PAD Rendah, Nasdem Pertanyakan Keseriusan Ansar

0
483
Foto: Suasana rapat paripurna DPRD Sikka, Jumat (9/3)

NTTsatu.com – MAUMERE – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sikka pada Tahun Anggaran 2017 terbilang rendah. Fraksi-fraksi di DPRD Sikka pun menyoroti realitas ini pada rapat paripurna, Jumat (9/3). Salah satunya Fraksi Partai Nasdem yang mempertanyakan keseriusan Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera dan Wakil Bupati Sikka Paolus Nong Susar ketika menentukan target PAD.

Sebagaimana laporan Pelaksana Tugas Bupati Sikka Paolus Nong Susar, bahwa realisasi PAD Sikka 2017 sebesar Rp 89.917.335.217,17 atau setara 62,93% dari target yang direncanakan sebesar Rp 142.894.813.580.

Fraksi Partai Nasdem menduga penurunan PAD disebabkan karena rendahnya kinerja satuan kerja perangkat daerah yang bersentuhan langsung. Nasdem berharap pemerintah harus lebih rasional dan masuk akal dalam menetapkan target pendapatan. Dengan demikian dalam pelaksanaannya dapat memenuhi target yang ditetapkan.

Hal senada disampaikan Fraksi PAN, yang menyampaikan kekecewaan atas rendahnya realisasi PAD Sikka. Fraksi ini menilai realitas ini merupakan buah dari kinerja seluruh jajaran pemerintah, terutama organisasi perangkat daerah pengelola PAD yang tidak mampu memaksimlkan potensi-potensi pendapatan.

“Fraksi PAN sangat yakin dan percaya jika seluruh organisasi perangkat daerah pengelola PAD mau bekerja maksimal dan cerdas, target PAD Tahun Anggaran 2017 akan tercapai,” tulis Fraksi PAN.

Sementara itu Fraksi Partai Hanura menyebut singkat bahwa rendahnya realisasi PAD menunjukkan bahwa kinerja pemerintah di bawah kepemimpinan Yoseph Ansar Rera dan Paolus Nong Susar masih belum maksimal.

Dalam nada diplomatis, Fraksi Partai Gerindra mengatakan semua program dan kegiatan di tahun 2017 telah dilaksanakan dan terlapor secara baik. Terlepas dari capaian realisasi PAD yang masih belum optimal dan realisasi program kegiatan yang bahkan hanya 0%, semuanya telah terlapor dengan baik.

Fraksi PKP Indonesia menyentil simpang siurnya realisasi PAD Sikka 2017, karena ada pendapat lain yang menyebutkan realisasi hanya mencapai Rp 40 miliar lebih. Jika ternyata hanya Rp 40 miliar lebih, Fraksi PKP Indonesia menilai ada benarnya juga, sejalan dengan keluhan bahwa keuangan daerah saat ini sangat goyah di tengah mobilitas pengeluran keuangan yang harus dibiayai untuk mendukung saetiap pelaksanaan program kegiatan yang telah terjadwal.

“Bahkan disinyalir juga ada item pembiayaan yang telah dianggarkan tidak akan dapat terealisasi mengingat kondisi kemampuan keuangan daerah saat ini. Oleh karena itu Fraksi PKP Indonesia memita penjelasan pemerintah terkait keakuratan data realisasi PAD 2017,” papar Alfridus Melanus Aeng, Ketua Fraksi PKP Indonesia.

Fraksi PDI Perjuangan memberi rapor cukup maksimal kepada Yoseph Ansar Rera dan Paolus Nong Susar atas laporan realisasi PAD 2017. Namun jika melihat objek yang menjadi realitas sumber pendapatan, Fraksi PDI Perjuangan berpendapat sesungguhnya realisasi pendapatan yang dicapai pemerintah sangatlah rendah.

“itu artinya secara holistik dapat dikatakan kinerja pemerintah tidak maksimal. Menurut observasi dan kajian Fraksi, masih terdapat banyak potensi dan sumber penerimaan daerah lainnya yang selama ini masih tercecer, belum diinventarisir apalagi dikelola secara baik,” tukas Darius Evensius, Ketua Fraksi PDI Perjuangan.

Dia menyebut seperti retribusi parkir, retribusi pasar, pajak tempat hiburan, pajak hotel dan restoran, pajak penerangan jalan, retribusi pengelolaan air minum, retribusi tempat wisata, dan masih banyak potensi lainnya yang dapat memberikan kontribusi terhadap penngkatan PAD.

Fraksi PDI Perjuangan bekeyakinan jika pemerintah serius dan fokus dalam menggali sektor-sektor penerimaan secara baik, niscaya PAD akan meningkat bahkan target capaiannya dapat dipatok lebih tinggi, dengan catatan semangat menggali pendapatan daerah tidak membebani rakyat.  (vic)

Komentar ANDA?