Nodu, Tresi, Siti, Stella, Ratu dan Ama Pendobrak Keterpencilan Misi Fores dan Sunda Kecil

0
1218
Foto: KM. Arnoldus dan KM.St.Theresia yang sedang berlabuh di pelabuhan Larantuka ( Foto: P.Alex Beding)

Oleh : Thomas Ataladjar

 

Banyak orang Flores, Lembata, Adonara dan Solor juga Timor tentu pernah menikmati jasa kapal-kapal yang dijadikan sebagai alat transportasi melintasi daerah kepulauan itu. Ada Nodu (Arnoldus), Tresi (Theresia) , Siti (Siti Nirmala), Stella (Stella Maris), Ratu (Ratu Rosari) dan Ama. Kapal-kapal itu menjadi pendobrak keterisolasian di daerah saat itu sebelum terjamah tranportasi yang marak dan canggih belakangan ini.  Namun banyak yang tidak tahu, dari mana Kapal-Kapal itu didatangkan. Karena itu tulisan ini ingin menguraikan semuanya agar mengembalikan kenangan masa lalu bagi yang pernah menikmati jasa pelayaran dengan kapal-kapal itu.

 

Feitoria, Fortaleza, dan Igreja (bagian pertama)

Menurut kisah, Nabi Nuh membuat bahteranya atas perintah Tuhan untuk selamatkan keluarganya, kaumnya yang beriman serta pasangan hewan seantero jagat  dari bencana air bah yang melanda dunia. Maka boleh jadi  kapal Nuh ini merupakan  kapal pertama di dunia. Sejak kapal dikenal manusia, teknologi  pembuatan kapal terus dikembangkan. Mulai kapal dayung, layar, kapal uap, kapal motor dan sebagainya.

Tahun 1450-1460 oleh orang Eropa disebut Age of Age Discovery atau masa penemuan dan Ages of Expansion  atau masa perluasan kekuasaan. Pada masa ini mereka mampu mengembangkan ilmu pengetahuan di segala bidang, terutama pelayaran dan teknologi pendukungnya. Selain kapal laut, Eropa barat telah menyempurnakan meriam. Teknologi inilah  yang memungkinkan bangsa-bangsa Eropa melakukan penjelajahan dunia.

Sejak saat itu muncul navigator kondang dunia dengan kapal dan armadanya.Columbus dengan kapalnya Santa Maria, Pinta dan Nina,tahun 1492 tiba di Guanahani, Bahama, Karibia. Ia mengira sudah menemukan India, penghasil rempah.

Bartolomesus Diaz dengan kapalnya Sao Caravel Cristovao pada Mei 1488 tiba di Tanjung Harapan, Afrika Selatan.  Vasco dan Gama dengan armadanya,kapal Sao Gabriel,Sao Rafael, Caravel dan sebuah kapal lainnya, tiba di Calicut, India 20 Mei 1498. Dan pada 1511 Alfonso de Albuquerque menaklukan Malaka.

Setelah menemukan kepulauan rempah-rempah, Maluku,  penguasa dan pedagang serta pelaut  Eropa seperti Portugis, Spanyol , Inggris dan Belanda mulai berlomba-lomba mengirimkan juga armadanya untuk mencari rempah-rempah dan berdagang.Cornelis de Houtman dengan armadanya Amsterdam, Mauritius, Hollandia dan Duyken, tiba di Banten 1596.

Sejumlah navigator kondang dunia bahkan sempat melintasi perairan dan singgah di  Nusa Tenggara Timur. Kapal Victoria yang dinahkodai Juan Sebastian Elcano didampingi juru tulis asal Italia Pigafetta, merupakan kapal pertama dan satu-satunya dari armada Spanyol pimpinan  Magalhaens yang berhasil mengelilingi dunia. Selepas dari Philipina dan Maluku, kapal Victoria melintas di perairan Pulau Batutara dan Kalikur sebelum berlabuh di Alor dari  9 sampai 25 Januari 1522, untuk mencari tambahan air dan perbekalan.

