Peninjauan dan Penyerahan bantuan kesehatan di Puskesmas Danga Serta Lounching Pemberian Makanan Tambahan

0
519

NTTSATU.COM — NAGEKEO — Orang kesehatan yang baik bukan berpikir bagaimana mengobati orang, mereka berpikir bagaimana orang yang sehat tidak sakit, karena itu teori kesehatan kedapannya, menjaga agar semua orang sehat itu tidak boleh sakit, itu orang sudah mulai untuk berpikir kesana.

Demikian disampaikan Gubernur NTT, VBL saat melakukan peninjauan ke Puskesmas Danga, Sabtu 20 Mei 2023. Kunjungan kerja Gubernur NTT, VBL diawali dengan Peninjauan ke Puskesmas Danga di Kelurahan Danga Kecamatan Aesesa Selatan.

Dalam kunjungan kali ini, Gubernur VBL juga menyempatkan waktu untuk mengecek satu-persatu kesiapan dari masing masing unit kesehatan yang ada pada Puskesmas Danga, diantaranya ruang administrasi pasien, Ruang Tindakan, Ruang MTBS, Ruang Laboratorium, Ruang pemeriksaan kehamilan, dan beberapa ruang pendukung lainnya.

Mengawali laporannya, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Nagekeo, drg. Emerentiana Reni Wahjuningsih menyampaikan, “Saat ini kami sedang mengejar target penurunan stunting yang ditargetkan di Kabupaten Nagekeo adalah sebesar 5% dan yang sudah kami capai bersama para kader dan juga lintas sektoral melalui aksi konvergensi maka posisi stunting di Kabupaten Nagekeo saat ini berjumlah 914 orang, dan yang sudah kami lakukan dilapangan bersama dinas adalah intervensi paling hulu dengan pemberian tablet tambah darah pada anak-anak yang memasuki menstruasi pertama dan saat ini mereka berada bersama kita ditempat ini”.

Melanjutkan laporannya, beliau juga menyampaikan,”terkait inovasi-inovasi telah dilakukan melalui bapak-bapak lurah yang ada disini dan salah satunya bapak lurah danga, kemarin baru saja melaunching dapur sehat dan inovasi tersebut dilakukan kerjasama langsung dengan dinas kesehatan (dinkes) dan Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Dinas PK) untuk dilakukan revitalisasi UKS (Unit Kesehatan Sekolah) yang saat ini sedang berjalan dan diberi penguatan oleh Tim Medis Rumah Sakit Apung Ksatria Airlangga”. Untuk hal tersebut oleh bapak gubernur diminta agar dilaksanakan 2 (dua) kali dalam seminggu, khususnya terkait kesehatan mulut dan reproduksi.

Menanggapi laporan tersebut, Gubernur VBL menyampaikan agar pemberian tablet penambah darah dengan tujuan untuk menaikan Hb (Hemoglobin) bagi anak-anak yang memasuki masa menstruasi pertama agar kita untuk lebih difokuskan pada pangan lokal berbahan dasar kelor,

”Pemberian tablet penambah darah dengan tujuan untuk menaikan Hb bagi anak-anak yang memasuki menstruasi pertama agar lebih difokuskan pada pangan lokal berbahan dasar kelor karena kelor itu zat besinya tinggi, jadi harus dilatih agar masyarakat itu terbiasa mengkonsumsi pangan lokal, makan kelor karena bahan dan kandungannya lebih baik dari tablet tambah darah. Jadi riset kita harus sudah mengarah kesana, ke pangan lokal (kelor,red)”.

Lebih lanjut, Gubernur Viktor juga menyampaikan, “Jangan sampai terlalu berharap terhadap tablet, kalau seumpama orang selalu berharap kepada tablet sementara ada pangan lokal seperti kelor yang justru mengandung zat besi yang justru lebih baik dan bisa peroleh dari tempat dia sendiri apalagi Nagekeo,Riung dan daerah-daerah disekitarnya adalah bassenya kelor, untuk itu perlu didorong serius untuk konsumsi kelor, kurangi perlahan-lahan ketergantungan pada tablet dari rumah sakit, kita harus lebih banyak dorong ke kelor, tidak hanya Pemberian Makan Tambahan (PMT) pada bayi saja tetapi juga kepada anak-anak putri kita yang memasuki masa menstruasi pertama. Kecuali kalau tekanan darahnya mereka rendah sekali, itu tidak perlu kita berikan (kelor,red) ke dia karena takutnya dia dropp”.

Menanggapi laporan kader Pos Yandu terkait masalah stunting yang ada di puskesmas Danga, yang berjumlah 25 orang dan yang telah diintervensi, Gubernur menegaskan, “bagi balita kurang gizi dan yang mengalami gizi buruk yang sebelumnya berjumlah 32 dan turun menjadi 25 orang itu, setelah 2 tahun dia akan masuk dalam kategori stunting apabila setelah 2 tahun tidak diintervensi. Untuk itu sebelum 2 tahun atau yang datanya 0 sampai dengan 2 tahun yang dicurigai stunting atau calon stunting itu, sudah harus dipastikan untuk diintervensi dengan benar dan pastikan gizinya cukup supaya tidak masuk lagi dalam kategori stunting”.

“Untuk itu Pemberian Makanan Tambahan, semuanya harus dimulai dengan kelor, kelor itu harus nomor satu, nomor dua ubi/singkong, nomor tiga makan lokal lainnya yang punya kita sendiri, nanti kalau sudah benar benar mentok barulah telur, kenapa ? karena telur lebih sulit harus di cari lagi dan harus mengeluarkan sejumlah biaya, tetapi kalau kelor, ubi dan bahan pangan lokal lainnya, sudah tersedia dihalaman rumah, dikebun sehingga tinggal diambil dan diolah saja”. Sambung VBL.

“Didunia ini tidak ada satupun binatang ajaib, tetapi kalau pohon ajaib, itu ada namanya Kelor, jadi kita harus kelor yang paling utama, kandungan gizinya diatas telur, kandungan proteinnya diatas susu, kelor diatas daripada daging, kelor punya zat besi diatas daripada bayam, jadi kelor itu luar biasa, mengapa moringa (kelor) itu luar biasa, kita punya negara ini hebat hanya saja kita selalu meninggalkan kita punya potensi yang luar biasa hanya untuk melihat potensi lain, untuk itu kader pos yandu, kepala puskesmas, pak lurah, pak RT/RW dan lainnya, kalian punya tugas sekarang untuk setiap hari ngomong kelor, jelaskan dan sosialisasikan jika orang datang jangan sedikit-sedikit obat tambah darahlah, apalah, mulai sekarang itu dijauhkan dari cara berpikir kita karena kalau tidak tingkat ketergantungan kita terhadap “jakarta” akan sangat tinggi”. jelas putera Semau tersebut.

Lebih lanjut, beliau juga menegaskan,“Calon stunting diurus seperti apa itu yang harus diperjelas cara penanganannya dan yang sudah masuk kategori stunting diurus sampai 5 tahun supaya dia dapat kita yakini bahwa begitu 5 tahun dia mampu bersaing dengan saudara-saudaranya yang lain dalam beraktifitas secara baik,” tutup beliau.

Pada kunjungan kerja dan peninjauan di Puskesmas Danga kali ini juga dilaksanakan Penyerahan Bantuan Kesehatan berupa Kelambu, serbuk Kelor dan Bubuk abate sekaligus juga dilaksanakan Lounching Pemberian Makanan Tambahan Berbasis pangan lokal yang dilakukan secara simbolis oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. (sipers adpim)

Komentar ANDA?