Nilo, Ada Tempat Wisata Rohani Maria Bunda Segala Bangsa

0
603

Kalau di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ada tempat wisata Rohani di Belo bernama Taman Doa Yesus Maria, ada beberapa daerah lainnya juga memiliki tempat wisata rohani lain bahkan sudah muncul lebih dahulu. Tempat-tempat doa itu dibangun sebagai sarana untuk mendekatkan manusia dengan Sang Ilahi. Namun, sejalan dengan perkembangan, tempat doa itu bergeser menjadi tempat wisata dan sering mengaburkan tujuan utama. Orang berdatangan bukan untuk berdoa, mendekatkan diri dengan Tuhan, tetapi hanya sekedar berwisata.

Di pulau Flores, ada sejumlah tempat wisata rohani yang cukup indah dan menarik sehingga Flores serung menjadi salah satu tujuan wisata rohani di Indonesia yang masih unik dengan kesakralan yang terus terpelihara dengan baik hingga saat ini.

Selain wisata rohani yang sudah mendunia yakni prosesi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, obyek wisata rohani yang muncul belakangan ini adalah tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa yang terletak di Nilo, Maumere, Kabupaten Sikka,

Nilo yang lebih akrab disebut Bukit Nilo tepatnya di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita terletak sekitar 7 kilo meter dari Kota Maumere, itu merupakan salah satu lokasi wisata rohani yang patut dikunjungi..

Tempat ziarah ini mulai dibangun tahun 2004 dengan sebuah patung Bunda Maria yang diberi nama Patung Maria Bunda Segala Bansa terbuat dari perunggu. Tempat ini sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah, baik dalam maupun luar negeri.

***

Beberapa waktu lalu ketika mengunjungi Bukit Nilo, tempat siara Maria Buda Segala Bangsa, ada begitu banya kesan yang muncul ketika tiba di lokasi tersebut. Perjalanan dari koa Maumere dengan jarak tempuh sekitar 45 meniti itu memang mengasyikkan, Kedaraan melewati perjalanan yang sepih yang dihiasi tanaman bambu di bagian kiri dan kanan jalan hingga jalan masuk ke tempat ziarah di bukit Keling-Nilo.

Dari kejauhan, sudah, kita sudah melihat sebuah Batung yang berdiri begitu anggun.. Pertama-tama patung Bunda Maria terlihat sangat kecil, lalu lama kelamaan semakin besar dan semakin besar. Yang uniknya lagi, seolah-olah kita memutari Bunda Maria, atau seolah-olah Bunda Marialah yang memutari kita! Wah, sungguh asik menikmati perubahan pemandangan seperti itu. Apalagi, suasana di sekeliling jalan masih suasana yang sangat alami, hanya ada padang rumput dan pepohonan.

Ketika tiba di gerbang lokasi patung Bunda Maria Nilo, setiap peziarah harus mendaftar terlebih dahulu sebelum memasuki kawasan wisata rohani itu. Dari buku famu yang disodorkan itu, ternyata peziahar yang dating tidak hanya dari Flores, atau bahkan Indonesia saja. Banyak pengunjung dari Jerman, Amerika, dan juga Jepang!

Peziarah manca negara itu menurut pengakuan penjaga, biasanya mereka datang pada bulan-bulan Mei atau Oktober, bulan-bulan yang dikenal sebagai bulan devosi kepada Bunda Maria.

Setelah mengisi buku tamu, kendaraan diparkir di lokasi itu, dan pengunjung harus berjalan kaki sekitar setengah kilometer untuk mencapai lokasi tempat patung berada. Ada sejuta rasa yang menyelinap masuk dalam hati masing-masing peziarah yang hanya bisa dirasakan sendiri-sendiri. Betapa terkagum-kagumnya ketika melihat sebuah patung Bunda Maria setinggi 18 meter berdiri tegak.

