Pendidikan Pancasila Harus Masuk Kurikulum Sekolah

0
197
Foto: Seminar Nasional Kebangsaan di Aula Sasando Kantor Gubernur NTT, Selasa, 30 Mei 2017

NTTsatu.com – KUPANG – Gubernur NTT Frans Lebu Raya menyatakan, pendidikan Pancasila harus menjadi kurikulum pendidikan di semua jenjang pendidikan seperti masa-masa lalu. Pasalnya nilai-nilai luhur Pancasila semakin hilang.

“Untuk urusan Ideologi yang menyangkut kelangsungan hidup berbangsa harus ditangani serius dalam sebuah institusi. Saya juga minta untuk dikaji kembali, agar pendidikan tentang Pancasila bisa masuk sebagai kurikulum nasional, jika tidak bisa, maka di daerah ini harus masuk dalam kurikulum lokal,” katanya saat membawakan sambutan dan membuka kegiatan Seminar Nasional “NTT rumah Pacasila” di Kupang, Selasa, 30 Mei 2017.

Seminar Nasional Kebangsaan ini diprakarsai oleh Forum Pembauran Kebangsaan bersama Pemerintah Provinsi NTT, bertajuk ‘Refleksi Pancasila di Rumah Pancasila, untuk Meneguhkan Relasi Damai Anak Bangsa.’

“Saya tetap meyakini Pancasila sebagai ideologi terbaik, saat ini juga nanti. Pancasila sebagai sebuah ideologi yang dinamis, selalu relevan dengan semua jaman. Saya berharap agar  seminar ini dapat melahirkan pemikiran-pemikiran brilian, supaya Pancasila bisa dihayati dan diamalkan” lanjut Gubernur menegaskan konsep Negara Bangsa, seraya menitipkan pesan untuk berani mengatakan tidak, kepada tawaran ideologi lain.

Gubernur dua periode ini meminta kepada semua yang hadir untuk menciptakan situasi yang tenang, agar umat Islam dapat menjalankan ibadah Puasanya dengan khusuk.

Dalam kesempatan itu juga, gubernur menginformasikan tentang rangkaian Kegiatan Bulan Bung Karno yang akan diselenggarakan di Kota Ende, mulai tanggal 1 hingga tanggal 21 Juni 2017 mendatang.

Sebagai bagian dari acara pembukaan seminar, juga dilakukan penyerahan akta hibah tanah lokasi monumen Garuda Pancasila dari Ir. Theodrus widodo bersama keluarga kepada Pemerintah Provinsi NTT. Suguhan lagu-lagu dan puisi turut menggugah rasa cinta tanah air.

Foto: Keluarga Theo Widodo menyerahkan secara resmi lahan untuk pembangunan Monumen Garuda Pancasila kepada Gubernur NTT

Dalam sesi pertama seminar, Ketua DPRD NTT, H. Anwar Pua Geno membawakan makalahnya dengan topik Pancasila dari sudut pandang Islam, dipandu oleh Pius Rengka sebagai moderator. Selanjutnya, dalam diskusi panel pada sesi kedua, dihadirkan tiga pemakalah dengan moderator Raymundus Lema.

Ketiga pemakalah dimaksud adalah Dr.Acry Deo Datus,MA dengan makalah berjudul Pancasila dan Karakter Kekuasaan Politik, Pdt.Dr. Mery Kolimon dengan makalah berjudul Pancasila sebagai sumber inspirasi dan aspirasi hidup damai Bangsa Indonesia dari perspektif Kristen dan Dr.Frits Fanggidae dengan materi berjudul Demokrasi Ekonomi dan Kesejahteraan.

Anwar Pua Geno yang didaulat sebagai pemateri pertama menyampaikan sepuluh poin pandangan dan refleksinya. Politisi Golkar itu mengajak peserta seminar untuk melihat Islam dari perspektif yang lebih luas. Ia mengajak untuk memahami Islam tidak saja sebagai agama tetapi juga sebagai sebuah dogma, ajaran atau konsep, pandangan-pandangan para tokoh hingga representasi organisasi kemasyarakatan yang dalam realitanya menunjukan bahwa, Indonesai adalah negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia.

“Pancasila, NKRI dan Undang-Undang Dasar 1945 sudah final, Harga Mati. Yang lain Mati saja,” katanya  seraya menyampaikan ucapan terima kasih, atas dukungan masyarakat NTT kepadanya sebagai Ketua DPRD. Sambil berkelakar, beliau menyebut namanya sering disebut di level nasional, sebagai tokoh muslim yang memimpin di daerah Kristen.

Sementara itu, Dr.Acry Deo Datus mengingatkan ancaman berbangsa yang bisa saja terpecah belah, ber-Bhineka tetapi tidak Tunggal Ika. Dr.Frits mengajukan pandangan tentang pentingnya melegislasi sistem perekonomian kita seturut konsep Bung Hatta. Sedangkan Dr.Mery Kolimon menegaskan beberapa konsep tentang damai secara utuh, termasuk pandangan Kristen tentang Pancasila.

“Negeri ini terlalu indah untuk diberikan kepada para penjahat. Kita mesti memastikan Kota Kupang dan NTT menjadi rumah yang sejahtera bagi semua anak bangsa, apa pun agama dan latar belakang suku dan bahasanya” begitu kata Pdt.Dr.Mery Kolimon yang juga adalah Ketua Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT).

Hadir dalam  acara yang berakhir sore tadi perwakilan dari unsur Forkompinda Provinsi NTT, Bupati Sumba Barat, Wakil Bupati Sumba Tengah, para tokoh agama, pengurus dan anggota Forum Pembauran Kebangsaan, Forum Kerukunan Umat Beragama bersama  Unit Kesatuan Bangsa dan Politik dari Kabupaten/Kota se-NTT.

Secara khusus, hadir Perwakilan Unit Kesatuan Bangsa dan Politik dari Sumatera Utara, Sulawesi tengah, Kalimantan tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Bali. (bp)

Komentar ANDA?