Menyimak: Kecakapan Bahasa yang Terabaikan

0
191

Ole: Hanna Suteja, S. Pd., M. Hum.

KETERAMPILAN bahasa dibagi dalam empat kategori utama yaitu menulis, membaca, berbicara, dan menyimak. Namun demikian tidak semua ketrampilan ini dilakukan dengan porsi yang sama dalam komunikasi. Menurut Worth (2004) waktu yang kita gunakan dalam komunikasi: 9% untuk menulis, 16% untuk membaca, 30% untuk berbicara, dan 45% untuk menyimak. Di antara empat kegiatan komunikasi bisa dikatakan hampir separuh kegiatan komunikasi kita dilakukan dengan menyimak. Namun demikian dalam kenyataannya ketrampilan menyimak seringkali dipandang sebelah mata karena dianggap semua orang dapat melakukannya tanpa kesulitan dan tanpa harus mempelajarinya secara serius dan intensif.

Dalam bahasa Indonesia kata mendengar dan mendengarkan seringkali dianggap sama artinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendengar berarti dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga; tidak tuli, sedangkan mendengarkan berarti mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh; memasang telinga baik-baik untuk mendengar. Mendengar bisa dilakukan dengan sambil lalu, tetapi mendengarkan memerlukan perhatian dan konsentrasi. Menyimak dalam hal ini sama artinya dengan mendengarkan. Menurut KBBI menyimak berarti mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang dan meninjau (memeriksa, mempelajari) dengan teliti. Seringkali orang beranggapan menyimak adalah kegiatan komunikasi pasif karena pendengar hanya diam. Sebenarnya pikiran pendengar tidaklah diam; di dalam kepala pendengar sedang terjadi proses mental aktif untuk menangkap dan mencerna pesan/informasi yang sedang disampaikan.

Menyimak seringkali dianggap suatu kegiatan komunikasi yang secara otomatis dapat dilakukan setiap orang dan tidak harus dipelajari secara serius dan mendalam. Lain halnya dengan kemampuan berbicara; untuk berbicara dengan baik, khususnya berbicara di depan publik, orang merasa perlu untuk mempelajarinya secara khusus. Bahkan ada kelas-kelas yang menawarkan pelatihan public speaking dan cukup banyak orang yang berminat untuk mengikutinya karena berpikir kemampuan berbicara sangat penting untuk berkomunikasi secara efektif. Orang yang mampu berbicara dengan baik di depan umum dianggap sebagai komunikator yang handal. Demikian pula untuk kecakapan menulis yang paling kecil persentase penggunaannya (9%) dalam komunikasi juga mendapat perhatian yang cukup besar khususnya di dunia akademik. Untuk dapat menulis dengan efektif orang harus mempelajarinya dengan serius dan banyak berlatih menulis.

Bagaimana dengan kecakapan menyimak? Dapat dikatakan sedikit sekali kelas pelatihan khusus untuk mempelajari ketrampilan yang satu ini karena banyak orang merasa tidak memerlukannya. Kalaupun ada biasanya menjadi salah satu subyek dalam kelas bahasa, umumnya ketika mempelajari bahasa asing. Ketika menyimak dalam bahasa ibu sendiri, kita tidak terlalu merasakan kegiatan tsb sulit. Meskipun dalam kenyataannya, kita tidak selalu dapat menangkap dan mengerti apa yang kita simak dalam bahasa kita sendiri. Apalagi jika kita harus menyimak dalam bahasa asing; proses menyimak tidak lagi menjadi kegiatan komunikasi yang sederhana.

Jika kita merujuk persentase 45% untuk kegiatan menyimak dalam komunikasi seperti yang disebutkan di atas oleh Worth (2004), kita seharusnya memberikan perhatian lebih besar dibandingkan dengan ketrampilan berbicara, bahkan untuk menyimak dalam bahasa ibu sekalipun.

Wolvin (2010) menyebutkan kegiatan menyimak sebagai aktivitas relasional dan kognitif. Setiap hari kita melakukan kegiatan ini untuk berelasi dengan orang lain baik untuk kepentingan hubungan sosial, kerja, dan pendidikan. Setiap hari kita berbicara dan mendengarkan berbagai hal tentang keluarga, teman dan juga kita mendengarkan instruksi, pesan dan informasi dari guru/dosen, atau atasan, rekan kerja/bisnis, dan klien kita dalam konteks kerja. Terjalinnya hubungan dengan orang lain menuntut seseorang untuk menjadi penyimak yang baik dan efektif.

Komunikasi tidak akan berlangsung baik jika seseorang hanya ingin didengarkan saja, tetapi tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan pihak lain. Sebagaimana anatomi tubuh kita, manusia diberikan satu mulut untuk berbicara tetapi sepasang telinga untuk mendengarkan. Kegiatan menyimak menuntut fokus perhatian bukan pada diri sendiri tetapi pihak lain,

Memberikan perhatian kepada lawan bicara akan memperkuat dan meningkatkan kualitas hubungan kedua belah pihak. Saat ini banyak terjadi defisit hubungan karena salah satu atau kedua belah pihak tidak mau saling mendengarkan. Pemerintah dikatakan tidak pro rakyat ketika pemerintah tidak mau mendengar keinginan/tuntutan warga. Partai politik hanya mengusung kepentingan para petingginya dan tidak menghiraukan aspirasi konstituennya. Banyak kesalah-pahaman terjadi dalam hubungan orang tua dan anak karena salah satu atau kedua belah pihak tidak saling mendengarkan.

