Orang Buta itu Pergi Membasuh Diri Sehingga Ia Dapat Melihat

0
146

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr

Hari Minggu Pekan IV Prapaska*, 19 Maret 2023.
Bacaan. 1Sam 16: 1b, 6-7, 10-13a dan Efesus 5: 8-14 dan Injil Yoh 9: 1-14.

Baik bacaan pertama maupun Injil dapat saja mengundang perdebatan yang hangat. Pasalnya mengapa Eliab putra Isai yang dilihat oleh Samuel tak langsung diurapi tapi di cegah oleh Yahwe? Memang jelas sikap Allah bahwa: “Jikalau manusia melihat apa pun yang ada di depan matanya, maka Tuhan melihat dengan hati”. Sebab itu maka Daud anak bungsu Isai lah yang diurapi menjadi raja, bukan Eliab. Oleh karena kehendak-Nya maka apa yang dilihat Allah tak dapat dilihat oleh mata manusia.

Orang Farisi perdebatkan seorang muda yang buta dan disembuhkan oleh Yesus. Sejak lahir memang orang kenal dia buta tapi ketika berjumpa dengan Yesus ia dapat melihat kembali. Oleh para murid, kebutaan sejak lahir itu dihubungkan dengan dosa pribadi orang itu sendiri. Lainnya beranggapan bahwa mungkin juga karena dosa turunan orangtuanya maka ia lahir buta. Bagi orang Farisi peristiwa kesembuhan itu dipersoalkan justru karena terjadi pada hari Sabat maka mereka tak percaya.

Yesus menegaskan bahwa ihwal kebutaan itu tidak ada hubungan dengan dosa pribadi orang buta sendiri atau dosa orangtuanya. Bagi Yesus, dalam diri si buta itu, pekerjaan Allah harus dinyatakan. Peristiwa itu semakin meyakinkan orang buta tu bahwa Yesus yang telah menyembuhkan dirinya itu adalah Mesias.

Ia percaya dan mengakui Yesus dengan tulus. Pengalaman buta dan kegelapan yang menyelimuti orang itu sejak lahir ternyata bisa diatasi Yesus. Sebaliknya orang yang rasa diri bisa melihat dengan mata melek bisa saja menjadi buta karena tak dapat memahami dan melihat kasih dan kebaikan Tuhan dalam diri orang.

Kisah penyembuhan atas orang yang buta semenjak lahirnya merupakan karya Ilahi dari Allah Bapa. Yesus menyembuhkan jiwa dan raga orang itu maka dia terbebas dari dosa. Sebaliknya orang Farisi tak mampu memahami dengan iman yang mendalam apa yang dikerjakan Yesus. Mereka hanya pentingkan hal yang legal formal tapi mereka mengabaikan aspek kemanusiaan. Sejatinya kita semua diajak rasul Paulus hari ini agar hidup sebagai anak-anak Terang. Dari sebab itu perlu orang membuang perbuatan jahat sehingga bisa berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Banyak kali kita lebih fokus dan sibuk dengan urusan orang lain. Kita persoalkan kekurangan yang ada pada diri mereka. Banyak kali juga kita tak sampai mengakui kelebihan diri mereka. Jelas bahwa kasih dan kebaikan Allah dalam hidup itu kita abaikan. Oleh karena sibuk perhatikan orang maka kita lupa urus diri sendiri. Yesus ajak kita percaya akan kuasa Tuhan agar bisa melihat dunia, alam semesta sekitar dengan hati. Sebab apa yang dilihat hati belum tentu mampu dimengerti pikiran. Apakah kita sudah melihat kesulitan orang lain di sekitar dengan mata hati kita?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan Jasmani* di Hari Minggu masa Puasa buat semuanya. Tetap taat untuk menjalankan Prokes. Jika ADA, Bersyukurlah. Jika TAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGILAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?