Perlu Perjuangan Untuk Penghapusan Hukuman Mati

0
157
foto: ilustrasi Palu hakim persidangan

KUPANG. NTTsatu.com – Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) berharap masyarakat di Provinsi NTT pada umumnya dan Gereja Katholik khususnya sama-sama berjuang untuk penghapusan hukuman mati. Di NTT saat ini ada dia terpidana mati yang masih menunggu waktu untuk dieksekusi.

Koordinator TPDI NTT, Meridian Dewata Dado melalui rilisnya yang diterima redaksi NTTsatu.com, Kamis, 06 Oktober 2016 malam menjelaskan, keberadaan dua Terpidana Mati kasus pembunuhan berencana di Provinsi NTT yaitu Herman Jumat Masan alias Herder dan Gaudensius Resing alias Densy haruslah dijadikan sebagai momentum bagi masyarakat Provinsi NTT pada umumnya dan khususnya Gereja Katholik setempat untuk memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati dalam stelsel hukum pidana di negeri ini.

Terpidana Mati atas nama Herman Jumat Masan adalah seorang Pastor (Rohaniwan Katholik) yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2014 karena terbukti membunuh kekasih gelapnya di Kabupaten Sikka yaitu seorang Suster bernama Merry Grace serta menghabisi nyawa 2 anak hasil hubungan gelap keduanya.

Sementara Gaudensius Resing adalah Terpidana Mati yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2003 karena terbukti melakukan pembunuhan di Kabupaten Sikka pada tahun 2002 terhadap istrinya Etropia Salviana, adik iparnya Esmarion Kondradus dan ibu mertuanya Bernadeta Bi.

“Kita semua tentunya sangat mengutuk dan mengecam keras pembunuhan keji yang dilakukan oleh kedua Terpidana Mati tersebut, bahkan kita pun harus sepenuhnya memahami riuhnya tuntutan keluarga korban pembunuhan yang mati-matian mendukung hukuman mati namun demikian kita juga harus menyadari bahwasanya seberat apapun sanksi pemidanaan berupa hukuman mati sekalipun tidak akan pernah bisa menimbulkan efek jera bagi sistem penegakan hukum kita,” tulisnya.

Disamping itu lanjut Dado, pandangan Gereja Katholik secara tegas menolak penerapan hukuman mati tanpa kualifikasi apapun sebab hidup dan kehidupan manusia adalah suatu hal yang suci serta harus dijaga dan dihormati oleh siapapun juga.

“Kami dari Tim Pembela Demokrasi Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (TPDI-NTT) mendukung penuh penghapusan hukuman mati di Indonesia sebab hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun, menurut kami praktek eksekusi hukuman mati adalah merupakan tindakan penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan harkat martabat seseorang,” tulisnya.

Bahkan lanjut Dado, dengan model sistem peradilan pidana di Indonesia yang masih rapuh dalam pengawasannya serta penuh manipulasi dalam proses pembuktiannya maka adalah sangat beresiko sekali untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap seseorang pelaku tindak pidana.

Oleh karenanya melalui keberadaan Herman Jumat Masan alias Herder dan Gaudensius Resing alias Densy selaku para Terpidana Mati di Provinsi NTT maka hal itu harus menjadi tonggak bagi masyarakat Provinsi NTT dan Gereja Katholik setempat dalam memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati di Indonesia. (bp)

Komentar ANDA?