MENGENALI BAHASA DALAM RUANG LINGKUP SOSIAL

0
836

Oleh: Dra. Christina Purwanti, M.Pd

Setiap manusia memiliki kewajiban untuk menguasai berbagai bahasa dan menggunakannya dalam relasi sosial bersama orang lainnya. Hal utama yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana pengetahuan tentang bahasa mulai dari makna, kosa kata, tata bahasa dan pengetahuan liguistik pada umumnya digunakan dalam ruang lingkup. Fungsi bahasa menjadi sangat kompleks dalam keseharaian. Fungsi bahasa pada mulanya adalah sebagai instrumen atau alat. Eksistensi bahasa adalah untuk menyampaikan pesan dari seorang  penutur kepada orang lain di sekitarnya baik secara langsung atau pun tidak langsung. Bahasa dapat disebut sebagai “juru bicara”, yang bertugas menyampaikan sebuah pesan (meaning) kepada para pendengarnya (receiver). Sebagai juru bicara, tugas utama bahasa adalah tidak terlalu peduli terhadap pesan yang dibawanya. Bagi Fathur Rokhman (Fathur Rokhman, Surahmat, 2016).

Manusia terus menyelidiki segala objek di sekitarnya, mencari tahu apakah objek tersebut dapat bermanfaat bagi dirinya atau tidak, kemudian manusia memberinya sebutan menamainya. Ketika manusia menemukan perbedaan sebuah objek terhadap objek lainnya, maka pada saat tersebut nama baru pun disematkan. Pada saat yang sama pula, manusia sebagai kreator juga beraktivitas menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada. Manusia berinovasi dengan merevisi dan memperbaiki sesuatu yang telah ada kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat baru. Hasil inovasi itu karena berbeda dalam sejumlah hal dengan objek sebelumnya, mesti diberi nama baru.

Manusia sangat produktif menciptakan berbagai bahasa karena yang manusia memproduksi bukan hanya benda, tapi juga memproduksi berbagai ide, konsep, bahkan mimpi atau idelaisme. Semua itu tak tampak dan tidak diakui sebagai objek empiris, namun eksis dan bermakna dalam kehidupan manusia sehingga perlu diberi nama. Sebagai contoh yang dapat dilihat yakni manusia merasakan perasaan khusus ketika berhasil meraih sesuatu yang diinginkannya. Perasaan itu diberi nama ‘gembira atau senang’ dalam bahasa Indonesia. Manusia pun sering merasakan sesuatu yang khas       ketika ia berhadapkan pada pilihan berbagai yang sulit.

Eksistensi bahasa selalu saja menjadi sentral poin dalam mengindentifikasi sesuatu yang terdapat dalam pemikiran penutur, perasaan penutur, dan juga perilaku penutur ketika mau menuturkan berbagai elemen pada setiap lingkungan sosial di sebuah komunitas. Makna bahasa yang digunakan dalam penuturan tersebut adalah secara langsung merupakan alat atau instrumen komunikasi yang menghantar setiap penutur memasuki sebuah lingkungan budaya baru yang secara dramatis dapat ditransformasikan oleh setiap penutur bahasa itu sendiri

Hingga sejauh itu bahasa dapat dipahami sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk menggambarkan konsep dalam pikirannya sehingga konsep yang  abstrak dipahami oleh orang lain. Bahasa digunakan manusia agar konsep yang eksis dalam pikirannya dapat diekspresikan sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Dengan cara itu, seorang (komunikator) dapat menyampaikan pesan yang memungkinkan pendengarnya (komunikan) memberi respon sesuai kehendaknya. Manusia yang memiliki pikiran berbeda dan terpisah, dengan bahasa, dapat terkoneksi sehingga lancar bertukar informasi atau bekerja sama.

