Perantau itu Telah Pergi Selamanya

0
10168

Mengenang Pastor Stanislaw Ograbek, SBD ini ditulis oleh seorang imam muda Pater Yoseph Pati Mudaj, MSF melalui akun facebooknya dan diambil secara utuh untuk kota baca dan renungkan dengan baik

Pertemuan saya dengan Pastor Stanislaw Ograbek, SVD kurang lebih selama setahun terakhir saat ia tinggal di Paroki Katedral Palangka Raya. Sesekali kami bertemu di Keuskupan maupun di Katedral. Ada saatnya kami makan, minum dan rekreasi bersama.

Memang komunikasi kami tidak terlalu intens, namun setiap kali memandang misionaris Polandia ini, selalu ada energi positip yang saya rasakan.

Pagi ini setelah Misa (16/02), saya mendapat berita, Pater Stanis, SVD telah menghadap Tuhan, Sabtu 15/02, pkl. 23.59 di RS Vinsensius a Paulo Surabaya.

Meninggalkan negeri kelahirannya, Polandia, Pastor Stanis menghabiskan sisa hidupnya di Flores dan Kalimantan Tengah sebagai seorang Misionaris, kurang lebih 50 tahun.

Tahun 1965, ia bersama 19 teman seangkatan menuju Inonesia. Perjalanan panjang dimulai dari Warsawa melewati pegunungan Alpen dan beberapa negara Komunis. Pemeriksaan dan pengawalan cukup ketat diterapkan oleh petugas Imigrasi. Di Cekoslowakia, hampir saja ia ditahan karena masalah adiminstrasi. Di Napoli, mendengar bahwa dia berasal dari Polandia, seorang perwira bertanya padanya, apakah kamu seorang beriman atau komunis?

Situasi waktu itu memang menegangkan karena pengaruh komunisme. Pemerintah Komunis tidak mau memberi izin misionaris ke luar negeri. Waktu itu, Polandia berada di bawa kekuasaan Rusia. Pada tahun yang sama, di Indonesia juga sedang terjadi pergolakan atas gerakan Partai Komunis Indonesia.

Namun awal kedatangannya di Flores sungguh berkesan. Ketika naik-turun gunung di Manggarai dan melihat kali-kali di dasar lembah-lembah yang hijau atau melihat air terjun yang putih jatuh perlahan-lahan seperti kapuk jatuh dari pohon, ia bernyanyi, negeri ini indah. Negeri ini elok, negeri ini bertanya; entahkan dia menarik? Ia merasa bahagia atas penyambutan hangat di Borong-Manggarai.

“Kami tidak menduga bahwa acara yang bagus dan menarik ini adalah pokok dan pembukaan dari segala upacara adat di Manggarai, yang akan menyertai kami sampai ke pintu surga. Siapa tahu, barangkali lewat pintu gerbang firdaus kami akan dijemput lagi menurut adat Manggarai, paling kurang dengan tuak manis.” Tulis Pastor Stanis dalam buku, “50 Tahun di Pulau Flores dan Kalimantan.”

Selama kurang lebih 30 tahun ia berkarya di Pulau Flores. Selain sebagai Pastor Paroki, beliau juga yang membangun proyek jalan dan jembatan, bekerja sama dengan pemerintah Swiss. Ia dijuluki Pastor saksemen. Tidak berlebihan, umat dan masyarakat di Manggarai menjulukinya sebagai ‘penyelamat kedua.’ Beliau pun dianugerahi tanda penghargaan Cincin Emas oleh Gubernur NTT, Ben Mboi atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam pembangunan infrastruktur di propinsi NTT.

Pada malam ia meninggalkan Flores menuju Kalimantan, ia merasa cape dan sakit, setelah menyelesaikan jembatan Wae Aur. Ada beberapa lepuh pada tanggannya. Pada saat itu, ia menyadari dirinya sebagai Perantau Kecil. “Memudarnya Perantau Kecil,” tulisnya.

Ia tidak bisa memegang bolpoin untuk menulis kisah-kisah yang ia alami hari itu. Namun dalam cahaya pelita suram, ia menemukan petikan sajak Polandia dalam sebuah Majalah: “Kita akan dihancurkan oleh waktu, seperti oleh batu penggiling. Malam gelap gulita akan menelan Anda dan saya.”

Pada tahun 1994, Pastor Stansi pindah dan bekerja di Keuskupan Palangka Raya, sebagai Pastor Paroki Nanga Bulik. Dari Nanga Bulik, beliau mendapat tugas khusus menggalang Dana untuk membangun RS Katolik Palangka Raya, RS Awal Bros Betang Pambelum Palangka Raya. Kurang lebih 20 tahun bertugas di Keuskupan Palangka Raya.

Sabtu malam pukul 23.59 WIB, waktu menelan dan membawanya ke alam baka. Seperti saat meninggalkan Eropa, ada gugusan Bintang Utara yang bercahaya terang dan mengesankan. Bintang itu telah menyinari sebagian masyarakat Flores dan Kalimantan. Bintang itu kini tetap bernyala. Bintang itu adalah energi Positip yang saya rasakan pula.

“Bintang-bintang di langit bisa hilang dari pandangan mata, tetapi persahabatan di hati manusia tidak mungkin terbenam,” tulis Pater Stanis.

“Kita semua adalah perantau di dunia ini,” katanya pada suatu kesempatan. Selamat Jalan Pastor Stanis menuju Rumah Bapa yang abadi.

P. Yoseph Pati Mudaj, MSF

Komentar ANDA?