Perempuan Lintas Agama Kota Kupang Ikut Pelatihan Kekerasan Berbasis Gender

0
137

KUPANG. NTTsatu.com – Sebanyak 30 orang perempuan lintas agama Kota Kupang. Selasa, 10 November 2015 mengikut pelatihan konseling soal kekerasan berbasis gender.

Pelatihan ini diselenggarakan atas kerjasama Lembaga Rumah Perempuan Kupang dengan dukungan AFSC. Sejumlah pembicara yang hadir dalam kegiatan itu antara lain Pdt. Ina  Bara Pa, Balkis Soraya ,Pdt. Emy Sahertian, Dedy Manafe, Bertha Hangge dan Yuliana Ratu.

Dalam kesempatan itu, Derektris lembaga Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat-Sinlaeloe menjelaskan, tujuan   pelatihan konseling bagi perempuan lintas agama ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kekerasan terhadap perempuan. Serta meningkatkan ketrampilan peserta untuk melakukan pendampingan terhadap perempuan  dan anak korban kekerasan dan kasus toleransi.

Libby mengatakan, kekerasan berbasis gender adalah kekerasan yang paling banyak terjadi saat ini kerana ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuaan.

Data pendampingan Rumah Perempuan Kupang menunjukan bahawa sejak tahun 2000 sampai tahun 2010 sebanyak 1.405 kasus kekerasan berbasis gender yang didampingi lembaga ini.

“Faktor kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi antara lain oleh sistem patriarkat yang kental yang terinternalisasi didalam nya norma dan aturan yang ada ditengah masyarakat .Akibat dari sistem ini, perempuan dan anak terhambat untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negera,” tuturnya.

Dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan berbasi gender ini tentunya membutuhkan peran dan keterlibatan aktif dari semua unsur yang ada di tengah masyarakat terutama kelompok  perempuan lintas agama. Karena unsur-unsur yang ada di tengah masyarakat merupakan tokoh kunci dan juga sekagus orang terdekat korban yang dapat melakukan upaya pencegahan sekaligus pendampingan bagi korban jika mengalami kekerasan.

Sementara Dedy Menafe dalam metarinya soal perlindungan hukum bagi perempuan dan anak mengatakan, perlindungan perempuan dan anak, harus dirumuskan dalam regulasi yang mengatur seperti KUHP untuk perempuan pada umumnya.

Sedangkan, Balkis Soraya Tanof  dengan materinya tentang Sharing pengalaman hidup perempuan kemajemukan, mengatakan, persoalan terjadinya kekerasan terhadap perempuan berbasis gender   tidak pernah berkurang, tetapi terus bertambah sesuai data rumah perempuan dan juga adanya kekerasan yang diakibatkan oleh isu-isu agama.

“Memang kekerasan sering terjadi terhadap perempuan dikarenakan faktor kemiskinan, wawasan pendidikan, sehingga menyebabkan posisi tawar perempuan sangat rendah. Karena itu, marilah bergandengan tangan untuk bisa menyuarakan kedamaian,karena permpuan mempunyai fungsi kasih sayang  dari hati ke hati, dari perempuan untuk perempuan untuk Indonesia terlebih khususnya daerah ini,” katanya.(rif/bp)

=====

Foto : Pelatihan Perempuan Lintas Agama

Komentar ANDA?