Pangdam : KODAM IX Udayana harus menjadi Embrio yang menjaga Pancasila

0
205
Foto: Pangdam Udayana Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak saat memberikan sambutan di Makorem Kupang, Senin, 05 Juni 2017

NTTsatu.com – KUPANG – Gangguan ISIS semakin kuat karena itu harus waspada, karena itu semua pihak termasuk jajaran TNI di wilayah Kodam IX Udayana para tentara harus menjadi embrio yang menjaga Pancasila.

“Saat ini Komandan ISIS yang ada di Suria sudah mendapatkan tekanan yang cukup besar sehingga ia memerintahkan seluruh anggotanya untuk kembali ke negaranya serta membawa tugas khusus yakni kembali untuk mengganggu pertahanan dan ketahanan dengan membuat gejolak ataupun ledakan-ledakan sehingga dunia mengetahui bahwa ISIS masih sangat kuat dan exis di dunia dan akan merebut seluruh persenjataan yang di miliki, sehingga jika kita masih tenang-tenang saja maka kita adalah sasaran empuk bagi ISIS, oleh karena itu kita harus sudah siap siaga menjaga Indonesia agar tetap aman,” tegas Komandan Pangdam IX/ Udayana, Mayjen TNI Komaruddin Simanjuntak, S.I.P., M.Si, dalam sambutannya pada buka puasa bersama di Makorem Wirasakti, Senin (5/6) petang.

Komaruddin mengataka, Fhilipina  merupakan bukti karena sudah  resmi dinyatakan Darurat Militer oleh Presiden Philipina sendiri, dan dua hari yang lalu sudah terjadi bom bunuh diri yang menewaskan sekitar  200 orang, baik itu Tentara, Polisi dan warga sipil, jadi jika Negara dalam komflik yang paling menjadi sasarannya adalah adalah rakyat, oleh sebab itu pihaknya menghimbau agar semua para pemimpin menyatulah dengan rakyat,menjaga rakyatmu dan juga menjaga negaramu dengan Idiologi yang sudah sah, dan jadilah kuat dengan adanya Pancasil sebagai Idiologi.

“Saya katakan disini Pancasila itu sudah benar jadi jangan ragu kamu. Saya perintahkan untuk KODAM IX Udayana harus menjadi Embrio menjaga Pancasila, dan semua komponen harus ikut menjadi penegak Pancasila, banggalah dengan Pancasila karena menyatukan kita dalam perbedaan,” katanya.

Saat ini masih terlihat jelas riak-riak kecil tentang Intoleransi di Indonesia, jangan pernah bermimpi memimpin Negara lain, dan jangan pula bermimpi bahwa saudara-saudara kita di luar Indonesia mau mengajari Bangsa Indonesia bertoleransi, karena guru besarnya toleransi ada di Indonesia dengan predikat yang sangat membanggakan yakni predikat Cumlaude, sehingga Indonesia harus berani untuk mengembangkan toleransi di mata dunia.

“Sejak sebelum merdeka kita sudah Bertoleransi, boleh kita lihat Sila Pertama Pancasila yakni Ketuhan yang Maha Esa, ini merupakan simbol untuk memberikan arti dari Tolerasi, karena Indonesia adalah milik semua agama, oleh karena itu Indonesia adalah berbeda, jika Indonesia tidak berbeda maka itu bukan Indonesia, dan jika Indonesia semuanya hitam maka itu bukanlah Indonesia dan jika Indonesia semua orang Batak maka itu bukan Indonesia, dan Indonesia adalah Berbeda,” imbuhnya.

Pihaknya sangat berharap dari Bumi Flobamora NTT ini menjadi Embrio di Indonesia untuk mengenyahkan sifat-sifat yang Intoleransi di Indonesia. (ambu).

Komentar ANDA?