Menutup Muka, Membuka ‘Kepala’ (Terorisme Di Tengah Pandemi)

0
361

Oleh: Robert Bala

Di hari Jumat Agung, saya menyempatkan diri ke pasar. Sudah agak lama tidak mampir di sana. Lebih sering memesan barang-barang via online. Semuanya hanya mengikuti himbauan pemerintah untuk menjaga jarak. Tapi kali ini saya mampir.

Di pasar, saya melihat sebuah pemandangan umum: semua orang memakai masker. Sebagian besar muka ditutup. Yang kelihatan hanya mata. Tak heran, ketika seorang tetangga menegur sapa saya, nyaris saya kenal. Setelah tenang beberapa detik, baru saya identifikasi orang itu dari mata dan juga ukuran tubuhnya yang pas-pasan.

Yang jadi pertanyaan saya di tengah keramaian pasar: apakah orang-orang yang menutup wajahnya (dengan masker atau apa saja) pada saat bersamaan kepala (otaknya) dibukakan? Lho, mengapa saya kaitkan tutup muka dan buka ‘kepala’ alias otak?

Mustahil bertanya demikian. Data berikut bisa membenarkan bahwa ternyata pada masa pandemi, orang tidak hanya menutup muka (dengan masker). Ternyata pada saat bersamaan mereka juga menutp ‘kepala’ (otaknya). Sikap kritis menjauh secara drastis. Hal itu bisa diukur dari kian menyebarnya berita hoaks.

Menurut AntaraNews.com 7/2/21, terjadi peningkatan hoaks di tengah pandemi. Bila pada tahun sebelumnya, Januari – Februari 2020, hanya terdapat 54 berita hoaks. Tetapi setahun kemudian, berita hoaks telah belipat dan menjadi 2209. Hal ini menunjukkan begitu banyaknya beria hoaks yang tersebar.

Di sinilah saya melihat korelasi antara menutup muka dan membuka otak. Artinya, menutup wajah yang sebenarnya dilakukan dengan tujuan baik memutus mata rantai penyebaran covid-19 bisa berubah menjadi isolasi diri juga. Di sana tidak saja tidak terjadi isolasi diri secara fisik tetapi juga secara psikis. Orang menutup diri terhadap pemikiran yang berasal dari luar yang bisa saja mempertanyakan status quo.

Pengurungan diri itu bisa juga disebabkan oleh keyakinan bahwa pemikiran yang ada padanya sudah benar (atau paling benar). Yang lain dianggap salah. Karena itu selagi yang mengungkapkan sebuah pemikiran itu baik dan benar tetapi karena berasal dari luar anggota group maka hal itu dianggap salah.

Wah, sampai di sini tentu terlalu berlebihan kalau kita mengaitkan orang yang menutup wajahnya saat melakukan bom atau aksi tembak menembak di Mabes Polri. Wajah mereka susah dikenal, terutama yang melakukan bom bunuh diri di Makassar. Demikian juga teroris yang membawa senjata di Mabes Polri.

Mereka adalah ‘pengecualian’. Mereka adalah orang-orang yang tidak saja selama pandemi tetapi selama ini menutup wajahnya dari kontak dengan orang lain bahkan dnegan keluarga sendiri. Mereka adalah orang yang terlalu yakin bahwa kebenaran yang dimiliki adalah yang paling benar. Semua kritik dari luar dianggap setan atau semacamnya. Di sini wajah yang ditutup ternyata sekalian disertai dengan upaya menutup kepala (otaknya) agar mudah masuk pemikiran kritis yang sebenarnya bertujuan menyelamatkan mereka.

Saya katakana di atas ‘pengecualian’ karena lebih banyak orang malah mayoritas malah 99,9999% orang seperti yang saya temui di pasar memang menutup wajahnya. Tetapi pada saat bersamaan, mereka membuka kepala (otaknya) sehingga isolasi fisik itu tidak mewabah menjadi isolasi psikis. Sebaliknya hanya 0,0001 % orang yang menutup wajah sekaligus menutup kepala (otaknya). Tetapi kita yakin, meski angkanya sangat kecil tetapi hal itu sangat mengganggu kenyamanan kita. Sekali mereka bertindak, bisa berefek sangat besar baik korban jiwa maupun harta.

