Ohon Hebo.Ritual Adat Sebelum Pemakaman

0
1451

SEMUA daerah tentu memiliki rutual adat berbeda-beda dalam proses pemakaman jenazah seseorang yang meninggal terutama orang tua. Perbedaan itu dapat dilihat  mulai dari penyebutan nama atau istilah, prosesnya dan caranya. Namun yang pasti tujuanya sama yakni memberikan perhatian yang besar serta restu dan dukungan doa agar arwah orang yang meninggal itu dapat dengan ringan langkah menghadap Sang Khalik pemilik kehidupan ini.

Masyarakat di pulau Adonara Kabupaten Flores Timur hingga kini masih mentaati secara sempurna ritual-ritual adat dan budaya yang diwariskan leluhur mereka. Ritual adat itu mulai dari ritual menyambut kelahiran seorang bayi, menikahkan anak dengan aneka ritus adat seperti pemberian belis dan sebagainya hingga menguburkan orang mati.

Terkait ritual adat kematian terutama orang dawasa, ritual harus dilakukan secara utuh mulai dari persemayaman jenazah hingga pemakaman. Saat meninggal, jenazah pertama masih disemayamkan dalam rumah, namun beberapa saat kemudian jenazah akan di bawah keluar dan disemayamkan di halaman depan rumah.

Jenazah diletakkan di atas sebuah bale-bale (tempat tidur) kecil yang di buat.  dari bambu tanpa kaki. Bale-bale tempat meletakkan jenazah itu itu sudah diatur dengan baik diletakkan diatas terpal. Saat jenazah dibawa keluar rumah dan ditempatkan diatas bale-bale tesebut, keluarga dekat seperti istri atau suami dan anak-anak akan duduk menjaga mayat itu, Meletakkan jenazah di atas bale-bale bambu yang ditempatkan di halaman depan rumah memiliki banyak maknai.

Seperti yang dikisahkan seorang tokoh masayarakat sekaligus tokoh adat kampong Bale, desa Pepageka, Kecamatan Klubagolit, Burhan Boro, meletakan jenazah di atas bale-bale bambu dan disemayamkan di depan rumah tinggal orang yang meninggal memiliki arti antara lain agar duka yang dialami keluarga itu tidak hanya berada dalam rumah dan dialami oleh mereka sendiri.

“Membawa keluar mayat dari dalam rumah untuk disemayamkan di halaman depan rumah itu adalah keluarga ingin membagi duka itu kepada semua orang yang dating. Selain itu juga untuk memudahkan orang yang datang melayat. Mereka tidak berdesak-desakan dalam rumah apalagi rumah dalam ukuran yang kecil,” kata Burhan Boro.

Namun secara adat lanjut Burhan Boro, biarlah arwah yang meninggal itu membawa semua nala milanen (salah dan dosa) keluarga mulai da istri atau suami dan anak-anak sehingga mereka yang ditinggalkan tidak lagi menanggung nala milanen orang yang meninggal itu. Rumah juga dibersihkan dari segala yang jahat agar mereka yang mendiami rumah itu mengalami kebahagiaan tanpa gangguan apapun.

Sebuah ritual yang amat penting yang harus dilakukan dalam seluruh rangkaian prosesi ada kematian itu adalah acaranya bae lake. Acara yang dilakukan ini adalah penting yakni untuk memandihkan jenazah dan mempersiapkan jenazah itu sebelum di kuburkan. Memandkan jenazah tidak sama arti dan caranya seperti memandikan jenazah dalam ritual agama Islam.

Upacara adat bae lake adalah upacara adat yang dilakukan oleh pihak kerabat bila ada orang yang meninggal dunia, pada ritual adat bae lake pihak yang melaksanakannya adalah pihak keluarga ibu dari orang yang meninggal dunia, ritual dilaksanakan dengan melalui beberapa prosesi, diantaranya mencuci rambut orang yang meninggal dengan santa kelapa, menyisir rambutnya kemudian ditutup dengan pemberian snaek  atau selendang dari bahan kwatek (sarung) serta knube ( parang  khas Adonara yang panjang) kepada pihak keluarga orang yang meninggal.

Ritual bae lake ini dilakukan oleh keluarga besar dari pihak ibu orang yang meninggal, biasaya mereka datang dalam rombongan besar layaknya melakukan acara lamaran. Ibu ibu dan kaum remaja putri yang datang menggunakan pakaian adat dan membawa barang barang yang akan diserahkan ke pihak keluarga duka. Kedatangan rombongan bae lake itu disambut dengan menyediakan tempat dan makanan yang cukup , seperti layaknya menyambut tamu istimewa. Ritual bae lake ini juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal tersebut.

Rombongan bae lake datang dengan membawa bawaan puluhan lembar pakaian. Kalau yang meninggal itu adalah wanita, maka mereka membawa kwatek atau kain tenunan sarung untuk wanita dan kain lipa, sedangkan jika yang meninggal itu laki-laki maka mereka membawah kremot atau kain tenunan khusus untuk lelaki serta kan lipa.

Selain bawaan seperti ini, mereka juga membawa kelapa, sisir dan bedak juga jagung dan pisang. Kelapa itu akan diadkan santan untuk mencuci rambut orang yang meninggal kemudian menyisirnya dengan sisir yang mereka bawah dan memberikan bedak seadanya.

Burhan Boro menuturkan, makna ritual adat Ohon Hebo adalah untuk membersihkan dirinya sehingga dia bisa pergi dengan aman dan mereka berharap dia tidak akan mengalami kesulitan dalam perjalanan yang bakal ditempuhnya. Arwah orang yang meninggal ini tidak akan terantuk dan selalu dalam keadaan bersih untuk menghadap Sang Khalik dan sudah memiliki bekal berupa jagung dan pisang yang dibawa bae laked tersebut.

Keluarga duka menyiapkan sebilah parang yang disebut  knube serta alat pengukur kelapa yang disebut knaru. . Knube tersebut dipergunakan untuk membelah kepala, kemudian belahan kelapa itu dikukur dengan knaru kemudian dibuatkan santan untuk menggosok kepala orang yang meninggal.

Setelah selesai pemakaman, pada hari keempat setelah meinggal, keluarga duka akan mengantar bawaan kepada keluaga bae lake. Hewan piaraan yang diantar adalah kambing dalam jumlahb yang tidak pasti.

Menurut Boro Burak, kalau sesuai ritual adat sesungguhnya, hanya tiga ekor kambing besar yang diantar oleh keluarga duka kepada keluarga bae lake, namun sekarang bisa menjjadi sekitar sepuluh ekor, tergantung strata social orang yang meninggal.

Sementara di rumah duka juga disiapkan perjamuan untuk menjamu semua orang yang datang, Selanjutnya pada hari berikutnya, keluarga duka juga akan  memotong sisa hewan yang diantar waktu meninggal. Semua orang yang “berjasa” sejak kematian hingga malam terakhir itu diundang untuk dating dan makan bersama yang diistilahkan dengan bua lewon atau memberi makan semua orang dikampung.

Selanjutnya beberapa hari setelah acara bua lewon itu keluarga duka akan melakukan acara terakhi yakni pembagian bawaan dari balelake dan keluarga lainnya seperti kwatek, kremot dan kain lipa. Pembagian itu berdasarkan seberapa banyak dan seberapa besar bawaan mereka.. .(bop)

Komentar ANDA?