Politisi “Salah Tempat”

0
1131

Oleh : Robert Bala

Dalam sebuah postingan di medsos, saya pernah membaca keluhan seorang politisi lokal. Katanya kira-kira demikian: “Orang luar selalu melihat apa saja yang dibuat di derah sebagai hal negatif. Padahal ketika orang itu pulang kampung untuk ikut konstestasi politik baik sebagai anggota legislatif maupun eksekutif, selalu gagal”.

Bagi saya sebenarnya keluhan dari luar itu sah-sah saja. Kadang orang dari luar lebih jelih melihat sebuah permasalahan. Jarak estetis dalam memandang sesuatu justru akan terbentuk ketika kita bisa mengambil jarak. Dalam hal ini memang orang dari luar lebih leluasa melihatnya.

Tetapi keluhan politisi itu juga ada benarnya. Kerap ‘balok di mata sendiri’ tidak dilihat tetapi selumbar saja di mata orang lain diangap parah dan harus diangkat. Dalam arti ini keluhan si politisi itu pun bisa dipaahami.

Yang jadi pertanyaan: apa yang sebenarnya yang mnejadi akar dari permasalahan ini? Tentu saja banyak alasan bisa diberikan. Tetapi kalau kita kritis,maka hal itu berkaitan dengan permaslahan ‘lobus’ atau tempat dari politisi.

Dua Tempat

Keterkenalan atau penerimaan seorang calon bisa saia ditentukan dua factor. Yang pertama, factor riil berupa dukungan yang didasarkan pada evaluasi rekam jejak. Untuk hal ini bisa ditentukan oleh sejauh mana intensitas dibangun oleh politisi dalam menjalin hubungan degan masyarakat.

Hal seperti ini kelihatan sederhana tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar. Terlepas dari isu ‘money politic’, tetapi penentuan keputusan akhir pilihan pada sejauh maan pengenalan masyarakat akan figur.

Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa kehadiran yang konstan itu kerap didasarkan pada hal-hal kecil pada momen yang tepat. Di saat bencana alam misalnya seseorang bisa saja menunjukkan kehadirannya lewat aneka bantuan. Tetapi keberadaan untuk periode yang lama, akan menunjukkan keaslian dirinya. Sementara itu kehadiran yang momentan, akan segera dilihat bahwa ia tengah mencari panggung.

Keterkenalan seseorang juga ditentukan oleh bantuan media sosial. Penguasaan media menjadi salah satu dorongan apakah seseorang bisa diminta maju atau tidak untuk untuk sebuah kontestasi.

Pengalaman menunjukkan, bahwa orang yang sangat terkenal di media tidak serta merta korelatif dengan dukungan riil. Saya mengenal dua orang yang berkiprah di media nasional mainstream, selevel Kompas dan SCTV. Sayang sekali bahwa di masyarakat keterkenalan mereka tidak sejalan. Mereka akhirnya gagal, malah setelahnya kelihatan susah bangun.

Tetapi itu tidak berarti semua yang lain, termasuk wartawan lepas, tanpa surat kabar juga pasti gagal. Bisa saja ada mukjizat yang membuat mereka bebas melenggang. Tetapi hal itu tentu butuh evaluasi lebih jauh, meski kenyataan sukses itu masih susah dicari buktinya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa keterkenalan di media sosial itu tidak korelatif dengan sukses. Perlu ada upaya mendalami lebih jauh. Apakah keterkenalan itu karena hal positif atau negatif. Ya, tentu saja yang positif. Kalau negatif, mengapa ia mau maju. Ia hanya mencelakakan dan merugikan diri.

Namun hal positif yang mana? Banyak orang mengidentikkan hal positif berupa aneka kritikan dan provokasi di media sosial. Mereka bisa saja memberikan kritikan yang benar tentang ketimpangan yang ada. Mereka juga mendapatkan apresiasi dari pembaca. Tetapi kita perlu bertanya lebih jauh: apakah komentar yang diberikan berasal dari orang-orang netral ataukah dari ‘sesama’ mereka yang bersatu secara berjemaah dalam group medsos?

