampung yang dilakukan di lahan atau kebun yang berbentuk “lodok” jejaring laba-laba sebagai filosofi bentuk pembagian lahan adat Manggarai. Ritual ini  dilakukan sebagai bentuk ungkapan terimakasih warga kampung kepada penjaga atau “naga” tanah  karena sumber pangan kebutuhan hidup manusia berasal dari lahan yang digarap tersebut.

Foto: Para pemain caci siap beradu ketangkasan bermain caci dalam acara pesta adat “Penti Peso Beo” di Kampung Bes Mese, Manggarai

Setelah dilakukan  ritual “barong lodok”, dilanjutkan dengan ritual “barong Wae Teku” persembahan ucapan terima kasih kepada sumber mata air pokok bagi warga kampung Bea Mese yang sudah memberikan sumber air kehidupan dari  nenek moyang mereka hingga generasi sekarang.

“Ritual ini dilakukan di sumber mata air Wae Toko sebagai satunya sumber air sejak zaman nenek moyang kami,” jelas Emilianus.

Ritual bentuk  syukuran berikutnya adalah “barong Watu”  ungkapan rasa syukur atau doa di kuburan nenek moyang yang kemudian dilanjutkan dengan doa di kuburan masing- masing keluarga yang telah meninggal dunia.

Ketika ketiga ritual ini sudah dilakukan, tokoh adat dan warga kampung yang pulang dari ketiga tempat itu diyakini arwah leluhur turut serta mengikuti mereka untuk hadir dalam ritual “teing hang” di “mbaru gendang” rumah adat warga kampung  Bea Mese. Selanjutnya warga dan tokoh adat bersama roh para leluhur tersebut disambut dengan “manuk kapu”  seekor ayam jantan  untuk mereka sebagai ungkapan syukur  “wura agu ceki” para leluhur baik dari lahan, mata air dan kuburan tadi.

Ayam jantan tersebut dijadikan persembahan bagi para leluhur dalam ritual “teing hang”  yang telah diundang dari tiga tempat tersebut. Setelah “teing hang” di rumah adat kampung baru bisa dilanjutkan dengan   ritual “teing hang” di rumah masing- masing.

“Kalau ada permainan tradisional caci dalam pesta ada penti sebelum ritual “teing hang” diadakan ritual “reku naga golo”, sementara kalau tidak ada permainan caci maka diadakan ritual “rejo naga golo”,” urai Emilianus.

Dalam ritual “teing hang” ayam jantan disembelih di sirih bongkok soko guru rumah adat kemudian daging hati dan bagian lainya dipersembahkan sebagai sesajen bagi arwah leluhur.

“Saat ritual “teing hang” juga dilakukan “cura” bahwa warga kampung juga telah menyiapkan babi yang esok harinya akan dipersembahkan bagi para leluhur sebagi puncak syukuran dalam memberikan persembahan sebelum permainan caci,” ujarnya.

Keeseokan harinya sebelum permainan caci diadakan ritual “renge ela penti”, ritual penyembelihan babi dengan bahasa adat sebagai ungkapan rasa syukur warga kampung bersama para leluhur.

Setelah itu, panitia dan warga pun melakukan permainan tradisional caci yang dilakukan pertama kali adalah “cako Lalor” pemukulan perdana oleh masing -masing tim dimana tim tuan rumah warga kampung Bea Mese sendiri dan tamu atau “meka landang” dari kampung Karot, Kota Ruteng.

“Ada tiga jenis permainan caci yang biasa dilakukan di Cibal yakni Caci pokang, Caci Randang, dan Caci Woe Nelu,” pungkas Emilianus.

Dia mengatakan caci pokang dilakukan oleh tuan rumah dengan lawan yang sama sekali tidak ada hubungan keluarga. Caci randang diadakan di kebun atau lahan, dan Caci Woe Nelu antara “anak wina” melawan “anak rona”.

“Yang dilakukan di Kampung Bea Mese pada hari ini adalah Caci Woe Nelu ” katanya.

Setelah  “cako lalor” permainan caci pembuka antara perwakilan tim selanjutnya permainan caci dilaksanakan hingga sore hari.

“Pada sore hari ketua tim dari pemain caci  melakukan “rege” kesepakatan bersama di rumah adat untuk memberhentikan permainan caci dan dilanjutkan esok hari,” kata tokoh adat ini.

Direncanakan Permainan tradisional caci di kampung Bea Mese berlangung tiga hari. Caci hari pertama dibuka langsung oleh Kadis Budaya dan Pariwisata Manggarai,  Frumen LTK yang melakukan pemukulan perdana bagi tuan rumah pada hari Sabtu (2/9/2017) dengan menggunakan cambuk Kadis melakukan pukulan perdana bahwa permainan caci resmi dumulai di kampung Bea Mese.

Lanjut Emilianus , selain permainan caci pada malam hari juga dilakukan mbata, sanda dan kelong. Ia menjelaskan mbata merupakan nyanyian tradisional diiringi musik gong dan gendang dengan irama mbata, Sedangkan Sanda nyanyian dengan iringan hentakan kaki.

“Kalau pesta penti ada permainan caci maka wajib dilakukan “kelong” nyanyian dalam bentuk grup di halaman kampung dengan dipimpin oleh seseorang yang memegang “nggorong ” jelasnya.

Di wilayah lain kelong disebut “danding” sementara di Cibal sendiri “kelong”.

Ketika dalam tiga hari permainan caci sudah selesai maka kedua tim kembali mengadakan ” rege” di rumah adat kesepakatan untuk mengakiri seluruh permainan caci. “Jika permainan caci sudah selesai makan berakhir pula seluruh permainan caci dalam pesta adat tersebut,” tambahnya. (Hironimus Dale)

Komentar ANDA?