Mengapa Kamu Begitu Takut, Mengapa Tidak Percaya?

0
1687

                         Oleh: Rm. Ambros Ladjar                          Pastor Paroki Katedral Kupang

                    Minggu Biasa XII, 20 Juni 2021.

Ketika masih imam balita dan hendak mutasi tempat tugas, selalu ada rasa kuatir. Seribu satu alasan mulai melintas bebas dalam benak. Hal itu bagi saya biasa karena belum sepenuhnya mengenal medan tugas yang baru. Apalagi kalau hanya mendengar dari cerita orang. Saya kira semua orang akan alami hal yang sama. Biarpun tak diungkapkan, tapi dalam hati kecil timbul reaksi kecut yang muncul. Padahal issue yang dihembuskan belum tentu benar. Ibarat kata pepatah: Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Pengalaman konkrit para rasul pun membuat hati kecil mereka cemas, kuatir dan takut. Saat itu mereka sedang berlayar ke seberang danau Galilea. Memang danau itu tak seberapa luasnya dengan lautan di negeri kita, tapi kadang arusnya cukup deras. Para rasul yang berasal dari pesisir daerah itu memang tak rasa cemas. Lain halnya dengan mereka yang berasal dari luar daerah itu. Segala aktivitas terkait di sekitar danau, pasti menimbulkan kecemasan. Lebih lagi seturut narasi injil ketika taufan mengamuk dengan dasyatnya. Yesus sepertinya sengaja tidur di buritan. Ketika itu ombak mulai menyembur masuk dan para rasul mulai panik.

Betapa takutnya para rasul sehingga mereka membangunkan Yesus dengan paksa. DIA lalu menghardik danau itu: *Diam. Tenanglah!*. Angin dan badai itu ternyata bisa taat dan menjadi sangat teduh. Peristiwa ini membuat para rasul menjadi tercengang dan kagum. Mereka bukan lagi takut kepada ombak yang mengancam, tapi kepada Yesus. Kata mereka: *siapa gerangan orang ini* sehingga angin dan badai pun taat kepada-Nya? Yesus tegur mereka lantaran kurang beriman. Harusnya tak perlu kuatir saat sedang berjalan bersama Yesus.

Dalam hidup, kadang kita alami persoalan yang berkecamuk ibarat badai di danau atau laut. Rasanya seperti tak ada yang bisa menolong. Dalam doa pun sepertinya Tuhan itu cuek dengan keluhan kita. Padahal *Yesus ingin menguji kita*, apakah kita sungguh beriman kepada-Nya. Nyatanya gambaran kita tentang diri Yesus tak jauh berbeda dengan para rasul. Wajah Yesus jadi kabur ketika kita diancam musibah. Hari ini Tuhan mendorong kita agar tetap percaya pada karya-Nya. Pengalaman rasul Paulus membuat dia berani hadapi soal apapun, karena Dia kenal baik Yesus.

Marilah kita pasrahkan hidup dalam penyelenggaraan Tuhan. Tak boleh kita hilang kendali pada saat badai, masalah melanda. Kita hadapi dalam rumah tangga, dslalam usaha dan karya kita sendiri. Terhadap semua itu Iman akan Tuhan Yesus harus menjadi andalan utama. Pada waktunya Tuhan akan menolong kita keluar dari kemelut. Dia tidak tinggal diam dan tertidur, tapi Dia tahu soal hidup kita yang pelit. Kata nabi Ayub bahwa dari dalam badai Tuhan akan menjawab kita.

Salam sehat di Hari Minggu buat semuanya. *Tetap taat menjaga Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing- masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin 🙏🙏🌹✝️🌹🍇🫐🔥🔥🇮🇩🇮🇩

Komentar ANDA?