Patung Bunda Maria yang merupakan bangunan tertinggi di Kabupaten Sikka itu berdiri di atas ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut, menghadap ke arah utara kota Maumere. Jadi, patung Maria Bunda Segala Bangsa itu mengarah ke laut Flores, dengan kota Maumere persis di bawahnya. Seolah-olah Bunda Maria sendiri yang menjaga dan melindungi kota pantai yang cantik di daratan Flores itu.

Dari areal ziarah sendiri kita bisa melihat kota Maumere lengkap dengan pantainya yang biru dan bersih di bawah. Dan konon, dari kota Maumere pun patung Maria Bunda Segala Bangsa ini bisa kelihatan. Saya membayangkan, mungkin persis patung Kristus Raja di Sao Paolo atau di Dilli.

Patung Maria Bunda Segala Bangsa sendiri dibangun di atas pondasi beton berupa tiang empat kaki yang dicat kecoklatan dan dihiasi dengan bermacam-macam motif tenun ikat Sikka. Di atas kepala patung Bunda Maria terdapat bintang, sementara kedua tangannya terbuka. Kedua kakinya berdiri di atas bola dunia yang dilingkari ular sambil memakan buah apel.

Di bawahnya disediakan tempat yang cukup luas untuk berdoa, lengkap dengan lilin dan korek api. Tidak jauh dari situ dibangun juga replika taman Getsemani, lengkap dengan patung Yesus yang sedang berdoa.

Patung yang dibangun oleh Tarekat Pasionis (CP) dengan kerja sama umat ini diberkati dan dibuka secara resmi sebagai tempat ziarah oleh Almarhum Uskup Agung Ende Mgr. Abdon Longinus da Cunha pada 31 Mei 2005, akhir bulan Maria. Tidak lama setelah itu, tepatnya Desember 2005, Keuskupan Maumere kemudian dibentuk dari wilayah Keuskupan Agung Ende.

Bagi umat katolik Maumere ini tentu merupakan berkat yang tidak terhingga. Sampai sekarang mereka percaya, campur tangan Bunda Maria lah yang memungkinkan hal itu terjadi. Patung seberat 6 ton ini juga ternyata tidak luput dari masalah.

Pada 21 Januari 2006, hujan lebat dan angin kencang yang selama satu minggu penuh mendera kota Maumere menumbangkan patung Maria itu dari pondasinya. Konon, tangan dan mahkota patung menyentuh tanah tetapi kedua kaki patung masih tegak di atas bola dunia. Patung itu segera diperbaiki dan dibangun kembali.

Setelah itu tercatat sebuah kejadian “aneh” lagi menimpa patung tersebut. Pada tanggal 31 Agustus 2007 pagi hari banyak warga setempat melaporkan bahwa patung Bunda Maria berputar selama beberapa menit. Otoritas Gereja Katolik saat itu yang diwakili oleh P. Frans Fao, Vikjen Keuskupan Maumere menanggapi fenomena ini sebagai momen untuk berefleksi dan tidak ingin larut dalam sensasi yang ditimbulkan.

Setelah itu tidak terdengar lagi berita aneh-aneh tentang patung Bunda Maria Nilo.  Bagi saya sendiri, berziarah ke patung Maria, Bunda Segala Bangsa, sungguh memberikan perasaan lain. Perasaan aman, damai, dan tenang. Entahlah, mungkin karena melihat Bunda Maria yang begitu besar, namun anggun dan teduh. Bunda Maria berdiri di atas sebuah bukit hijau.

Bila kita menatap wajahnya, wajahnya seolah-olah bercahaya di bawah kilau sinar matahari. Langit biru dan awan putih seolah-olah dekat sekali dengan beliau, dan sesekali sekawanan burung terbang melintasi dan memencar di sekitar beliau. Wah, sungguh saya tidak mau menukar pengalaman ini dengan apa pun. (bop/ berbagai sumber)

 

Komentar ANDA?