PENDIDIKAN, POTENSI DAN AKTUALISASI DIRI.

0
537

Oleh: Dra. Christina Purwanti, M.Pd.
( Dosen Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan ).

Kebutuhan akan pendidikan berada pada level paling atas dalam dunia modern sekarang. Siapa pun disebut sebagai ‘yang berpendidikan’ apalagi berpendidikan tinggi memandang hidup ini lebih ringan dan enteng karena terhadap persoalan yang terjadi dalam dunia sekitarnya, cara menghadapinya selalu berbeda dan sangat khas. Perbedaan dan kekahasan sebagai orang yang berpendidikan dalam menyelami setiap problem, selalu disertai dengan berbagai pertimbangan atas nilai pendidikan yang dihadapi. Perlu diketahui bahwa, pendidikan dengan segala hingar-bingar problemnya, ketika berada pada garis pemikiran konsep teori Abrahan Maslow, kebutuhan akan pendidikan ini berada pada tingkat paling rendah dari kebutuhan akan aktualisasi diri. Persoalan tentang aktulisasi diri adalah satu tendensi kodrati manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan diri semaksimal mungkin. Pertahanan dan pengembangan diri yang maksimal amat relatif berbeda bagi setiap pribadi sesuai potensi dan kemampuan yang dimillikinya. Potensi manusia merupakan suatu kekuatan atau kemampuan yang timbul dari dalam diri manusia yang menggerakkan manusia untuk mengaktualisasikan diri termasuk kebutuhan untuk mengetahui dan memahami apa yang seharusnya bagi manusia. Karena itu, orang yang mengaktualisasikan diri adalah orang yang bebas dari aneka kesulitan dan mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, mampu menggunakan potensi kekuatan secara positif, dimotivasikan oleh nilai-nilai tertentu yang diperjuangkan dan yang disertainya.

Nilai aktualisasi diri dalam pendidikan sangat berpengaruh terhadap proses humanisasi yang lazimnya dalam pendidikan berkaitan dengan institusi. Dengan kata lain, pendidikan sebagai institusi mempunyai peranan dalam proses humanisasi manusia. Proses ini sesungguhnya berlangsung praksis pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Dalam proses pendidikan, manusia sebagai makhluk terbatas saling menuntun satu sama lain dalam artian pendidik dan peserta didik saling menuntun menuju proses penemuan diri. Dengan demikian masing-masing pribadi sanggup menjadi dirinya sendiri. Pendidik dan peserta didik dibantu untuk menyadari potensi dirinya dan berupaya untuk mengaktualisasikannya.

Pendidikan yang yang bervisi humanitas seperti tergambar di atas, sering disalahartikan dalam setiap praksis pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan modern yang bermotifkan ingin mencari benefit sepihak dan bahwa para peserta didik melihat lembaga pendidikan sebagai medan untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya. Peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan hanya terbatas sebagai ilmu. Dengan kata lain, orientasi pendidikan bukan untuk manusia melainkan untuk pendidikan itu sendiri.

Sebuah pertanyaan besar muncul dalam bidang pendidikan modern: Bagaimana orientasi sesungguhnya dari pendididkan?
Dalam melihat orientasi sesungguhnya dari pendidikan, Paulo Freire, seorang pendidik yang berasal dari Brasilia Utara, meretas kesulitan ini dengan mengemukakan pemikirannya bahwa pendidikan sesungguhnya merupakan proses penyadaran, di mana pendidik dan peserta didik bersama-sama menyadari potensi dirinya dan berkembang berdasarkan potensi yang ada. Pengetahuan merupakan objek yang selalu membantu subjek-subjek pendidikan, untuk menyadari potensi dirinya. Pengetahuan adalah sarana dan bukan tujuan dalam proses pendidikan.

