Oknum DPRD, Pendeta dan Pastor Idap HIV/AIDS

0
359

KUPANG. NTTsatu.com – Ternyata, ada oknum anggota DPRD, pendeta, pastor dan pejabat pemerintah juga diduga kuat terinveksi penyakit HIV/AIDS.

Kondisi ini memang membenarkan kalau Virus HIV/AIDS atau dalam Bahasa Inggris Human Immunodeficiency Virus infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome tidak mengenal jabatan, strata sosial, pria atau wanita, anak-anak atau dewasa.

Sayang, karena strata sosial, mereka enggan terbuka dan mendapatkan pertolongan, sehingga harus meregang nyawa tanpa penanganan medis secara khusus, layaknya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Dan, tidak menutup kemungkinan, dari semua kita yang belum pernah memeriksakan diri di Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) juga sudah terinveksi virus tersebut.

Bukan untuk menakut-nakuti. Memang terdengar sedikit seram. Namun sekadar mengingatkan, bahwa tes di Klinik VCT itu gratis, namun harus sukarela. Lalu bagaimana mendata pengidap HIV/AIDS, tentu banyak cara. Selain melalui Klinik VCT, bisa melalui data dari rumah sakit yang merawat pasien dengan virus tersebut.

Data yang dihimpun dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi NTT menyebutkan, jumlah orang NTT yang terinveksi virus tersebut terus meningkat sejak ditemukan pertama di NTT tahun 1997 lalu. Bahkan kasus yang berhasil didata mencapai 3.585 kasus dengan masing-masing, HIV 1740 kasus, AIDS 1845 kasus dan yang meninggal 712 orang.

Pengelola Program KPA Provinsi NTT, Gusti Brewon yang dikonfirmasi mengakui, data yang dipegang KPAD NTT bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Namun pihak KPAD sendiri belum berani menyebut bahwa angka tersebut adalah angka yang tepat. Selain karena pendataan dari Dinkes yang belum maksimal, juga masih banyak masyarakat yang belum rela memeriksakan diri ke Klinik VCT.

Belum lagi ketika dikonfirmasi terkait adanya dugaan oknum pejabat yang terinveksi virus tersebut dan tidak tertolong nyawanya.

“Intinya, virus ini tidak kenal kau itu pejabat atau bukan. Siapa saja bisa kena kalau perilaku seks menyimpang dan tidak setia dengan pasangan. Dan masyarakat NTT, belanja seks itu bisa, tetapi belanja kondom tidak mau. Padahal kondom yang murah itu bisa selamatkan dia dari HIV/AIDS,” kata Gusti Brewon.

Sebagai pengelola program KPAD, Gusti mengaku menemukan berbagai macam perilaku masyarakat NTT yang masih sulit untuk disadarkan. Misalnya terkait mereka yang sudah tertular virus tersebut. Banyak pasien yang enggan mengakui dan mencari pengobatan lain. Bahkan mereka yang sudah tertangani oleh KPAD pun beralih ke pengobatan lain dengan berbagai alasan.

“Memang ketika ketahuan mengidap HIV/AIDS, tentu malu karena ketahuan mungkin pernah berhubungan badan secara tidak sehat. Namun bukan karena malu lalu tidak mau ditolong. Kalau mau terbuka dengan kami, kami pasti akan bantu secara maksimal karena obatnya gratis. Misalnya ada teman-teman ODHA yang masih bertahan hidup sampai 20 tahun karena minum obat antiretroviral (ARV). Ada juga anak kecil yang dulu terinveksi HIV dan dia minum obat ini sampai sekarang sudah SMA. Jadi sebenarnya bisa tertolong walaupun memang harus sabar dan tekun untuk menum obat ini setiap hari dan disediakan oleh pemerintah secara gratis,” papar Gusti.

Sebenarnya HIV/AIDS tidak lagi seseram 20 tahun lalu ketika virus ini muncul. Apala lagi sampai saat ini belum ada obatnya. Namun secara medis, ketika orang mengidap HIV, maka sangat mungkin untuk dibantu dengan obat ARV. Karena ARV dapat mengendalikan virus tersebut agar tidak meningkat menjadi AIDS.

Bahkan menurut Gusti, mereka yang sudah pada tingkatan AIDS pun masih bisa bertahan hidup kalau rutin mengonsumsi ARV.

“Intinya jangan ditutupi. Jangan sampai sudah parah baru kasitahu. dan yang terjadi, biasanya semakin tinggi jabatannya, semakin tertutup. Apalagi kalau pejabat publik atau tokoh agama. Pasti tidak mau malu,” bebernya.

Gusti bahkan sempat mengritik para calon bupati/wakil bupati di sembilan kabupaten yang akan bertarung di pilkada 9 Desember nanti. Tidak ada satupun calon yang menyinggung penanganan kasus HIV/AIDS. Ini menunjukkan bahwa pemerintah belum melihat hal ini sebagai salah satu isu penting yang harus ditangani secara bersama. Karena kembali lagi kepada proses penularan virus ini, yakni paling banyak melalui hubungan seks

Nah, tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan seks antar manusia terjadi setiap saat, dimana saja dan dengan siapa saja. Sehingga kemungkinan penyebaran virus ini sangat tinggi. (sumber : timor expres)

Komentar ANDA?