Menafsir Akhir Kasus Demokrat

0
5095

Oleh: Robert Bala

Badai yang melanda Demokrat cukup menarik perhatian publik. Dugaan akan adanya kudeta yang kemudian benar-benar terwujud membenarkan bahwa keluhan AHY itu bukan isapan jempol si anak meminta perhatian sang ‘ayah’ (SBY, Jokowi, atau siapapun yang bersimpati).

Tetapi berjalannya waktu diimbangi informasi di kedua belah pihak, maka kegalauan justru kian bertambah. Yang dimaksud, apakah kisruh ini akan berakhir memenangkan pihak tertentu? Idealnya memang seperti itu. Masing-masing pihak mengharapkan kemenangan. Tetapi apa yang terjadi pada akhirnya?

Sebagai orang luar yang hanya mengamati, kisruh itu menarik untuk dianalisis. Bukan untuk menemukan siapa yang benar tetapi menemukan pembelajaran di baliknya.

Legalitas dan Realitas

Kalau memerhatikan argumentasi, maka masing-masing kubu memiliki sudut pandang yang tentu saja tidak sama. Kubu AHY (didukung sang ayahnya SBY) selalu mengedepankan aspek legalitas. Mereka menganggap diri sebagai kubu yang sah. Hal itu benar adanya. Yang terdata dan terdaftar adalah kepemimpinan AHY.

Pada sisi lain, bila barisan cukup panjang mengungkapkan ketidakpuasan dan mereka adalah tokoh-tokoh senior (malah pendiri). Hal ini meyakinkan pihak luar bahwa keluhan mereka tidak semuanya salah. Malah publik semakin yakin bahwa apa yang mereka keluhkan itu benar adanya.

Yang jadi pertanyaan: bagaimana nasib PD bila kedua belah pihak saling ‘keras kepala’? Sekilas pihak AHY di atas angin. Legalitas diharapkan menjadi panglima di sebuah negara hukum. Yang jadi pertanyaan lanjut: apakah legalitas itu hanya sebatas ditarik mundur dari tahun 2020 saat AHY diangkat (ayahnya) jadi Ketua Umum atau lebih dari itu? Logikanya ketika aspek legalitas ditegakkan maka ia perlu menjangkau sebelumnya.

Di sinilah kenyataan yang cukup mengejutkan. Beberan fakta orang-orang yang pernah berkuasa dekat dengan SBY, meyadarkan publik untuk bisa membacanya jauh sebelumnya. Beberan fakta oleh I Gede Pasek maupun Marzuki Alie, menyadarkan bahwa Cikeas ‘kurang gembira’ dengan hasil Kongres Demokrat di Bandung (Januari 2012). Hal ini bisa berbuntut pada kasus Anas yang masalah hukumnya bahkan tidak dilakukan hampir setahun setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Bila ditarik ulur, maka pihak luar (termasuk penulis) kian menyadari bahwa SBY tidak ‘sesopan, sebijaksana, dan sehebat’ seperti yang digaung-gaungkan. Bila apa yang dikemukakan oleh mantan orang terdekat di atas benar maka sungguh disayangkan.

Kubu Moeldoko pun tidak dengan sendirinya menang. Ketidakpuasan secara internal adalah hal yang wajar bahkan sangat benar adanya. Yang jadi permasalahan, mengapa harus melibatkan Moeldoko? Apa keuntungan baig Moeldoko dari sebuah partai yang sejak dua pemilu terakhir kian terpuruk? Yang justru terjadi adalah merugikan tidak saja Moeldoko tetapi juga presiden Jokowi.

Jawaban dan tangkisan Moeldoko seputar isu kudeta yang awalnya dilawan, bisa memberikan image yang buruk. Bisa dibayangkan. Apa yang akan terjadi ketika KSP Moeldoko yang awalnya hanya mengatakan sekadar kumpul-kumpul dan ngopi itu ternyata memang tengah merancangkan untuk menggulingkan kekuasaan AHY? Di sini orang bisa berandai lebih lanjut. Apa yang terjadi dengan komunikasi Jokowi selama ini melalui Moeldoko. Apakah dapat dipercaya?