Bahwa dalam pendidikan, para pendidik menganggap peserta didik sebagai orang yang tidak tau apa-apa atau dengan istilah sarkastisnya adalah bodoh. Karena itu konsekuensinya mereka harus menghafal secara mekanis atas apa yang diajarkan oleh pendidiknya. Di sini peran peserta didik adalah objek

Peserta didik adalah objek, lokus atau tempat pelemparan atau pengalihan pengetahuan pendidiknya. Peserta didik dalam hal ini selalu berada pada posisi pasif dalam proses pengkajian. Pada bagian ini Freire, hadir dalam konsepnya tentang pendidikan. Ia merumuskan ide pendidikan sebagai yang membebaskan berdasarkan konsepnya tentang manusia sebagai makhluk sadar. Pendidikan sebagai praktik pembebasan bukan merupakan penyebaran atau pengalihan pengetahuan teknik. Pendidikan bukan tindakan menanamkan laporan, segala informasi atau fakta ke dalam diri peserta didik. Pendidikan bukan juga merupakan tindakan ekstensif, atau usaha mengadaptasikan peserta didik ke dalam lingkup sosial tertentu. Pendidikan sejati terutama merupakan proses penyadaran demi pembebasan di mana dalam proses ini pendidik bukanlah subjek yang tau segala. Sebaliknya peserta didik bukanlah objek, tempat proyeksi semua ide pendidik.

Pendidikan sebagai proses penyadaran demi pembebasan sebenarnya menyanggupkan pendidik dan peserta didik bersama-sama sebagai subjek utuh di hadapan pengetahuan yang mengantarai mereka. Dapat saya katakan dalam ulasan opini ini bahwa mereka saling menuntun sabagai saudara menuju suatu aktualisasi diri yang asli. Inilah proses humanisasi yang berprinsip utamanya yakni dialog. Pendidik dan peserta didik menjalin dialog interpersonal menuju aktualisasi diri. Karena itu pengetahuan bukanlah hadiah dari atas yakni seorang pendidik kepada peserta didik, melainkan sebagai materi atau bahan dialog yang berasal dari kedua belah pihak. Pengetahuan yang sedang didialogkan antara pendidik dan peserta didik bukan mengasingkan mereka, melainkan menjadikan mereka subyek utuh yang mampu memilih menjadi diri sendiri. Jadi, antara pendidik dan peserta didik sama-sama ditengarai oleh pengetahuan sebagai bahan yang harus dikaji bersama dalam dialog.

Tentu dalan proses pendidikan yang tengah berjalan atau sedang berjalan dewasa ini seharusnya bisa menghasilkan “Pribadi yang Berpendidikan”.

Harapan utama dalam seluruh proses pendidikan adalah menghasilkan pribadi yang berpendidikan. Perlu dipahami bahwa pribadi yang berpendidikan tidak secara otomatis terbentuk sebagai sebuah resep yang siap pakai ( to get ready for use ). Ia tumbuh dalam proses. Proses pendidikan itu sendiri merujuk pada prinsip utamanya adalah memanusiakan manusia lain dengan; Berpikir Kritis, dalam artian orang tidak menerima begitu saja apa yang ditangkap atau yang muncul dalam benaknya, melainkan secara selektif menerima setiap pernyataan, memberi afirmasi dengan dasar pemikiran, dan juga disertai alasan yang ketat. Selain berpikir kritis ada juga Berpikir Metodis dalam artian, dalam proses berpikir dan menyelidiki segala sesuatu, orang menggunakan suatu cara pendekatan tertentu. Selain berpikir kritis, metodis, ada juga Berpikir Sistematis dalam artian, proses berpikir seorang pemikir ilmiah mestinya dijiwai oleh suatu idea yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga keseluruhan pemikiran selalu berkesinambungan satu sama lain secara intens.

Pedidikan, potensi dan aktualisasi diri, berjalan dalam satu kesadaran sebagai manusia yang berpedidikan.
Semoga bermanfaat. ***

Komentar ANDA?