Pengembangan Holtikultura, Warga Timung Minta Embung

0
184
Foto: Kolam penampungan air milik Matheus Bagung di Timung (Foto: Hironimus Dale)

RUTENG. NTTsatu.com – Warga Timung Desa Golo Cador Kecamatan Wae Ri,i  Kabupaten Manggarai meminta Pemda setempat untuk membangun embung. Embung sangan dibutuhkan agar petani  bisa membudidayakan tanaman holtikultura pada musim kemarau nanti.

Sejumlah warga setempat selama ini mengembangkan tanaman holtikultura namun sering mengalami kesulitan air pada musim kemarau. Tanamam yang selalu dibudidayakan warga antara lain cabe, terong, aneka sayuran dan beberapa jenis tanaman holtikultura lainnya.

“Ada warga yang tunggu air Pam (Pipa Air minum) hingga malam hari untuk menyirami tanaman mereka. Karena itu dibutuhkan embung agar bisa menampung air pada musim hujan yang akan digunakan pada musim kemarau nanti,” kata Flavianus Gampur seorang warga setempat kepada NTTSatu.com, Senin ( 23/1).

Dia mengatakan di bagian barat desa Golo Cador persis di depan kantor camat  Wae Ri,I,  warga sangat sulit mendapatkan air untuk tanaman holtikultura sehingga petani hanya bisa menanamkan  pisang dan ubi kayu jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air pada proses pertumbuhanya.

Warga  sudah mencoba melakukan budidaya tanaman holtikultura itupun tidak  banyak  karena kesulitan air untuk menyirami tanaman holtikultura.

“ Besar kerinduan kami  untuk merubah pola tanam  dari hanya tanam pisang dan ubi kayu menuju budidaya tanaman holtikultura,” kata Flavianus.

Sementara Matheus Bagung  salah seorang Guru  PNS   mengatakan, dia  sudah mulai budidaya hotikultura di lahan 0,5 Ha di wilayah tersebut dengan menanam ribuan tanaman terung sejak tahun 2016. Hasilnya ternyata bisa mengalahkan gajinya sebagai seorang guru yang PNS.

Selama ini dia   tidak mengalami kesulitan air karena di lahan tersebut terdapat  sumber mata air. Dia membuat kolam ikan sebagai tempat penampungan.

“Lahan di wilayah cocok untuk tanaman sayur-mayur. Saya sudah mencobanya sejak tahun lalu dan hasilnya sangat memuaskan,” kata guru Biologi ini.

Dirinya sudah mulai membentuk kelompok tani kecil yang belajar di lahan terung miliknya tetapi kesulitan yang sedang dialami sekarang adalah masalah air untuk menyiram tanaman tersebut.

“Demi petani disini, saya rela lokasi sumber mata air di lahanku ini dibuat embung untuk kebutuhan petani lainya yang mau merubah pola tanam,” katanya.

Ditambahahkanya, wilayah Timung listrik sudah masuk sehingga air bisa disedot menggunakan mesin penyedot air.

“Saya siap  mendampingi petani agar merubah pola tanam. Kami tidak punya modal  bangun embung dan alat penyedot air   untuk penyiraman  tanaman sayur-mayur. Karena itu kami minta pemerintah bangun embung di lokasi ini,” katanya.

Dia yakin ratusan ha lahan warga di daerah ini sangat cocok untuk budidaya tanaman holtikultura. Jika masalah air sudah bisa terjawab, para petani akan merubah pola tanam dari hanya menanam singkong dan pisang ke tanaman holtikultura yang bisa mendatangkan uang dengan cepat dan lebih banyak lagi. (mus)

Komentar ANDA?