Bila dilihat dari sisi ini maka sesungguhnya apa yang tengah ditenun oleh Partai Demokrat (baik melalui kubu HAY maupun Moeldoko) adalah sesuatu yang merugikan PD meski bisa saja kelihatan menguntungkan salah satu kubu. Semakin AHY menekankan legalitas maka semakin pula ia ‘dikuliti’. Karena itu upaya mendulang dukungan dari DPD maupun DPC sebenarnya aksi yang tidak bisa disebut bijaksana. Ia hanyalah menularkan virus ‘legalitas’ yang bila terbukti sebaliknya justru akan kian menyebarkan ketimpangan yang terjadi. Di masyarakat, nama baik PD akan kian terkubur ke dasar karena masyarat tahu bahwa pengurus di bagian bawahnya pun terlibat mendukung (entah AHY atau Moeldoko) yang ternyata memiliki cacat.

Yang lebih pasti, kisruh seperti ini akan kian menjauhkan diri dari rakyat. Mereka kini paham bahwa sebagai partai, nama baik itu sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Mereka pun akan membiarkan agar para elita ‘berantem’ karena tahu bahwa itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Dalam konteks ini maka kegagalan (demi kegagalan) akan menunggu menyambut pengurus yang baru.

Pilihan Terbaik

Dari sisi resolusi konflik, sebenarnya apa yang terjadi dengan PD baru berada pada tahap konfrontatif. Ia berada pada skala dua setelah prakonflik. Disebut demikian karena dua kubu yang berbeda secara kontrontatif mencari legalitas yang sebenarnya.

Ia belum berada pada tahap krisis meski banyak orang melihat bahwa arahnya sudah muncul. Krisis baru akan muncul ketika Kemenkumham mengeluarkan keputusan yang bisa saja menguntungkan salah satu pihak (yang tidak akan m udah diterima pihak lain)atau bahka membatalkan keduanya.

Pada kondisi seperti ini maka apakah pilihan untuk ‘terus maju pantang mudur’ adalah pilihan? Bila dilihat secara bijaksana dengan menelusuri tapak undur PD, maka akhir yang akan diterima adalah sesuatu yang merugikan PD sendiri. Karena itu pilihan terbijak sebenarnya kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak ada yang sempurna. Masing-masing mengakui kekelaman yang telah terjadi.

PIlihan bijak ini hanya akan terjadi kalau SBY sebagai tokoh sentral memainkan peran bijaksana (jauh dari upaya basa-basi politik yang kerap dilakukan). Yang dimaksud adalah kebesaran SBY untuk mendamaikan keduanya. Upaya ini bisa membawa konsekuensi yang tidak diingingkan. Jelasnya, pelucutan kekuasana pada sang anak (seperti dulu dilakukan dengan Anas), bisa saja menjadiakn sang anak tidak punya apa-apa lagi setelah ia berhenti dari TNI dan tidak terpilih jadi gubernur DKI.

Memang pilihan berat. Tetapi dalam konteks ini, Ibas masih bisa ditawarkan sebagai solusi. Sebuah pilihan yang tentu saja tidak diinginkan. Tetapi melalui Ibas, SBY tidak kehilangan pamor sama sekali di Demokrat. Orang Spanyol memaknai model pilihan seperti ini sebagai ‘mal menor’. Hal yang dilakukan adalah buruk tetapi level keburukannya masih ‘mendingan’ ketimbang keburukan lainnya di mana PD akan hengkang sama sekali dari pengaruh Cikeas.

Pilihan islah seperti ini pastinya akan lebih mudah diterima kubu Moeldoko. Mereka bisa saja bersyukur bahwa tidak menang dalam konflik bukan jadi target. Yang penting suara mereka didengarkan. Sampai di sini tentu saja meski kalah juga tetapi ia bisa membenarkan bahwa apa yang dikemukakan selama ini bukan hal yang asal bunyi. Mereka mungkin merasa sukses telah memperjuangkan sesuatu.

Tetapi inilah akhir kisah yang dibayangkan oleh orang luar. Inilah skenario yang bisa saja imajinatif ketika diharapkan dengan kedua kubu yang tidak mau kalah dan semakin hari semakin membuka kedok lawannya. Bila itu yang terjadi maka tentu masa tamat PD sudah bisa dibayangkan.

Tetapi kita pun masih yakin, di setiap badai pasti ada akhirnya. Ibarat rajawali yang terbang tinggi, maka kita pun yakin, PD masih ingin terbang tinggi dan mengadakan transformasi diri. Sebuah transformasi yang tentu saja pedih (seperti Rajawali mencabik bulunya demi hidup lagi), tetapi akan memberi memberi manfaat untuk bangsa ini.

========

Penulis: Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik. Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?