Perguruan Tinggi di Lembata, Mungkinkah?

0
1043

Oleh: Robert  Bala

Apakah mungkin Lembata punya Perguruan Tinggi? Ini sebuah pertanyaan yang susah-susah gampang. Dari segi umurnya, ia sudah 21 tahun lebih sejak terpisah dari Flores Timur. Bila Nagekeo yang lahir jauh kemudian (2007, sementara Lembata 1999), sudah memiliki 2 Perguruan Tinggi: satu akademi komunitas dan satu lagi STKIP (yang rencananya menjadi institutut), maka seharusnya Lembaga punya peluang lebih bsar.

Dari segi jarak, Lembata punya alasan yang sangat besar. Sebagai kabupaten pulau, jarak yang ditempuh untuk ke luar daerah sangat jauh. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Hal itu belum lagi ditambah kesadaran bahwa hamper semua kabupaten di Flores punya Perguruan Tinggi. Malah ada yang punya lebih dari satu.

Memilih Model

Menurut Permendikbud no 7 Tahun 2020, Perguruan Tinggi memiliki 6 bentuk: Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Akademi, dan Akademi Komunitas. Universitas sebagai model PT terlengkap, disyaratkan perlu memiliki minimal 5 prodi dari minimal 3 rumpun ilmu. Tanah yang dibutuhkan minimal 10.000 m2.

Institut berada di bawahnya. Tanah yang dibutuhkan minima 8000 m2. Prodi yang dibutuhkan 3. Tuntutan lebih kurang dari sisi tanah yakni 5000 m2 dipersyratkan untuk Sekolah Tinggi, Politeknik, Akademi, dan Akademi Komunitas.

Barangkali yang perlu mendapatkan perhatian khusus tentang tenaga dosen dan jurusan yang terpilih. Setiap prodi diharuskan memiliki tenaga dosen 5 orang yang linear dari segi pendidiakn S1 dan S2. Persyaratan kemudian dilonggarkan menjadi 3 orang. Dua di antaranya bisa merupakan tenaga tidak tetap yang perlu mendapatkan izin dari Perugruan Tinggi induknya dengan keterangan beban mengajarnya belum mencapai 37,5 jam per minggu dan dapat melengkapinya di perguruan tinggi baru.

Kenyataan, mengingat semua usulan online, kendala yang paling utama adalah tenaga dosen. Banyak tenaga lulusan S2, tetapi tidak sedikitnya tidak linear. Hal itu akan mudah ditolak di saat awalnya. Karena itu tenaga dosen mestinya benar-benar dipersiapkan. Bagi yang hendak mendirikan Perguruan Tinggi, perlu memiliki rencana dari awal dalam menyiapkan tenaga pengajar.

Hal seperti ini tentu menjadi kendala terutama bagi kabupaten pulau seperti Lembata. Bila tidak diantisipasi oleh upaya menyiapkan orang-orang yang bersedia kembali ke ‘kampung’ sendiri, maka ditakutkan persyaratan ini akan tidak mudah dipenuhi.

Penetapan jumlah dosen tentu merupakan konsekuensi dari pemilihan jurusan yang tepat. Analisis tentang tingkat kejenuhan perguruan tinggi dan kekhasan yang akan ditawarkan perguruan tinggi menjadi hal yang sangat penting. Hal itu tentu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan internal (kabupaten) tetapi juga perlu menjadi bidikan kalau daerah lain bisa mengincar untuk belajar di sana.

Penentuan akan program studi yang dibutuhkan tentu sangat membutuhkan tenaga ahli yang meramunya sejak awal. Penyusunan proposal dalamnya terdapat analisis terhadap semua hal di atas sangat dibutuhkan.

Peran Pemda

Membuka Perguruan Tinggi sebenarnya bisa dilakukan oleh Yayasan. Setiap Yayasan yang sudah punya Akte Notaris, Pengesahan dari Kemenhumkam, terbuka menjadi Badang Penyelenggara Perguruan Tinggi.

