Mengunjungi Sabu Raijua (3-habis ): Obyek Wisata Sarai, Bak Perawan Dalam Selimut

0
537
Foto: Kelebba Maja yang eksotis sangat membutuhkan sentuhan

Obyek Wisata  Sarai, Bak Perawan Dalam Selimut

Seperti kabupaten lainnya di Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Sabu Raijua ternyata memiliki sejumlah obyek wisata yang sangat indah dan potensial untuk dijual menjadi destinasi wisata unggulan yang patut diperhitungkan.

Objek wisata Sabu Raijua didominasi oleh wisata budaya dan wisata pantai. Adapun beberapa yang cukup dikenal oleh wisatawan lokal yaitu Kelabba Maja, Pantai Seba dan Pantai Napae, Berbagai event upacara adat, Pantai Rai Mea, Pantai Bollow, Kampung Adat Namata dan Gua Liemadira.

Dari berbagai literatur bisa diketahui bahwa Pulau Sabu telah dihuni semenjak Zaman Neolitic. Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa goa Lie Madira di daerah Mesara pernah dihuni sekitar 6000 tahun silam. Dan sangat mungkin bahwa migrasi bangsa Austronesia pada millenium awal telah membawa penduduknya ke daerah Sabu.

Jika keturunan atau silsilah yang disebarkan oleh para pemuka agama tradisional digunakan sebagai alat pengukur waktu, maka masa pembentukan Sabu akan berhubungan erat dengan masa di saat milenium awal yaitu zaman Sriwijaya. Berdasarkan catatan yang ada, suku-suku kala itu terlahir dari keturunan dua kakak beradik laki-laki, Dida Miha dan Ie Miha.

Pada tahun 1970-an dua kapak perunggu kuno yang digunakan untuk upacara-upacara adat ditemukan di daerah Seba. Salah satu kapak disimpan di Museum Provinsi NTT di Kupang. Kapak ini ditemukan didalam cetakan dan dalam kondisi yang masih bagus. Kapaknya tidak bisa diteliti karena kondisi situs tersebut dalam keadaan teracak.

Sabu tidak termasuk dalam daftar daerah jajahan Kerajaan Majapahit (abad ke 12-14). Namun dalam beberapa situs dan di beberapa benda kuno, terutama yang ada di pulau Raijua, terdapat sebutan Maja. Banyak orang mengaitkan sebutan Maja itu pada keberadaan pemukim di pulau tersebut dalam masa Majapahit (dan bahkan beberapa orang percaya bahwa Gajah Mada sendiri pernah tinggal di Raijua).

Sampai saat ini tidak ada sumber-sumber informasi dari zaman Portugis mengenai Sabu dan Raijua yang telah ditemukan. Selang beberapa ratus tahun setelah kedatangan bangsa Portugis, Sabu disebutkan dalam dokumen Belanda tahun 1648.

Pada tahun 1674, kapal de Carper milik VOC menabrak batu karang di daerah Dimu. Kapal tersebut dirampok dan awaknya dibunuh. Dengan bantuan para raja atau pemimpin dari suku Amarasi (Timor), suku Termanu (Roti) dan suku Seba, VOC berhasil mengepung benteng Hurati di daerah Dimu selama beberapa bulan. Tidak mampu menembus pertahanan benteng tersebut, pasukan tentara VOC dan bantuannya mundur, akan tetapi seluruh kekuasaan Sabu tetap diminta untuk membayar denda yang tinggi kepada Belanda.

Pada tahun 1756, VOC menandatangani perjanjian dengan lima daerah kekuasaan Sabu; Seba, Mesara, Menia, Dimu dan Liae. Setelah beberapa orang penduduk memeluk agama Kristen pada masa awal kependudukan Portugis dan Belanda, Kristenisasi dan pendidikan menjadi berkembang dengan perlahan di Sabu dibanding kepulauan lain seperti Roti, Timor atau Flores.

Di desa Raerobo, Kecamatan Sabu Liae terdapat sebuah situr yang dikabarkan sebagai peninggalan Majapahit. Situs ini diyakini oleh orang Sabu sebagai peninggalan Gadja Mada dimasa kerajaan Majapahit.

Kelebba Maja Butuh Sentuhan

Sebuah  obyek wisata yang memilki kisa sejarah yang panjang dan masih berkaitan erat dengan sejarah masa silam tentang Kerajaan Maja Pahit terdapat di Sabu. Selain lokasi lainnya di pulau Raijua, tercatat ada lokasi Kelabba Maja yang menyimpan misteri, unik, indah dan sangat menarik namun belum tersentuh dengan baik sebagai sebuah obyek yang mampu mendatangkan pemasukan bagi daerah.