Para guru/dosen memposisikan peserta didiknya sebagai pendengar dan penerima informasi dan pengetahuan saja. Apa jadinya dengan komunikasi yang timpang ini?

Hubungan relasional menjadi terkendala karenanya.

Kegiatan menyimak sering dianggap remeh walaupun kegiatan ini sebenarya melibatkan proses mental yang begitu kompleks dan acapkali tidak disadari oleh sipenyimak sendiri. Lee dan Hatesohl menyebutkan kegiatan meyimak menggunakan 25 % kapasitas mental kita sehingga kita masih memiliki kapasitas sebesar 75% untuk melakukan hal lain ketika mendengarkan. Hal ini tidaklah mengherankan karena kita masih dapat melakukan kegiatan lain sewaktu kita mendengarkan orang lain berbicara; kita masih dapat memikirkan hal lain juga selain apa yang kita dengarkan.

Kondisi seperti ini nampaknya tidak bermasalah karena kita dapat melakukan beberapa hal dalam waktu bersamaan dengan menyimak. Namun demikian hal ini dapat menjadi penghalang bagi seorang pendengar untuk menjaga konsentrasi sewaktu menyimak.

Kegiatan menyimak seringkali direduksi hanya sebagai bagian kegiatan komunikasi manusia yang hanya menerima dan bersifat pasif (Wolvin , 2010) Menurut Bourdeaud’hui, dkk. (2018) proses menyimak dibagi dalam enam tahap yaitu mendengar, mengerti, mengingat, menafsirkan, menilai, dan merespon. Adanya tahapan-tahapan ini menunjukkan bahwa proses menyimak bukanlah proses yang sederhana dan bisa dilakukan dengan mudah.

Menyimak bukan saja sekedar mendengar secara pasif; kita perlu mendengarkan baik-baik informasi agar dapat mengerti. Selanjutnya mengerti sesuatu tidak selalu berarti dapat mengingatnya. Dan betapa seringnya kita lupa atau hanya dapat mengingat sedikit/sebagian dari apa yang telah kita dengarkan.

Tahap berikutnya menafsirkan informasi yang kita ingat dan menilainya dan akhirnya memberikan respon berdasarkan penilaian kita. Dengan menelusuri tahapan-tahapan ini kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa kegiatan menyimak adalah kegiatan pasif. Keputusan diambil sesudah kita menyimak baik-baik isi pesan/informasi dan kemudian diakhiri dengan eksekusi keputusan tsb. Jadi kita tidak bisa menyederhanakan dan memandang sebelah mata pentingnya ketrampilan menyimak dalam komunikasi.

Kemampuan menyimak yang baik dapat meningkatkan kemampuan berbicara. Meskipun menyimak termasuk dalam kategori kegiatan reseptif dan berbicara sebagai kegiatan produktif, keduanya berhubungan erat. (Rahman, dkk. (2019) Dalam konteks mempelajari bahasa, pajanan mendengarkan bunyi bahasa dan bagaimana kata-kata dirangkai sedemikian untuk menyampaikan informasi sangatlah penting untuk pemerolehan bahasa. Fakta anak balita dapat berbicara bahasa ibunya tanpa harus belajar di sekolah terlebih dahulu bukanlah suatu fenomena yang mengherankan. Proses ini tentu tidak terjadi seketika dalam hidup seorang anak. Adanya pajanan mendengarkan percakapan di antara anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya setiap hari menjadi masukan bahasa yang sangat penting bagi proses pemerolehan bahasa ibu secara alamiah selain memang manusia juga sudah diberi potensi untuk berbahasa sejak lahir.

Demikian pula dengan pemerolehan bahasa kedua/ketiga dan seterusnya, masukan bahasa melalui mendengarkan sangatlah penting. Bahasa asing mungkin saja memiliki repertoar fonem yang tidak sama dengan bahasa ibu. Belum lagi cara pengucapan dan intonasinya yang mungkin berbeda haruslah diperhatikan dengan jalan menyimaknya secara intensif dengan perhatian penuh dan mempelajarinya secara mendalam.

Kemampuan berbicara dapat ditingkatkan dengan banyak menyimak. Untuk menjadi pembicara yang efektif seseorang perlu mendapatkan model dengan banyak mendengarkan pembicara yang mampu mengekspresikan pikirannya secara jelas dan terstruktur. Jadi bisa dikatakan masukan bahasa yang didengarkan juga berperan untuk meningkatkan kemampuan berbicara, baik untuk belajar berbicara bahasa ibu, bahasa asing, maupun menjadi pembicara yang efektif.

Dengan menyadari pentingnya peranan menyimak dalam komunikasi dan pembelajaran, hendaknya kita tidak lagi meremehkan ketrampilan ini. Sudah saatnya kita belajar menjadi pendengar yang baik dan efektif agar kita dapat meningkatkan hubungan kita dengan orang lain dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari banyak hal yang dapat kita simak untuk kemajuan kita.  ***

=========
*) Penulis adalah Dosen Bahasa Inggris
Universitas Pelita Harapan, Jakarta

Komentar ANDA?