POLITIK: Transformasi dan Kebebasan

0
1436

Oleh: Thomas Tokan Purekĺolong

Hakikat politik adalah power atau kekuasaan, namun tidak semua kekuasaan adalah kekuasaan politik. Hakikat ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari mengenai proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik.

Politik dalam aksentuasinya selalu berubah-ubah.
Dalam dunia perpolitikan, selalu saja membahas pemikiran penting dalam pertanyaan utama: Siapa mendapatkan apa dan kapan ( who gets what and when ). Hal ini mengungkapkan berbagai varian politik yang terus berdinamika seperti tujuan dari aktivitas politik, bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut, bagaimana membahas berbagai kemungkinan yang terjadi akibat situasi politik tertentu dan bagaimana cara mengatasinya.

Transformasi politik, Kebebasan Politik Menuju Masyarakat Sehat bukanlah sebuah sebab tunggal ibarat obat mujarab untuk sekali tenggak.
Transformasi Politik adalah bentuk jamak atas kualitas kebebasan politik dari segenap warga negara terhadap sebuah pilihan ( “vote”) yang tengah berlangsung, sedang berlangsung dan akan terus berlangsung. Ketiga varian vote politik ini, bersifat inheren atau tak terpisahkan dalam derap langka pembangunan politik menuju masyarakat sehat ( kata pengantar buku, Thomas Tokan Pureklolon, Transformasi Politik, 2022: vii ).

Membahas tentang kebebasan politik dan transformasional mengisyaratkan bahwa setiap warga negara diberikan kebebasan dalam hidup berdemokrasi, di bawah hukum yang menaungi, selain untuk memastikan kebebasan hak-hak individu, juga untuk membatasi kekuasaan negara.

Kebebasan dalam berpolitik sejatinya sudah lahir dari zaman yunani kuno yang terus berkembang hingga saat ini. Dua tahap perkembangan utama yang terus menandai hal tersebut, tahap pertama adalah tercapainya kebebasan politik rakyat dengan membatasi kekuasaan raja, setelah itu menyusul tahap perkembangan kedua adalah kemerdekaan yang dicapai oleh negara-negara yang telah dijajah oleh negara lainnya. Dalam tahap kedua inilah transformasi politik mulai memunculkan sosok….

Dalam kebebasan politik setiap orang sebagai person semestinya memiliki kesempatan yang sama dan adil untuk memegang suatu jabatan politik atau sekedar mempengaruhi suatu keputusan politik. Setiap orang sebagai pribadi pun tidak boleh dipersulit jalannya untuk mengajukan diri dalam posisi apa pun di dalam bidang politik, dan juga memiliki kesempatan yang sama bagi semua orang yang terlibat. Dengan penggunaan hak politik yang sehat antara elit dengan masyatakat, dapat menjamin terselenggaranya kebebasan politik yang nyata dan positif dampaknya terhadap perkembangan suatu pemerintahan di negaranya.

Varian penting lain dalam politik tentang kebebasan dan transformasi adalah komunikasi politik yang intens. Komunikasi politik dalam hal ini selalu melibatkan pihak pelaku politik ( elit politik ) dan pihak lain seperti masyarakat yang di dalamnya terdapat wartawan dan jurnalis. Masyarakat memiliki peran yang paling penting di dalam Kebebasan politik, karena kebebasan berpolitik ini telah diamanahkan dan merupakan hak sepenuhnya setiap masyarakat. Kebebasan politik pun terus dipegang teguh oleh masyarakat, sebagai contohnya adalah pemilihan umum, fokusnya memilih wakil rakyat dimana segenap orang dapat mengajukan pilihannya tentang orang mana yang ia lebih percaya untuk menjadi wakilnya di pemerintahan.

Pada praktiknya dalam komunikasi publik, kebebasan politik belum tentu terlaksana dengan baik dan adil, karena itu pemberitaan dan informasi seputar hal tersebut perlu diketahui sebelumnya ( sosialisasi politik ) oleh seluruh masyarakat ketika terjadi.

Dalam Transfomasi politik, hak politik warga negara merupakan bagian dari hak-hak yang dimiliki oleh warga negara dimana azas kenegaraannya menganut azas demokrasi. Lebih luas hak politik itu sekaligus menjadi bagian dari turut sertanya dalam pemerintahan dan menjadi bagian yang amat penting dari praktik berdemokrasi. Hak ini bahkan dapat dikatakan sebagai pengejawantahan dari demokrasi. Jika hak ini tidak ada dalam suatu negara maka negara tidak semestinya mendaulatkan dirinya sebagai negara demokratis. Negara-negara yang menganut demokrasi, pada umumnya mengakomodir hak politik warga negaranya dalam suatu penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat langsung atau pun tidak langsung. Hak politik ini pun dicerminkan oleh perilaku politik masyarakat dan juga dicerminkan oleh perilaku politik dari segenap elit.

Dalam transformasi politik sangat dibutuhkan sebuah kepemimpinan transformasional ( transformational leadership), dimana peminpin dan bawahan berupaya mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Gaya kepemimpinan transformasional merupakan hal baru yang terus berguna untuk mengembangkan ide baru dengan berfokus pada kharakter, gaya, dan kontingensi. Pemimpin transformasional mencoba membangun kesadaraan para bawahannya ( followernya ) dengan menyerukan cita-cita yang besar dan moralitas yang tinggi seperti kejayaan, kebersamaan dan kemanusiaan.

Seorang pemimpin dikatakan transformasional diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan, kekaguman, kesetiaan dan rasa hormat para pengikutnya. Para pengikut pemimpin transformasional selalu termotivasi untuk melakukan hal yang lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi. Kepemimpinan tra nsformasional ini berguna untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang belum pernah bisa dicapai sebelumnya; dan hal inilah yang dinamakan dengan transformasional dalam politik, di mana pemimpin sendiri menjadi sangat berpengaruh ( idealized influence ), memberi motivasi inspirasional ( inspirasional motivation ), memberi stimulasi intelektul ( intellectual stimulation ), memberi pertimbangan individual ( invidualized consiteration ). Dalam konteks ini pula pemimpin dan pola kepemimpinannya hadir secara langsung yang terus menyiratkan perubahan ke arah yang lebih baik untuk masyarakat luas.

Seorang pemimpin transformasional dalam bidang politik semestinya juga memandang setiap problem politik selalu memiliki tingkat komplesitas, ambiguitas dan ketidakpastian yang berbeda-beda. Dalam transformasi politik seorang pemimpin yang benar, harus bisa mengatasi masalah-masalah tersebut dengan benar dan selalu belajar dari pengalaman masa lalu ( kompas histori ) dan terus berupaya untuk berubah ( transformasi ) sebagai vision nya.

==========

Penulis adalah:  Dosen Ilmu Politik FISIP UPH ( Universitas Pelita Harapan ) Jakarta.

Komentar ANDA?