Petani Wuakerong Lembata Kembangkan Shorgum

0
501
Foto: Tanamam Shorgum (ist)

LEWOLEBA. NTTsatu.com – Masyarakat petani di desa Wuakerong Kecamatan Nagawutun Kabupaten Lembata serius mengembangkan tanaman shorgum. Namun pemerintah setempat  belum memberikan perhatian terhadap upaya para petani ini.

Shorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai.

Untuk Kabupaten Lembata, shorgum sudah mulai dikembangkan di dua tempat yakni di Wuakerong Kecamatan Nagawutung dan salah satu desa di Kedang. Di desa Wuakerong , pengembangan dan budidaya shorgum baru memasuki tahun pertama dengan inisiatif murni datang dari Yaspensel Keuskupan Larantuka.

Menurut Koordinator kelompok pengembangan Shorgum wuakerong Ibu Vibronia Peni, di Kacamatan Nagawutung pengembangan tanaman serbaguna ini baru dimulai di desa Wukerong. Hanya ada satu kelompok disini yang bekerja mengembangkan shorgum dan kelompok ini memanfaatkan tanah milik paroki seluas tiga hektar untuk dijadikan lahan.

Menurutnya tanaman ini sangat membantu kebutuhan pangan masyarakat karena dapat diolah menjadi berbagai macam jenis makanan.

“Ini tahun pertama jadi tampaknya masyarakat masih ragu-ragu untuk tanam. Tapi saya yakin kedepannya semua masyarakat akan mengembangkan tanaman ini karena dapat dipanen tiga kali setahun dan sangat berguna selain bahan pangan tapi juga sebagai pakan ternak.” kata Peni.

Koordinator kelompok pengembangan Shorgum ini kemudian melanjutkan bahwa pengembangan tanaman ini sangat bergantung pada harga pasar. Untuk saat ini harga jual berkisar antara tiga sampai lima ribu rupiah perkilogram. Dan untuk semengtara mereka hanya menjualnya ke Yaspensel karena belum ada pembeli lain.

Untuk itu ia sangat mengharapkan agar Pemerintah daerah dapat memberi perhatian bagi pengembangan tanaman ini di Wuakerong khususnya dan di seluruh Kabupaten Lembata umumnya.

“Mungkin ini baru tahun pertama sehingga belum ada intervensi apapun dari pemerintah. Kedepannya saya mengharapkan agar kami bisa dibantu alat-alat dalam pengerjaan lahan dan panen,” haranya.

Peni juga meminta agar masalah harga perlu mendapat perhatian pemerintah kedepannya. Kalau bisa ada beberapa pihak swasta yang bersedia membeli agar ada persaingan harga. (Humas TI Setda Lembata)

Komentar ANDA?