Museum Seribu Moko Selamatkan Warisan Budaya Alor

0
302

KALABAHI. NTTsatu.com – Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur memiliki budaya yang sangat menarik dan harus dikisahkan secara turun temurun. Karena itu pemerintah Kabupaten Alor membangun sebuah Museum yang dinamai Museum Seribu Moko untuk menyelamatkan warisan budaya di daerah ini.

Kepala Tata Usaha (KTU) Museum Seribu Moko, Yulianti Peni kepada wartawan di Museum Seribu Moko di Kabalahi, Jumat, 07 Agustus 2015 menjelaskan, Museum Seribu Moko ini dibangun pemerintah kabupaten Alor pada tahun 2003 lalu dan diresmikan tanggal 4 Mei 2004 oleh Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo (almarhum).

Yulianti menjelaskan, museum ini dibangun sebagai sebuah upaya untuk menyelematakan warisan budaya daerah ini yang sudah sangat banyak dibawah keluar daerah ini. Pemerintah mengkuatirkan, jika aneka budaya daerah ini tidak dijaga dan disimpan dengan baik, maka suatu saat akan punah dan tinggal kisah tutur kosong.

Museum ini juga dibangun untuk menyediakan tempat bagi masyarakat umum agar mereka bisa menyaksikan, mengagumi dan mempelajari lebih jauh tentang kebudayaan daerah ini.

“Museum ini dinamai Museum Seribu Moko. Moko itu sendiri mewakili orang Alor dengan kekayaan budayanya dan Seribu menggambarkan suatu kondisi banyak, beraneka ragam dan harapan yang besar,” jelas Yulianti.

Dalam museum ini tersimpan Nekara yang merupakan salah satu hasil kebudayaan masa perumdagian yang digunakan sebagai alat upacara. Ada nekara bertipe Heger I yang ditemukan di Kokar, kecamatan Alor Barat Laut pada tanggal 20 Agustus tahun 1972 oleh Simon J. Oilbaloi berdasarkan petunjuk mimpi Moko Pung.

Moko ini dipakai sebagai belis (mas kawin) bagi warga atau kelompk etnis Pantar, juga sebagai alat musik pada setiap upacara adat.

Ada juga Perahu Naga. Bagi masyarakat Alor, perahu naga adalah benda yang sangat penting dan sacral. Benda ini adalah representasi nenek moyang yang datang menggunakan perahu serta merupakan tempat pelaksanaan upacara adat Makan Baru.

Tersimpan juga Manusia Perungguyang ditemukan di Pantar. Diduga patung perunggu ini adalah patung Ratu Tungga Dewi, Ratu kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1328 – 1350.

Beberapa benda pusaka lainnya yang juga tersimpan dengan sangat rapih di Museum Seribu Moko itu adalah Muti Lempeng dan tusuk Rambut, Kain Kafate Muti, Anting-anting perak (Ulawang) danGelang kaki.

Selain itu ada juga benda-benda yang disimpan sebagai bukti masuknya pengaruh luar di Alor. Barang-barang itu seperti Lumbia yang berasal dari China, Piring Porselin juga dari China, Kain Sutra Watolai-Saleri Cindae yang berasal dari India, Kopiah Istambul dari Turki, meriam atau mortir dari Belanda dan Portugis dan perlengkapan pakaian adat Bugis Makasar berupa keris. (bp)

======

Foto: Julianti Peni, KTU Museum Seribu Moko

Komentar ANDA?