Kinerja Bahasa dan Fungsi Praktis Bahasa

Kinerja bahasa diuraikan Ogden dan Richards (1923) melalui konsep segitiga makna (triangle of meaning). Menurutnya, ada hubungan segitiga antara bunyi bahasa (word), referensi (thought),    dan sesuatu  (things) yang membuat bahasa dapat berfungsi sebagai alat komunikasi. Bunyi bahasa dapat berguna jika dapat menghubungkan konsep (thought) dengan realitas (reference). Word adalah lambang dalam bentuk bunyi bahasa yang diproduksi artikulator manusia. Konsep adalah sesuatu yang imajiner, sesuatu yang hanya eksis dalam pikiran manusia. Sesuatu merujuk pada hal-hal yang ada di alam dan bukan merupakan bagian dari konsep dan tuturan. Realitas bisa berupa benda, kondisi, suasana, atau fenomena yang aktual ada dan di sinilah bahasa mulai berfungsi (Fathur Rokhman, Surahmat, 2016).

Fungsi bahasa sangatlah pragmatis yakni sebagai alat bantu bagi manusia untuk mengenali diri dan hal-hal di sekitarnya. Ketika manusia mulai terhubung satu dengan lainnya, bahasa punya fungsi baru sebagai alat komunikasi dan bahasa adalah ekspresi lisan untuk       menyatakan situasi kognitif yang ada di dunia pikir manusia. Dengan ekspresi bahasa itu, konsep      yang eksis di pikiran itu dimungkinkan diraba oleh mitra tutur. Jika proses pembacaan itu berjalan baik, informasi dapat tertransfer kepada mitra tutur, proses komunikasi berjalan baik. Tetapi jika proses pembacaan meleset, timbul apa yang kita sebut sebagai kesalahpahaman.

Bahasa dalam Komunikasi

Sebagai peristiwa komunikasi, ada dua peristiwa pokok yang dilakukan manusia ketika berbahasa. Pertama, penutur harus dapat memanfaatkan kosakata dengan baik, menyusunnya de- ngan pola gramatikal yang logis, sehingga sesuai atau setidaknya mendekati konsep dalam pikirannya. Pilihan kata (diksi) memegang peran penting agar konsep terverbalisasi. Kata yang telah dipilih kemudian dirangkai menjadi kalimat sesuai struktur gramatika yang lazim sehingga logis. Kedua, pembaca oleh mitra tutur “memungut” kosakata-kosakata dalam bentuk bunyi bahasa yang ditemuinya, merangkai kembali pada sebuah struktur gramatika, dan memaknainya sesuai kapasitas intelektual yang dimiliki. Borgias (2013) menyebut proses resepsi bahasa ini dengan proses “mengerti”. Dalam komunikasi ketika berada di ruang lingkup sosial, proses “mengerti” ini merupakan proses yang paling fundamental.

Keseluruhan pandangan tersebut di atas berkembang di kalangan filsuf bahasa pada periode awal. Ludwig Wittgenstein  pada tahap awal perkembangan pemikiran filosofisnya termasuk yang mendukung pendapat bahwa bahasa memiliki fungsi praktis ini. Menurutnya, bahasa menggambarkan dan   memantulkan       realitas. Makna dianggap sebagai hasil pengembaraan suatu keadaan faktual yang ada di dalam realitas itu dengan menggunakan media bahasa dan kata. Oleh karena itu, bahasa dalam makna tertentu yang sangat khas yang selalu disebut oleh orang latin yakni gambar dunia (imago mundi). Dunia betul-betul terekam dalam bahasa, terekan dalam wacana, terekan dalam kata. (Borgias, 2013 :10).

Sebagai penanda identitas, bahasa berfungsi seperti layaknya sebuah indeks yang  kehadirannya dapat menggambarkan keseluruhan kondisi penuturnya, baik kondisi yang terdapat      pada kognitif, kondisi pada sosiokultural, maupun kondisi pada fisik. Sistem bahasa yang digunakan seseorang pun sangat berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain sesuai dengan pengalaman intelektual dan kondisi kebudayaan yang selalu memengaruhinya.

Dengan demikian mengenali bahasa dalam ruang lingkup sosial merupakan bentuk tertinggi dari ekspresi pikiran manusia, dan menjadi sarana dasar perilaku manusia dalam memaknai secara  baik dan benar berbagai ruang lingkup. Terima kasih.

=======

Penulis adalah Dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan

Komentar ANDA?