Sementara navigator Inggris William Dampier dengan Kapal Roebeck, setelah menyusuri pantai utara Australia, sempat  singgah di Timor dan berlabuh di Lifao untuk mencari tambahan air dan perbekalan tahun 1699. Kapal Inggris lainnya Endeavour pimpinan navigator James Cook, sekembalinya dari meneliti Transit of Venus di Tahiti, sempat singgah di Sabu dari 17 -21 September 1770. Sementara Kapten Wiliam Bligh dari Inggris, setelah kapalnya Bounty dirampas oleh anak buahnya sendiri yang memberontak  April 1789, ia diturunkan  ke dalam sebuah sekoci kecil di Tahiti dan dihalau ke tengah samudera. Setelah berlayar sekitar 6.667 km selama 40 hari, Bligh bersama bersama 18 anak buahnya,  akhirnya terdampar di Kupang.

Foto: Mgr. Petrus Noyen,SVD ( 1870-1921
Perfektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil

Misi dagang bangsa Eropa ke Asia ini kemudian berkembang menjadi Tri Misi yang diringkas dengan tiga kata yakni feitoria, fortaleza, dan igreja.  Feitoria = Pos Perdagangan, Fortaleza = Kubu Kekuatam Militer dan Igreja = Misi Gereja,  atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik, yang juga  dikenal dengan sebutan Tiga G, Gold, Glory, dan Gospel.

Khusus untuk  misi Gospel, bangsa Portugis yang menduduki Malaka 1511 dan gagal menanamkan pengaruhnya di Kerajaan Sunda Pajajaran, lalu mengalihkan perhatiannya langsung ke negeri penghasil rempah-rempah, Maluku dan penghasil cendana di Nusa Tenggara Timur. Mereka dengan cepat menguasai perdagangan rempah-rempah dan cendana di belahan timur nusantara ini termasuk Kepulauan Solor.

Pada 1513, Tome Pires menulis, “Kepulauan Solor sangat luas. Mempunyai seorang raja yang masih menyembah berhala. Memiliki banyak pelabuhan dan bahan makanan dalam jumlah besar. Mempunyai asam Jawa yang tak terbilang banyaknya. Mempunyai banyak belerang. Bangsa Portugis mengambil sejumlah makanan dari pulau-pulau ini ke Malaka….”

Sejak menjejakan kaki pertama kali di Solor tahun 1550, Portugis tidak saja mau menjadikan Solor sebagai bandar singgahan antara Maluku dan Malaka sekaligus pusat kekuasaannya.

Pedagang-pedagang Portugis awam itu  mulai menjalankan misi Igrejanya, disamping feitoria, Fortaleza. Tanpa suatu perutusan resmi, dengan cara tersendiri mereka membuka peluang untuk menjadikan Pulau Solor pusat perkembangan Gereja Katolik. Misi igreja ini ditandai dengan datangnya seorang imam Dominikan, P. Antonio de Tevaira yang mengajar dan mempermandikan banyak orang.

Pada 1562,  tiga misionaris Dominikan pertama Pater Antonio da Cruz, Pater Simao das Chagas dan Bruder Alexio  mulai menetap di Solor. Dan pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai mendirikan sebuah benteng  di Lohayong guna melindungi misionaris serta umatnya dari serangan musuh. Para misionaris Portugis ini datang ke Misi Solor dengan menumpang kapal-kapal dagang.

Pada 18 April 1613 benteng Lohayong  jatuh ke tangan Belanda dan mengganti namanya menjadi Fort (Benteng) Henricus. Melihat suasana yang tidak kondusif tersebut, padre-padri  Dominikan memindahkan markasnya ke Larantuka. Walaupun kemudian Portugis  harus angkat kaki dari Flores Timur  pindah ke Timor Timur,  namun agama katolik terus bertahan hingga saat ini.

Namun yang juga  terus menjadi kendala utama bagi karya pelayanan misi adalah komunikasi, transportasi serta minimnya sarana transportasi di kawasan  berpulau yang luas dengan medan yang berat. (bersambung)

Komentar ANDA?