Pengembangan Kopi Colol Butuh Ketegasan Pemimpin

0
312

KUPANG. NTTsatu.com – Memiliki kepedulian terhadap kekahasan dan cita rasa Kopi Colol, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggara Timur, Frans Sarong menggagas diskusi dengan sejumlah komponen masyarakat Manggarai di Kupang, Sabtu (7/11/2015). Karena keberadaan kopi Colol dengan dua jenis, yakni arabika dan robusta tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah setempat.
Frans Sarong menyatakan, butuh ketegasan dan gebrakan pemimpin daerah untuk mengembangkan Kopi Colol, apalagi telah menjuarai kompetisi uji rasa kopi nasional yang diadakan di Bayuwangi, Jawa Timur pada Oktober 2015 dan mendapat kesempatan mengisi supermarket di Belanda.
Putra Manggarai Timur yang seharian sebagai wartawan Harian Kompas ini menuturkan, dalam kompetisi uji rasa kopi nasional itu, panitia menguji 137 sampel kopi di seluruh Indonesia. Kontes menilai aroma, tingkat keasaman, tingkat kepekatan, tingkat kemanisan, dan keseimbangan rasa yang ada dalam kopi.
“Dalam uji rasa itu, kopi Manggarai yang dipetik dari perkebunan milik John Sehtis, warga Manggarai Timur mendapatkan skor paling tinggi,” kata Frans.
Menurutnya, kopi adalah komoditas unggulan bagi masyarakat Manggarai, khususnya Colol. Karena dari total produksi sekitar 6.000 sampai 7.000 ton per tahun, sebagian besar disumbang oleh petani Colol. Karena itu, dibutuhkan pemimpin Manggarai Timur ke depan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Kopi Colol yang memenangkan kompetisi uji rasa kopi nasional, menunjukkan bahwa Kopi Colol punya khas tersendiri. Hal ini juga yang harus menjadi pandun dalam kegiatan budidaya kopi.
Selain itu, lanjut Frans Sarong, dalam konteks pengembangan kopi Colol, harus dilakukan penelitian apakah ditanam di tempat lain masih memiliki kekhasan yang sama dengan yang ditanam di Colol. Wilayah Colol harus mampu memproduksi benih kopi, selain memberi keuntungan yang cukup besar kepada petani karena harganya lebih mahal, tapi juga memperkuat posisi tawar petani di mata pengusaha pembeli komoditas kopi.
“Pemimpin harus bisa ambil tindakan tegas kepada pengusaha yang membeli kopi belum matang, termasuk mencabut izin operasi pembelian di Manggarai Timur. Tentunya, harus ada payung hukum yang dibuat untuk mengatur persoalan ini,” papar Frans.
Ia mengakui, memang untuk perluasan areal lahan terkait pengembangan kopi Colol berhadapan dengan sejumlah persoalan. Misalkan, kawasan Colol dan sekitarnya masuk dalam Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yang menjadi sumber air.
Memang kopi Colol tidak diberi pupuk kimia, tapi topografi menyebabkan tanaman kopi terkontaminasi atau terkena dampak akibat penggunaan pupuk kimia di lahan persawahan di sekitarnya. Ini bukan berarti, pemerintah menyerah dengan keadaan yang ada, tapi harus mencari solusi agar kopi Colol tetap eksis dan terus dikembangkan.
Robert Marsianus Sila, salah seorang peserta diskusi menyampaikan, sejumlah petani membabat kopi dan menggantinya dengan menanam cengkeh. Hal ini dapat dimaklumi karena dari aspek ekonomi, nilai jual cengkeh lebih tinggi ketimbang kopi.
Untuk mengembalikan kejayaan kopi Manggarai, terutama kopi Colol, harus dilakukan provokasi kepada masyarakat tentang kualitas dan kekahasan kopi Colol agar petani kembali menanam kopi. Pemerintah juga harus memperhatikan aspek transportasi dalam kaitannya dengan distribusi hasil komoditas petani. Sehingga infrastruktur jalan dan jembatan, ke dan dari wilayah Colol harus diperhatikan secara maksimal.
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang, Anton Ugak meminta agar diskusi yang diselenggarakan kali ini bisa menjadi salah satu langkah strategis dalam rangka mengembangkan kopi Manggarai dan kopi Colol pada khususnya. (bp)
======
Foto: Frans Sarong Pengagas Diskusi tentang Kopi Manggarai

Komentar ANDA?