Menikmati keindahan Kelebba Maja Tebing berukir indah berwarna gradasi merah marun, pink, coklat, dan kelabu itu tampak jelas dari jalan raya, terutama di sisi sebelah kanan, karena tertimpa sinar matahari. Pilar-pilar batu berwarna merah muda dengan puncak berbentuk mirip jamur berwarna merah tua juga tampak seksi menggoda.

Rasanya bahagia tak terkira bisa menemukan salah satu keajaiban alam yang letaknya sangat tersembunyi ini. Perjuangan berat untuk mencapai tempat ini terbayar lunas begitu ketika menjelakkan kaki di daerah ini.

Ketika mendatangi Kelebba Maja tahun 2015 lalu, rasa kagum tak terkira muncul begitu saja ketika berada di bukit dan memandangi lokasi yang indah tak terlukiskan itu. Beberapa teman berani menuruni jalan setapak dan sangat berbahaya apalagi ada pohon-pohon berduri tajam. Kemudian Nampak mereka sangat berhati-hati mendaki ke puncak dimana terdapat sejumlah batu berdiri tegak dan diatasnya “terbarng” batu besar  ibarat payung atau cendawan yang kokoh perkasa.

Pengakuan warga setempat, Kelebba Maja memang masih disakralkan, karena tempat itu merupakan lokasi untuk menyelenggarakan berbagai upacara adat (misalnya upacara meminta hujan) dan tempat pemujaan Dewa Maja, salah satu dewa yang dipercaya Orang Sabu.

Pengunjung datang ke Kelebba Maja harus diitemani pemandu terutama penjaga  Kelebba Maja sendiri. Seorang anak muda bernama Ever Wue, dialah penjaga Kelebba Maja sekaligus sebagai pemandu dan akan men jturkan secara gambling kisah Kelabba maja nan eksoktik itu.

Kepada belasan wartawan dari Kupang yang mengunjungi Kelebba Maja, Selasa, 16 Agustus 2016 lalu, Ever mulai mengisahkan tentang Kelabba Maja dengan keunikannya yang merupakan gabungan antara wisata, petualangan dan juga budaya yang erat kaitannya dengan agama warga setempat.

Warga setempat mempercayai Kelabba Maja sebagai tempat berdiamnya Dewa Maja atau dewa bagi masyarakat yang tinggal di dusun Kelanalalu, Desa Wadu Medi, Kecamatan Hawu Mehara itu. Lokasi Kelabba Maja terdiri dari tiga batu besar yang melambangkan Bapak, ibu dan anak yang ditengahnya terdapat batu yang dijadikan altar persembahan kurban bagi dewa Maja. Lokasi itu dikelilingi batu batu granite yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Tempat itu juga dikeramatkan oleh warga setempat dan selalu dilakukan ritual berupa pemotongan hewan kurban yang akan dipersembahkan kepada dewa Maja, sebagai persembahan akan keselamatan dan kesuburan.

“Biasanya ritual dilaksanakan pada bulan Juli saat purnama. Warga akan memberikan sesajen berupa sorgum, kacang hijau dan hewan,” kata Ever.

Kalau tahun 2015 lalu untuk menggapai batu-batu seperti cendawan itu, harus menuruni lokasi curam dan berbahaya kemudian mendaki ke puncak, sekarang sudah melaui jalan setapak persisi di puncak hingga mencapai lokasi batu-batu bak cendawan itu.

“Banyak pengunjung kesulitan turun dan mendak lagi, karena itu kita sudah berusha memuka jalan setapak di puncak dan dengan mudah mencapai batu-batu di puncak lokasi ini,” kata Ever lagi.

Memang untuk mendatangi Kelebba Maja bukan hal yang mudah, Perjalanan dari Seba menuju ke Kelabba Maja ditempuh sekitar 2 jam lebih. Jalanan memang belum baik apalagi harus melewati bukit terjal yang menantang.

Keletihan dalam perjalanan itu akan segera hilang ketika tiba di Kelabba Maja. Pemandangan begitu indah mempesona, ada tebing berukir indah berwarna gradasi merah marun, pink, coklat, dan kelabu itu. Tampak pilar-pilar batu berwarna merah muda dengan puncak berbentuk mirip jamur berwarna merah tua juga tampak seksi menggoda.

Banyak kisah yang ditangkap dari perkunjungan ke Kelebba Maja. Namun satu hal yang pasti adalah Kelebba Maja itu begitu indah dan sangat potensial untuk dikunjungi namun belum tersentuh dengan baik.

Sebuah harapan yang harus menjadi perhatian pemerintah Sabu Raijua adalah membangun jalan yang baik menuju lokasi ini sehingga pengunjung merasa nyaman ketika mendatangi lokasi ini. Kemudian, mempromosikan obyek wisata ini dengan baik dan  teratur untuk diketahui secara meluas. (bonne pukan….. habis)

Komentar ANDA?