Mendramatisir Perpindahan Agama

0
3105

Oleh: Robert Bala

BEREDARNYA  video berdurasi 2 menit 19 dari seorang yang mengaku diri ‘mualaf’ itu cukup menggembarkan dunia maya. Pria yang mengaku bernama asli: Ir Ignatius Yohanes S.Th memperkenalkan kedua orang tua dengan nama dan jabatan.

Asal sekolah di Roma yang merupakan ‘pepaduan’ Bahasa Indoneisa dan bahasa Inggris (Injil Vatican School) bagi orangyang berpendidikan mestinya terasa aneh. Bagaimana sebuah institusi pendidiakn di Roma (sana) bisa gunakan perpaduan nama Bahasa Indonesia (Injil) dan Bahasa Inggris? Kenapa bukan bahasa Italia atau minimal Bible (Inggris), atau bibia (Italia) biblia (Spanyol)?

Atau mengapa orang tua berpangkat ‘kardinal’, sementara di Indonesia hanya ada 2 orang kardinal yang hidup (Kardinal Julius Darmaatmadja dan Karninal Ignatius Suharyo)? Atau lebih jauh, apakah ‘si pemohong’ yang mengatasnamakan agama rela berbohong dengan mengdramatisir perpindahan agama di depan umat sederhana hanya demi mendapatkan perhatian? Bagaimana jadinya ketika kebohongan itu disibak oleh jejak digital yang bisa berakibat negatif?

Sebenarnya kisah video seperti ini bukan kali ini saja. Ada beberapa ‘model’ video seperti itu. Ada yang benar-benar mengisahkan hidayah yang terjadi dengan kebenaran yang bisa dijamin tetapi ada yang (seperti ‘si Ignatius) cepat terbaca kepincangan informasi. Yang terjadi, apa efek dari informasi seperti itu jangka panjang?

Agar Disanjung

Secara psikologi, berbohong dikategorikan sebagai sebuah penyakit yang disebut ‘mythomania. Mythomania pertama kali di gunakan pada tahun 1905 oleh seorang dokter psikiatri bermana Ferdinand Dupre.

Bagi Dupre, orang yang berhbong biasanya pada awalnya tidak bertujuan menipu. Ia hanya melakukan hal itu sekadar untuk disanjung. Bisa dibayangkan saja ia menggambarkan bahwa barusan membeli sesuatu dengan uang sendiri (padahal dengan ‘mengutang’). Ia barusan bepergian ke tempat wisata yang menarik (padahal menggunakan foto rekayasa), dan sebagainya.

Kebohongan seperti ini dikategoriakn ringan karena hanya ingin mencari perhatian dari orang-oragn sekitar. Tetapi lama kelamaan ia bisamenjadi ‘mytomania berat’. Di sana penderita memang mengalami gangguan mental,memiliki sifat narsisyang hanya mementingkan penampilan atau dirinaya saja.

Tetapi ada hal yang sebenarnya lebih mencemaskan. Ada kebohongan yang didisain dengan begitu rapi. Di sana ada Teknik mendramatisir kebohongan demi tujuan terselubung baik secara pribadi maupun secara bersama. Yang jelas dalam video pengajian tersebut bisa dipastikan, ‘si Ignatius’ mendisainnya demi mencapai maksud pribadi di tengah jemaat yang bisa dipastikan merupakan orang-orang tulus yang tidak ada keraguan apapun selain pikiran selain mempercayai apapun yang diasampaikan oleh orang luar terhadap mereka.

Tetapi tidak bisa disangkal kalau hali itu didisain oleh orang-orang yang ingin mencapai sebuah popularitas bersama yang sayangnya dicapai dengan cara ‘murahan’. Di sini apa yang dikeluhkan putri Gus Mus, Lenas Tsurolya beralasan: “kog bisa ya, cermaha agama tapi isinya tipu-tipu seperti itu”, seperti dikutip Suara.com 3/7.

