Mengunjungi Sabu Raijua (1): Kisah Peradaban Orang Sabu

0
1602
Foto: Tarian Padoa sebuah tarian khas Masyarakat Sabu Raijua (ist)

Kisah Peradaban Orang Sabu

 

Sebanyak 18 jurnalis dari Kupang mengunjungi Sabu Raijua untuk melihat dari dekat denyut nadi pembangunan kabupaten yang dipimpin Bupati Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke yang memasuki tahun pertama periode kedua ini. Kisah Sejarah Sabu Raijua hingga kondisi sekarang dan potensi industri dan pariwisata dilaporkan melalui tiga tulisan serial berikut ini.

 

Kabupaten Sabu Raijua yang sering disingkatkan dengan nama SARAI ini merupakan salah satu dari 22 kabupaten/kota  di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten ini baru berusia sekitar 8 tahun setelah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri, Murdiyanto tanggal 29 Oktober 2008 lalu berdasarkan Undang – undang Nomor 52 Tahun 2008 tanggal 26 Nopember 2008.

Kabupaten ini lahir dari rahim induknya Kabupaten Kupang sebagai anak ketiga setelah Kota Kupang dan Rote Ndao. Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari dua pulau yakni pulau Sabu dan pulau Raijua. Luas wilayah kabupaten ini 460,54 km persegi dengan jumlah penduduk hasil sensus 2016 sebanyak 71.190 jiwa dan kepadatan penduduknya 156,75 jiwa/km persegi. Mereka tersebar di enam kecamatan dalam wilayah Sabu Raijua yakni kecamatan Sabu Barat, Sabu Liae, Sabu Tengah, Sabu Timur,  Hawu Mehara, Raijua,

Pulau Sabu juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah dari Hawu dan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu. Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu Ga yakni nama salah satu leluhur mereka yang dianggap mula-mula mendatangi pulau tersebut.

Beragai literatur menjelaskan, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu. Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan.

Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura. Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan.

Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura. Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga atau disebut juga Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu).

Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.

Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke-18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni: Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba), Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara), Wara Wai mendapat wilayah Liae, Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu), Jaka Wai mendapat wilayah Raijua.

Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, di mana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangngu Udu.

Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.

Kisah turun temurun juga menuturkan kalau masyarakat Sau Raijua meyakini bahwa kehidupan mereka juga dipengaruhi oleh Majapahit yang pada abad ke-14 sampai awal abad ke-16 berhasil menguasai dan menyatukan seluruh nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu.

Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada  Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.

Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.

Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.

Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngalai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.

Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura, memberikan kesan adanya pengaruh Hindhu.

Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Molie yang diperkirakan diambil dari bahasa Jawa ‘mulih o’ yang berarti pulang.

Mobilitas ke luar Sabu dimulai sejak saat kontrak antara Sabu dan Belanda ditandatangani tahun 1756 (Perjanjian Paravicini). Telah ditetapkan bahwa Sabu wajib menyediakan tentara bagi Belanda demi kepentingan pertahanannya di Kupang. Tujuan utama tenaga bersenjata ini adalah untuk melancarkan ekspedisi militer seperti yang dilakukan oleh Von Pluskow sejak 1758 hingga 1761.

Orang Sabu juga dikenal sangat trampil di bidang militer. Karena orang Sabu  memiliki keberanian meluaskan keterlibatan mereka antar lain ekspedisi pada tahun 1838 untuk menghentikan kebiasaan orang Ende menyerang Sumba demi mendapatkan budak.

Emigrasi orang Sabu ke Sumba yang diawali oleh hubungan perkawinan antara Raja Melolo di Sumba Timur dan Raja Sabu di Habba kemudian berkembang menjadi perkampungan Sabu di Sumba Timur.

Hal menarik lainnya dari sejarah Sabu adalah bahwa ternyata Kapten James Cook, penemu Benua Australia, Kepulauan Hawai dan orang pertama yang mengelilingi serta membuat peta Selandia Baru, pernah singgah di Pulau Sabu.

Dalam perjalanannya menuju Batavia pada tahun 1770, Kapal HM Bark Endeavour terdampar di Pulau Sabu akibat kehabisan perbekalan. Kapten James Cook mendapatkan bantuan logistik dari penguasa Sabu pada masa itu yaitu Raja Ama Doko Lomi Djara sehingga dapat berlayar kembali melanjutkan perlajanan ke tanah Batavia. (bonne pukan: dari berbagai sumber…..bersambung)

Komentar ANDA?