Yang jadi pertanyaan: apakah Yayasan tersebut cukup kuat dari dana untuk menghidupi sebuah perguruan Tinggi dalam 5 tahun? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Yayasan memang nirlaba dan mestinya yang berani mendirikan Perguruan Tinggi telah menyisihkan sebagian besar anggaran untuk itu.

Tapi dalam kenyataan, banyak Yayasan keluarga yang didirikan dengan motivasi yang kadang kurang jelas. Jadinya dana yang tersedia sangat minim. Belum lagi ketika para pengurusnya bukan menghidupi Yayasan tetapi justru ikut ‘numpang’ hidup pada badan yang katanya nirlaba alias tidak mengejar laba atau keuntungan.

Dalam arti ini peran Pemda menjadi sangat penting. Apabila Lembata ingin memiliki Perguruan Tinggi maka usaha mempersiapkan tenaga dosen yang didahului analisis tentang program studi yang dibutuhkan menjadi hal yang sangat penting. Bisa dikatakan, apabila merancang sebuah PT maka lima tahun sebelumnya sudah dirancang termasuk mempersiapkan tenaga dosen.

Dalam analisis, Perguruan Tinggi juga mestinya melihat potensi wilayah sebagai objek kajian. Di sana potensi itu tidak bisa dikembangkan dengan mengharapkan suntikan dana dari pusat tetapi perlu lahir dari bawah. Jelasnya, PT mestinya menjadi bagian dalam mencetak wirausahawan handal. Mereka akan lahir menjadi wirausahwan yang mengadakan terobosan.

Upaya terobosan seperti ini mestinya tidak susah lagi dewasa ini. Dewasa ini internet telah menjangkau hampir Sebagian besar wilayah. Dengan demikian akses akan pengetahuan menjadi sangat terbuka. Pengetahuan tentang peluang bisa diakses dengan mudah. Yang dibutuhkan, sejauh mana kemampuan wilayah dapat menangkap peluang itu untuk melahrikan inisiatif dan kreativitas dari daerah terpencil seperti Lembata?

Kemasan produk yang dikaji secara professional keilmuan pada gilirannya diharapkah mudah dipasarkan. Sebuah produk yang asal jadi tetapi telah melewati sebuah proses analisis mendalam dengan kajian-kajian yang menarik dan tepat. Bisa dipastikan persaingaan kualitatif akan menjadi sebuah dominasi.

Lalu apa yang menjadi prioritas Perguruan Tinggi seperti Lembata? Dari segi modelnya, institut merupakan pilihan yang masuk akal. Di sana ada peluang 3 prodi yang bisa ditawarkan. Prodi pendidikan demi mengupayakan tenaga pendidik berkualitas masih menjadi prioritas. Pada sisi lain prodi ekonomi untuk mengelola potensi kekayaan alam menjadi salah satu pilihan yang masih masuk akal. Upaya mencetak wirausahawan menjadi hal yang masih didambakan. Bidang ekonomi ini akan bertahan dan tidak pernah akan mengalami surplus hal mana berbeda dengan pendidikan yang tentunya akan mencapia tingkat kejenuhan.

Untuk produk pangan atau semacamnya, yang menjadi target tentu yang bersifat organik. Melimpahkan bahan makanan dengan cara penggunaan bahan-bahan kimia telah menjadi sebuah kecemasan.Tak heran, banyak orang-orang berada memilih produk organik yang dikelola secara alamiah. Untuk hal ini mestinya menjadi pilihan dalam pengelolaan pertanian di Lembata misalnya.

Dari sisi ini, Perguruan Tinggi di Lembata masih sangat mungkin. Ia malah menjadi sebuah peluang yang besar. Tetapi peluang ini perlu dirancang secara bersama-sama dengan sebuah analisis mendalam dan pandangan yang jauh ke depan. Hanya dengan demikain lulusan yang dihasilkan dapat berkarya tidak saja di Lembata tetapi juga ke seluruh antero jagat.

===========

*): Penulis Terlibat dalam pendirian sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.

Komentar ANDA?