PERKAWINAN LGBT, MUNGKINKAH?

0
1163

Surat Terbuka untuk P. Otto Gusti, SVD

Pater Otto yth.

Saya tuliskan surat ini menanggapi wacana yang tengah dibicarakan di media sosial setelah dimuatnya statement Pater tentang LGBT. Sebagai orang yang mengenal Otto Gusti (sebenarnya saya lebih nyaman menyapa dengan nama karena menunjukkan kedekatan) dari mahasiswa hingga kini melalui perjuangan membela kaum miskin, terlantar, dan terpnggirikan termasuk LGBT, sesungguhnya dengan mudah bisa memahami apa yang mau disampaikan. Saya pun sangat mengapresiasi semua gerakan itu.

Namun yang saya heran, reaksi banyak netizen agak liar. Ada yang mengaitkan dengan akhir zaman (hubungannya apa?). Ada pula yang hubungkan dengan berkurangnya air di salah satu danau Kelimutu (hubungannya lebih tidak ada). Tetapi intinya, mungkin karena keterbatasan pemikiran kritis, mereka kelihatannya melantur sembarangan.

Yang jadi pertanyaan saya, Apakah netizen ini yang harus kita ‘sadarkan’ agar bisa mengerti argumentasi ataukah kita yang harus merem wacana kita? Memang otak mereka tak sampai. Tetapi saya kira mereka juga tidak salah.

Orang juga jadi galau malah cemas karena hal itu terkait dengan posisi Otto sebagai Ketua STFK. Mereka bayangkan, kalau di lembaga pembinaan imam terbesar di dunia ini, semua calon imam memiliki persepsi yang sama untuk nanti bisa memberkati para LGBT, maka ‘apa kata dunia?’

Begini Pater Otto….

Kalau coba mereka-reka sedikit maksud Otto, maka gagasan utamanya sebenarnya betumpuh pada hukum kodrati dan hukum ilahi. Sederhananya, selama ini orang menganggap sesuatu itu adalah ‘kehendak Tuhan’ (hukum ilahi) karena memang sudah dari ‘sononya’ (hukum kodrat) sudah terjadi. Kalau itu yang diakui maka logisnya, yang tidak sesuai dengan hukum kodrat yang sejajar dengan hukum ilahi adalah dosa.

Di sinilah yang terjadi dengan perkawinan. Yang bisa diterima itu hanya antara pria dan wanita. Tetapi kini secara ilmu pengetauan terbukti bahwa cinta LGBT itu ternyata juga dari ‘sononya’ begitu. Kalau demikian mereka juga bagian dari kodrat ilahi. Artinya, apa yang mereka ‘buat’ itu bukan dosa tetapi malah berkat. Dari sanalah wacana meminta pastor katolik agar bisa memerkati perkawinan LGBT (kira-kira inilah yang saya mengerti, maaf bila salah).

Yang jadi pertanyaan: apa maksud pastor ‘memberkati?’ (meski masih dalam arti nanti). Kalau berkat itu berasal dari kata Latin ‘bene dicere’ atau Spanyol ‘buen decir’ yang artinya ‘berkata baik’ maka apakah dengan memberkati itu akan menghadirkan pembicaraan yang baik tentang LGBT? Atau lebih jauh, pengaruh positif apakah yang akan dialami kaum LGBT kalau diberkati?

Saya rasa tidak ada hal yang baru. Di tengah masyarakat kita yang kurang paham pula, justru akan menghasilkan ‘mal decir’ (berkata buruk) yang bisa diartikan sebagai kutukan. Komentar netizen yang muncul sudah mengarah ke sana. Mereka mengungkapkan kegelisahan dan kecemasan. Ya tentu orang bilang, sebagai ilmuwan kita harus sadarkan mereka tidak usaha ikut mereka. Tetapi apakah mereka keliru atau justru kita yang menamakan diri cerdas ini justru keliru?

Hal lain Pater Otto Gusti.

Bila Otto kaitkan dengan kekeliruan yang pernah dilakukan Gereja terhadap Galileo-Galilei maka sekilas bisa dikatakan ‘ya’. Kekeliruan itu sudah juga diakui Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1992.

Tetapi apakah tepat menyamakan kekeliruan gereja dengan Gailleo-Galilei dengan LGBT? Saya kira di sini lompatan idenya tidak tepat. Dalam kaitan dengan Galileo, gereja sebagai institusi berhadapan dengan Galileo-Galilei. Umat yang ada tidak merasa ‘terganggu’ dan ‘diganggu’ dengan pendapat Galileo-Galilei karena hal itu tidak memiliki kaitan langsung dengan kehidupan mereka.

Malah kita bisa katakan, kalau sekarang gereja mau ajarkan bahwa justru matahari yang mengeliling bumi pun umat kebanyakan tidak merasa terganggu. Itu adalah hasil penelitian ilmu pengetahuan yang sama sekali tidak mengganggu akal sehat masyarakat / umat kecil.

Tetapi apa yang terjadi dengan wacana memberkati perkawinan LGBT? Saya rasa umat sederhana merasa terlibat di dalamnya. Mereka selama ini meyakini dan terbukti dalam kehidupan nyata mereka bahwa perkawinan itu hanya terjadi antara pria dan wanita. Bahwa kemudian ada yang klaim bahwa sesama jenis juga disebut perkawinan, ya terserah. Tetapi bagi loka umum, itu adalah sebuah keanehan (itu logika sederhana).

Karena itu menjadikan Galileo-Galilei sebagai dasar untuk melegalkan perkawinan LGBT nampaknya terlalu jauh perbandingannya. Memang yang dibandingkan adalah penyesalan gereja sebagai institusi sementara dalam hal LGBT akan berhadapan dengan gereja Umat Allah yang butuh waktu untuk menyadarakan atau mereka sama sekali tidak mau disadarkan.

Mengakhiri surat terbuka ini, izinkan saya mengutip perumpamaan tentang Domba yang Hilang. 99 domba itu tidak cemburu karena memang mereka aman dan tidak tertanggu sedikitpun dengan kepergian Sang Gembala mencari domba yang hilang. Malah mereka ikut gembira ketika domba yang hilang itu ditemukan kembali.

Tetapi apakah dalam hal LGBT ini terjadi hal yang sama? Komentar netizen yang agak liar sekarang menunjukkan bahwa mereka tertanggu dengan wacana itu. Kita tidak membayangkan sejauh mana ‘ketertangguan mereka’. Tetapi ini hanyalah alarm bahwa apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentu perlu juga dirasakan dan dpahami.

Hanya itulah surat terbuka saya Pater. Salam hormat sambil tidak lupa mengatakan bahwa saya sangat menghargai cara pater memperjuangkan dengan ikhlas kaum terpinggirkan seperti LGBT. Bahwa mereka dihargai sebagai manusia saya setuju. Tetapi kalau mewacanakan pemberkatan perkawinan, hemat saya kita juga memperhatikan rasa umat Allah…. Salam hormat. (Robert Bala, 28/5/2021).

Komentar ANDA?