Mulai Sekarang Engkau Akan Menjala Manusia

0
921

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr

Minggu Biasa V, 06 Februari 2022.
Bac. Yesaya 6: 1 – 8 dan 1Kor 15: 1 – 11 dan Injil  Lk 5: 1-11.

Sebagian besar nelayan kita bermukim di pesisir pantai. Setiap hari banting tulang memenuhi kebutuhan hidup. Banyak yang profesional tapi banyak juga yang masih tradisional. *Perilaku mereka juga banyak kali tak terpuji* karena rupa-rupa hal yang dapat kita pantau dari sana. Berlaku curang, mencuri misalnya, juga tipu daya dan caci maki orang dirasa sebagai hal yang wajar saja. Pengalaman serupa mirip dengan nabi Yesaya. Ketika mendapat penampakan Cahaya Ilahi, dia yakin dapat celaka. Karena dia sendiri rasa diri najis bibir di tengah bangsa yang berdosa.

Luas Danau Galilea hanya sekitar 13 Mil panjangnya. Sedangkan lebarnya 8 mil yang dikelilingi perbukitan. Tempat itu menjadi zona hidup Simon dan Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk mengadu nasib mereka. Dari tempat itu Yesus juga memanggil mereka menjadi murid-Nya. *Mulai sekarang kamu akan Kujadikan penjala manusia*. Meskipun demikian, pekerjaan sebagai nelayan tetap digeluti sebagai habitat awal mereka. Yesus akhirnya memanggil mereka untuk pelayanan khusus. Konsekuensinya mereka harus tinggalkan segala aktivitas di danau itu.

Kisah penangkapan ikan yang ajaib di danau membuat Petrus mampu melihat realitas dirinya. Ia sadar diri sebagai orang berdosa. Tak heran jika dia rasa diri tak pantas dekat Yesus. Lebih lagi ketika Yesus suruh dia labuhkan pukat. *Hasilnya sejumlah besar ikan yang mereka tangkap*. Padahal sebelumnya Petrus sempat berdebat sesuai pengalamannya sendiri. Ia tahu tak ada seekor ikanpun dapat ditangkap di siang bolong. Namun karena disuruh Tuhan maka ia ikut menebarkan jala juga. Karena keyakinan atas kata- kata Yesus maka Jala mereka hampir koyak. Bahkan tak ada perahu lagi yang mampu tampung hasil tangkapan ikan secara ajaib itu.

Baik nabi Yesaya, rasul Paulus, Petrus, cs merasa diri orang berdosa. *Belajar dari mereka, kita semuapun dipakai Tuhan menjadi sarana keselamatan*. Jika mereka telah melakukan transformasi diri secara total. Dari yang tak pantas menjadi pribadi berintegritas, maka kitapun seharusnya demikian. Antara bangga dan menyesal, rasul Paulus merasa diri hina. Tak pantas ia dijuluki rasul sebab ia telah menganiaya penganut Kristus. Hal yang paling membahagiakan dia adalah penampakan Tuhan atas dirinya, setelah para murid lain. Ia sungguh berpegang teguh pada kebenaran injil. Baginya, ibarat anak yang lahir sebelum waktu. Sebagai gantinya ia setia mewartakan Injil tanpa kenal lelah.

Kita telah dipersatukan oleh Kristus karena pembaptisan. Kita dipanggil dan diutus seperti para rasul perdana. Artinya kita harus tinggalkan segalanya dan datang kepada Yesus. Selanjutnya kita boleh mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Bagian hidup *yang tak bisa kita elak adalah tantangan, derita dan korban*. Tak seorang pun mampu lari dari padanya. Tak usah juga kita terobesesi hidup seperti para imam, biarawan, biarawati. Hidup selaku orang yang dipanggil dan diutus tak melekat pada tugas, profesi atau pekerjaan tiap orang, melainkan pada semangat kasih dan motivasi. Di situ kita menata hidup secara bermartabat. Bagaimana penghayatan akan panggilanmu sendiri?

Salam sehat di Hari Minggu buat semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kesehatan, keber- untungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin 🙏🙏🙏🌹✝️🌹🎁🛍️🍇🌽🔥🤝🤝🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang 

Komentar ANDA?