Terhadap hal ini tentu saja perlu dikoreksi. Peserta yang mendengar adalah orang-orang tulus yang tidak sejauh itu membayangkan bakal ada penipuan seperti itu. Tetapi para pendisain (entah ‘si Ignatius’) secara sendiri atau bersama telah merancang sebuah pembohongan yang tidak menguntungkan apa manapun. Agama lain yang didiskreditkan pun tidak dirugikan. Malah setelah kebohongan itu disibak oleh jejak digital tersingkap kebohongan itu. Demikian juga agama yang mungkin pikirannya akan diuntungkan oleh proses itu malah mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap cara-cara tak elok.

Potensi Konflik

Terlalu dini bila menuntut strategi pembohongan yang terjadi sebagai sebuah jerat hukum. Tetapi dalam masyarakat yang tengah membangun peradaban yang lebih baik, bukan tak mungkin hal itu bisa terjadi.

Yang perlu dipikirkan bahwa pembohongan yang telah menjadi tabiat (yang awalnya hanya coba-coba) secara tanpa sadar ia telah mengalami hukuman. Hukuman itu berupa hilangnya keadaran dalam dirinya bahwa kebohongan itu telah menjadi tabiatnya.

Sampai di sini pun masih bisa diterima. Namun ketika dilakukan secara terus-menerus yang mendatangkan nikmat atas kebohongan, maka tidak saja merugikan diri dan mengarahken kepada kehilangan kemanusiaannya, tetapi yang lebih disayangkan bahwa ia memprovokasi orang-orang sederhana dan tulus untuk percaya akan provokasinya. Dan lebih disayangkan kalau hal itu berujung pada kelakuan yang membenarkan tindakan tak terpuji hanya atas dalil menyesatkan.

Hal yang lebih serius dan mesti jadi bahan kajian hukum adalah apakah kelakuan ‘si Ignatius’ itu bisa dikategorikan sebagai masalah hukum? Kasus seperti Sarumpaet misalnya menjadikan pasal 14 dan 15 KUHP sebenarnya bisa diperhitungkan. Meski di sana tidakterjadi ‘keonaran’ secara fisik (hanya kegaduhan di medsos),tetapi hal itu dilakuakn dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong.

UU ITE No 19 / 2016 Pasal 45A ayat (2) juga bisa menjadi sebuah alternatif. Di sana ada usaha menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu bersadarkan SARA. Meski penyebaran pembohongan ini bersifat tidak langsung di mana orang lain yang menguploadnya di medsos (youtube) tetapi hal itu telah memunculkan kegaduhan di media sosial.

Yang mau ditekankan di sini tentu bukan sekadar mencari-cari ayat demi menghukum seseorang (hal mana bukan kompetensi penulis), tetapi ingin menyadarkan hal ini dalam perspetktif potensi konflik. Dari sisi konflik, ia barusan berada pada tahap ‘prakonflik’, tahapan paling dasar. Ia belum sampai kepada tahap kofrontasi, krisis, akibat, yang memunculkan keonaran seperti digambarkan di atas.

Tetapi bila hal itu dibiarkan, lambat laun bisa mengarah kepada keonaran yang lebih bsar. Karenanya upaya menyadarkaan masyarakat atau siapapun yang ingin mendisain kebohongan dengan maksud ‘rohanipun’ bisa berujung fatal. Hal ini tentu perlu disadari para pembohong bahwa skenario itu bisa awalnya sekadar untuk menguntungkan diri tetapi bila dipahami secara hurufiah oleh orang-orang dengan tingkat pendidikan yang rendah bisa berujung pada hal-hal yang tidka diiginkan.

Untuk itu, ‘Si Ignatius’ mestinya menjadi preseden buruk. Darinya kita patut berterimakasih kepada putri Gus Mus, Lenas Tsurolya yang berani mengungkapkan kekesalannya, tetapi perlu menjadi komitmen bersama para pemimpin agama. Dari awal, para ‘pengajar palsu’ diiingatkan bahwa mereka malah merusak kualitas agama dan tidak menguntungkan siapa dan apapun. Lebih lagi karena yang dikejar dalam agam adalah pengetahuan keagamaan dan kedalaman iman, hal mana hanya bisa diuntungkan oleh cara-cara yang jujur dan tulus.

=======

Penulis adalah Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian, Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?