Mengenal Lebih Dekat Dokter Hyron Fernandez (satu)

0
521

Meniti Karier dari Desa

 

Nama Hyronimus Agustinus Fernandez sontak berkibar dalam obrolan dan diskusi soal provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjelang berakhirnya masa tugas Frans Lebu Raya tahun depan. Nama ini muncul dan menjadi bahan perbincangan sekaligus ada rasa ketar-ketir dari sosok-sosok yang selama ini suka bertarung di ajang politik pemilu kada.

Sosok ini memang rata-rata bersih dari perguncingan seputar masalah-masalah hukum baik korupsi maupun masalah hukum lainnya yang menyeret namanya.

Hyroninus Fernadez yang lebih akrab disapa Hyron ini menamatkan pendidikan sarjana kedokteran tahun 1982 dari UGM dan profesi dokter tahun 1985. Selepas pendidikan profesi ini, dokter muda Hyron mengabdi sebagai dokter di desa Hadakewa Lembata sebagai Kepala Puskesmas. Tugas-tugas ini diembannya dari 1985-1992. Dalam kurun waktu tersebut dia juga dipercayakan menjadi Direktur RS Bukit Lewoleba 1986-1989. Dari Lewoleba dr. Hyron pindah ke Larantuka, menjadi Direktur RSUD Larantuka 1992-1995.

Dalam mengemban tugas di bidang kesehtan, dr.Hyron mulai berpikir out of the box. Baginya jauh lebih arif mendidik masyarakat untuk hidup sehat ketimbang mengobati mereka kalau sudah sakit.

Pemikiran ini kemudian direalisasikan dalam Lembaga Swadaya Masyarakat yaitu  “Yayasan Bina Sejahtera” yang didirikannya tahun 1987 dan “Yayasan Mitra Sejahtera” tahun 1993, yang kemudian mengkristal dalam studi magisternya. Studi S2-nya tidak difokuskan dalam teknis pengobatan atau perlakuan pasien melainkan dalam pemikiran kesehatan masyarakat.

Dokter Hyron secara tidak tanggung-tanggung melakukan penelitian di 54 RSUD yang terbentang dari Jawa Timur, Bali hingga NTT. Tesisnya berjudul “Pengaruh Pemahaman dan Persepsi Manajer Rumah Sakit Umum Kabupaten terhadap Orientasi Pemasaran Rumah Sakit.

Yang hendak dikemukakan di sini ialah, bahwa dr.Hyron selalu berpikir lebih tentang bagaimana seharusnya menciptakan sebuah kondisi bagi masyarakat yang sehat jiwa raganya.

Dua tahun kemudian dr. Hyron mengambil studi S3. Disertasinya berjudul “Pengaruh Komitmen Manajemen pada Komitmen Individual, Budaya Organisasi dan Kinerja Rumah Sakit Nirlaba – Model Diagnosis Budaya Organisasi Untuk Pengembangan RS Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali Dengan Pendekatan Analisis Multilevel.

Secara sedernana, yang dicari dr. Hyron dalam studi-studi akademis-nya adalah bagaimana merancang manajemen rumah sakit atas cara yang menguntungkan dan memberdayakan pasien, sekaligus memberdayakan pemerintah daerah.

Dapat dilihat di sini, dalam mengemban tugas dr. Hyron tidak berorientasi pada pencarian keuntungan finansial dengan duduk berjam-jam di balik meja praktik, melainkan berpikir dan terus berpikir tentang bagaimana mendidik masyarakat untuk hidup sehat sehingga mereka tidak terbebani biaya-biaya besar pengobatan. (bp)

Komentar ANDA?