Petani Kopi Matim Diminta Jadi Anggota Koperasi

0
667
Foto : Warga Desa Rende Nao kecamatan Poco Ranaka Timur sedang memetik kopi.

BORONG. NTTSatu.com – Permintaan Kopi di pasaran dunia begitu besar dengan standar mutu tinggi membuat petani kopi sulit memenuhi permintaan pasar tersebut karena petani menjualnya sendiri tanpa melalui sebuah wadah seperti koperasi. Karena itu, pemerintah setempat mengimbau para petani kopi untuk  masuk sebagai anggota Koperasi sehingga bisa dibantu dalam soal pemasaran.

Kepala Dinas Perkebunan Manggarai Timur, Yohanes Sentis  kepada NTTsatu.com   di Kantor Bupati  belum lama ini mengatakan,  permintaan kopi dunia dari tahun ke tahun selalu   meningkat,  namun sangat sulit dalam memenuhi, karena para petani masih menjual kopi sendiri-sendiri tanpa melalui wadah bersama, sehingga pemerintah selalu menekan kepada petani supaya masuk koperasi.

“Permintaan kopi di pasaran dunia begitu besar dengan standar mutu tinggi membuat petani kopi sulit memenuhi permintaan pasar,” katanya.

Sentis mengatakan sejak Penetapan kopi Manggarai Timur untuk jenis arabika dan robusta sebagai kopi terbaik Indonesia dalam kontes Kopi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tahun 2015 lalu,  oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember permintaan kopi dari luar negeri semakin meningkat.

Permintaan kopi di pasar dunia begitu besar dengan standar mutu tinggi. Pihaknya sudah memintah kepada petani untuk masuk dalam wadah koperasi kopi. Tujuannya adalah untuk bisa memenuhi permintaan kopi dalam jumlah besar dengan standar mutu yang sama.

Koperasi sudah dibentuk namun anggotanya masih terbatas. Petani yang masuk dalam anggota koperasi dengan sendirinya kopi dijual dengan jumlah banyak namun kalau tidak melalaui wadah akan sulit memenuhi permintaan. Apalagi luas lahan kopi yang masih terbatas.

Sentis mengatakan, pihaknya mendapat dukungan provinsi
berupa bantuan bibit kopi untuk areal 50 hektar. Selain itu pihaknya terus melakukan rehabilitasi pohon kopi yang sudah tua dengan cara peremajaan kembali untuk mendukung petani dalam meningkatkan produksi kopi bagi petani.

Dikatakannya, kopi Manggarai Timur sudah dikenal luas mutunya paling bagus dan cita rasa enak. Kopi jenis arabika memiliki citrasa yang wangi, asamnya murni dan sedangkan robusta memiliki rasa yang khas, halus, mengandung mint, dan punya karakter netral sehingga sempurna saat dicampur.

Citaras tersendiri untuk kopi di Matim ini karena dukungan tanah dan lahan keadaan  geografisnya yang kering, dataran tinggi, dan juga  pengaruh angin dingin dari Australia. Sehingga, saat proses pemasakan buah menjadi sempurna.

Sementara Ketua Asosiasi Kopi Manggarai (Asnikom) Lodovikus Vadirman yang dihubungi  NTTsatu.com  secara terpisah mengatakan,  sejauh ini ada perkembangan keanggotaan  melalui wadah kelompok Asnikom. Para petani mulai sadar karena wadah Asnikom sudah membantu para petani dalam memasarkan kopi secara bersama dengan harga tinggi namun masih ada juga para petani yang keluar dari anggota Asnikom

Diakuinya, beberapa petani lebih memilih menjual hasil kopi kepada para tengkulak atau renteiner yang turun ke kampung-kampung dengan harga yang bervariasi.

Vadirman mengatakan,  Asnikom menargetkan ekspor kopi tahun 2016 mencapai 600 ton. Permintaan kopi setiap tahun dari berbagai negera seperti Amerika, Jerman dan beberapa negara Eropa, namun belum bisa terpenuhi karena penampungan kopi masih terbatas.

“Bulan Mei lalu  pembeli Kopi dari Jerman melihat langsung lokasi kopi di desa Rende Nao dan mereka sangat megagumi tanam kopi yang tumbuh secara alami,” katanya.

Dia mengatakan saat ini puncak panen kopi di Manggarai Timur.
Vadirman mengatakan pihaknya terus meyakinkan petani lain di tiga desa yakin desa Rende Nao, Ulu Wae Ledu, Wejang Mali di Poco Ranaka Timur untuk bergabung dalam wadah Asnikom supaya kopi yang diekspor lebih besar dan mampu memenuhi permintaan kopi dari luar negeri. (mus)

Komentar ANDA?