Nasionalisme  Golkar  Sudah Teruji dan Tidak Mudah Terprovokasi

0
281

NTTsatu.com – KUPANG  – Partai Golongan Karya (Golkar) mulai dari  tingkat pusat hingga daerah termasuk di Nusa Tenggara Timur hingga kini teruji nasionalismenya mengawal Pacasila, UUD 45 serta menegakkan NKRI. 

Sumber kekuatannya adalah karena dalam tubuh Golkar tidak mengenal sekat terkait berbagai perbedaan seperti ras, agama, daerah atau perbedaan lainnya. Karena itu sangat sulit terpovokasi.

Demikian antara lain sari diskusi publik bertema Golkar Berkarya Lintas Zaman, di DPD Golkar NTT di Kupang, Sabtu (20/10). Dibuka oleh Ketua DPD I Golkar NTT, Melki Laka Lena yang didamping sekretarisnya, Inche Sayuna, diskusi itu merupakan puncak dari rangkaian ancara peringatan HUT Golkar ke-54 tingkat provinsi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Guber nur NTT Josep Nae Soi, Bupati Sabu Raijua Nikodemus Rihi Heke, para sesepuh Golkar NTT seperti JN Manafe, Frans Skera, Felix Pullu, Acry Deo Datus, Daniel Adoe, Umbu Saga Anakaka dan kalangan pengurus Golkar NTT bersama ratusan mahasiswa. Dipandu Pius Rengka, diskusi berlangsung seru dan penuh semangat.

Josep Nae Soi menegaskan tidak ada sekat di tubuh Partai Golkar mulai dari pusat hingga daerah. Itu karna golkar adalah partai nasionalis yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. “Bagi saya terhadap Partai Golkar, ada paduan antara benci tapi juga mencintainya,” kata Joseph Nae Soi.

Ia mengakui, pada awalnya atau ketika dirinya masih sebagai aktivis mahasiswa, sangat membenci Golkar karena yang dia tahu dalam partai ini tidak demokratis. Sumber kebencian lainnya adalah karena ia sering mendengar kalau di Golkar NTT sering diwarnai pergesekan hanya karena perbedaan agama terutama antara Katolik dan Protestan.

Namun kebencian itu langsung pupus setelah Yosep Nae Soi bergabung dengan Golkar sejak tahun 1997. Diakui setelah di dalam, ia menyaksikan proses pengambilan keputusan ternyata selalu demokratis. Isu adanya pergesekan karena perbedaan agama di tubuh Golkar NTT pun terbantah dengan sendirinya.

Bagi Yosep Nae Soi (yang Katolik), bantahan itu terjadi setelah ia ditemui oleh JN Manafe (Protestan) yang adalah Ketua Golkar NTT, 21 tahun lalu, dengan rekomendai mengejutkan. Katanya, JN Manafe malah yang merekomendasikan Yosep Nae Soi menjabat Ketua Bidang Keagamaan di DPP Golkar.

“Rekomendasi itu sekaligus membuktikan tidak benar ada pergesekan karena perbedaan agama di Golkar NTT.” kisahnya.

Perihal isu adanya pergesekan dalam tubuh Golkar NTT karena perbedaan agama atau persaingan antar suku, juga terbantahkan dari kesaksian mantan Wali Kota Kupang, Daniel Adoe yang hingga kini tetap Golkar.

Daniel Adoe (protestan) mengaku guru politiknya di Golkar dulu adalah orang Flores yang Katolik . “Selama bersama Golkar, yang membesarkan saya bukan orang Rote sesama daerah asal saya, tapi justru orang Flores,” katanya.

Mantan Ketua Golkar NTT, JN Manafe mengingatkan keadilan dan pemerataan dalah fondasi kekuatan Golkar. Kekuatan itu harus terwujud melalui penentuan caleg dan juga dalam struktur kepengurusan. “Unsur kekuatan itu harus tetap dijaga kedepannya,” tutur JN Manafe.

JN Manafe dipercayakan pimpinan Golkar NTT pada 1975. Diakui saat itu amat sulit mencari kader muda yang siap bergabung dengan Golkar. Padahal tugas utama yang diemban JN Manafe adalah persiapan pemilu 1977. Tercatat dalam jumlah terbatas generasi muda yang bergabung dengan Golkar saat itu adalah John Adjid (dosen Undana) dan Nggadas. Meski begitu, Golkar NTT dalam pemilu 1977 berhasil meraup 90 persen suara.

Rangkaian acara HUT ke 54 Golkar di Kupang juga mengelar sejumlah kegiatan lainnya. Di antaranya stand up comedy dengan jumlah peserta 16 orang, lomba mewarnai diikuti 152 anak, ziarah ke Makam Pahlawan (TMP) Kupang. Puncak acaranya ditutup goyang zumba bersama di halaman DPRD Golkar NTT, Sabtu petang.

========

Foto: Kegiatan Talkshow pada HUT Partai Golkar ke-54 di aula DPD Partai Golkar NTT, Sabtu, 20 Oktober 2018

Komentar ANDA?