Menpan – RB Ingatkan ASN Harus Mampu Kuasai Teknologi

0
132
Foto: Menteri Pemberdayaan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur

KUPANG. NTTsatu.com – Kemajuan teknologi begitu cepat dan semua informasi bisa dengan mudah diperoleh melalui teknologi, karena itu, aparatur sipil negara (ASN) harus bisa mengusasi teknologi dengan baik sehingga tidak dianggap gagap teknologi (gaptek).

Pernyataan itu disamppaikan Menteri Pemberdayaan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur saat membuka kegiatan forum komunikasi kebijakan PANRB dan replikasi inovaasi pelayanan publik di Kupang, Selasa, 30 Agustus 2016.

Menteri Asman Abnur saat itu mengingtakan aparat sipil negara (ASN) di Nusa Tenggara Timur agar tidak gagap teknologi (Gaptek), sehingga pengelolaan pemerintahan daerah harus menggunakan sistem I Govermen dan I Bugeting.

“Aparatur sipil negara tidak boleh gaptek, dan mulailah dengan sistem elektronik,” kata Asman.

Dikatakannya, dengan menggunakan sistem itu, keuangan negara bisa diukur dengan program yang jelas, sehingga penggunanaan anggaran bisa efektif.

“Dengan sistem itu bisa dilakukan efisiensi keuangan yang cukup besar. Dan itu harus dilakukan dengan baik,” katanya.

Sistem ini, kata dia, diharapkan bisa meningkatan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat. Pelayanan publik juga diharapkan tidak berbelit- belit yang menyulitkan masayarkat, seperti pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Akta.

“Pelayanan publik belum optimal layani masyarakat, sehingga perlu adanya perbaikan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Karena itu, dia berharap NTT bisa menjadi pilot projek dalam menjalankan sistem ini di Indonesia bagian Timur. Di Indonesia bagian barat, NTT bisa belajar dari Jawa Timur yang telah menjalankan sistem ini.

“Copy paste saja dari Jawa Timur. Jangan malu, karena saya yakin pelayanan publik bisa akan lebih baik,” katanya.

Sekretaris daerah (Sekda) NTT Frans Salem mengaku hingga saat ini, NTT masih menggunakan sistem manual dalam penetapan Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Namun, diharapkan pada tahun 2018, NTT sudah bisa menjadi pilot projek di Indonesia bagian Timur.

“Harapannya kami menjadi pilot projek di Indonesia Timur, tapi sekarang kami masih gunakan sistem manual, karena keterbatasan sumber daya dan mental,” kata Frans. (bp)

 

Komentar ANDA?