Karena itu, upaya deradikalisasi melalui pendidikan yang tepat dalam keluarga menjadi kata kuncinya. Ketika keluarga sanggup memberikan nilai-nilai yang baik terutama keterbukaan untuk dikoreksi dan dikritisi maka di sana memberikan pemahaman bahwa apapun ide yang masuk harus dipertanyakan. Sebelum ide itu diterima, ia perlu diproses, dianalisis, dievaluasi agar sungguh menjadi hal yang baik.

Arahan bijak dari pemuka agama menjadi hal yang tentu tidak bisa dilupakan begitu saja. Diyakini, pemikiran terrorific, mengguncangkan, dan malah ‘menyurgkan’ kekerasan itu tidak dimiliki secara otomatis oleh kaum milenial yang lagi terobsesi dengan kebahagiaan ‘di sana’. Mereka bisa memiliki itu karena ada yang mengatasnamakan agama untuk menyebarkan kebencian. Mereka itu perlu sadar bahwa Surga bukan milik mereka. Dan bisa dipastikan juga bahwa tidak akan jadi milik ulama yang berpikiran picik yang menutup kepalanya (otaknya) meskipun pada saat bersamaan mereka mempertontonkan wajah mereka.

Mereka disebut ulama yang gemar menampilkan wajah. Mereka menajdi popular dengan menghadirkan wajah sebagai ‘pemberani’ dengan petuah yang menjebak. Mereka membuka wajah tetapi menutup otak dan membawa anak milenial, generasi masa depan ini ke dalam kehancuran diri. Kalau sebuah generasi dihancurkan, maka siapa yang memastikan bahwa ulama picik ini akan masuk Surga? Siapa bisa pastikan bahwa yang punya Surga sepaham dengan mereka?

Eh, itu belum dipastikan. Yang bisa dipastikan, bahwa yang punya Surga juga yang punya bumi. Ia ciptakan bumi agar manusia menjadikannya sebagai anak tangga menuju Surga. Itu berarti bumi harus jadi ‘surga’, tempat di mana kebaikan dan kebenaran harus diwujudkan. Bumi harus jadi tempat di mana orang sudah bisa mengalami Surga meski dalam konteks yang kecil. Bumi harusnya jadi tempat kedamaian.

Jadi yang menjanjikan Surga di balik aksi terorisme, sadarilah bahwa Surga itu bisa saja akan dimiliki oleh mereka yang telah mengorbankan dirinya dalam aksi terorisme (meskipun hal itu masih sulit dibenarkan). Mereka bisa saja ‘diampuni’ karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya. Mereka adalah korban dari pemikiran Anda yang menjebak mereka. Mereka adalah anak-anak milenial yang terkorbankan oleh hasutan yang menjerumuskan mereka.

Tetapi ada hal yang pasti. Surga itu bukan milik kamu yang menghasut hingga menyebabkan anak-anak milenial itu mengorbankan hidupnya sia-sia. Pintu surga bisa dipastikan, akan tertutup bagi mereka yang berusaha menutup otak orang dengan pemahaman yang keliru. Pintu itu tertutup bukan oleh Tuhan tetapi oleh mereka sendiri yang memilih cara hidup di luar kehendak Tuhan.

Inilah kegalauan yang menghantui kita di tengah pandemi yang juga bertepatan dengan Pekan Suci orang kristiani yang tidak hanya menyebabkan kita semua kaum muslim, buddhis, hindu, konghucu dan kristiani menjadi galau. Tetapi jangan putus asah. Di tengah kondisi ini, marilah kita berdoa. Doanya sederhana saja: Jadikanlah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam Surga… Kita mohon semoga kehendak Dia yang menjadi pemilik Surga terjadi sekarang di bumi dan nanti di Surga sana.

=======

Robert Bala. Penulis buku: MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN dan INSPIRASI HIDUP DI TENGAH PANDEMI (Penerbit Kanisius Jogyakarta).

Komentar ANDA?