Bila sambuatan hanya berasal dari kelompok tertentu, makai a perlu sadar bahwa dukungan dan keterkenalan itu ‘semu’ adanya. Orang-orang netral malah diam-diam merekam jejak dan memberikan cap negatif. Pada posisi ini maka bila seorang politisi yang berada di luar berani ‘coba-coba’ kembali ke daerah, maka kegagalan bisa saja menjadi sesuatu yang diperoleh. Ia gagal karena ia telah ‘salah tempat’. Ia sebenarnya lebih cocok menjadi pengamat dan bukan pemain.

Tahu Tempat

Agar tidak terjebak dalam salah tempat yang berawal dari salah sangka atas keterkenalan di medso, maka ada beberapa hal yang bisa dijadikan pijakan dalam mengambil keputusan.

Pertama, perlu menjadi politisi yang mencerahkan. Hal ini lebih ditujukan kepada politisi yang (merasa diri) terkenal di media sosial. Media sosial menghadirkan spasi agar orang bisa mengungkapkan pikirannya. “Apa yang ada dalam pikiranmu…..?”. Di sana terbuka kesempatan bagi seorang politisi untuk mengungkapkan pikiran yang mencerahkan.

Bila pertanyaan itu dijawab dengan pemaparan kegagalan dan kekurangan lawan, maka hal itu bisa saja positif. Orang bisa mengetahui kebobrokan. Tetapi apa solusi yang ditawarkan? Sekilas status media sosial mereka mendapatkan tanggapan tetapi kalau dikritisi, maka sebenarnya hal itu berasal dari kelompok mereka terbatas.

Sementara itu, mayoritas pembaca ‘netral’ justru menyimpan pengalaman itu sebagai hal negatif. Tiba saatnya, mereka akan mengasosiasikan dengan positingan tak mendidik. Lebih lagi kalau secara serampangan menulis hal-hal yang sebenarnya hanya merendahkan dirinya. Banyak politisi lokal yang sebenarnya sudah terbingkai secara negatif ‘image’nya oleh postingan tak mendidik yang hanya mencelakakan dirinya.

Artinya, kalau media sosial menjadi ‘tempatnya’ maka perlu dikelola secara positif. Jenis postingan perlu mencerahkan bukan mencelakakan. Membuka waawasan bukan meutupnya.

Kedua, politisi yang terkenal ‘di darat’ melalui pengenalan dan intervensi dalam realitas, maka perlu mengelolanya secara baik. Ia pelru tahu bahwa setiap keterlibatannya entah disengaja atau tidak pasti dibaca secara politik.

Bila pilihan ini diambil karena itulah ‘tempat’ baginya, maka hal itu perlu dikemas secara kontinyu dan terukur. Kontinuitas keterlibatan itu akan menjadi ukuran dan kisah kecil yang terus dijalin. Intensitas itu akan diukur juga oleh kehadiran pada momen yang pas. Kondisi bencana alam misalnya bisa menjadi momen kehadiran. Tetapi yang perlu dikemas lebih lanjut adalah merancang sebuah keterlibatan yang kontinyu dan bukan hanya momentan artinya hadir sesudah itu menghilang.

Seorang politisi yang bisa hadir untuk periode waktu yang lama (misalnya saat gunung meletus) bisa mengungkapkan ketulusan. Hal itu akan menjadi nilai lebih. Pada sisi lain, pemilih pun akan memiliki rekaman yang lemah bila politisi itu tidak pernah turun menyapa masyarakat di tengah penderitaan.

Selain itu kehadiran yang terukur juga perlu. Kadang, politisi berada pada pengaruh timses yang hanya merancang keheboan. Kehadiran politisi di sebuah obyek kontroversial bisa saja menjadi berita. Para pendukung akan ramai-ramai mengeksposnya. Sayangnya bahwa banyak pembaca netral akan melihat bahwa hal itu tidak lebih teknik untuk menjatuhkan kelemahan lawan tetapi pada saat bersamaan mereka belum bisa dianggap positif karena belum menghadirkan jalan keluar.

Ketiga, perlu politisi yang sukses bisa ditentukan oleh kemampuan mengemas hal yang bersifat ‘online’ dan tatap muka riil secara bersamaan. Memang dua hal ini tidak mudah disatukan. Keterbatasan modal bisa menjadi alasannya. Dengan demikian kemampuan pengemasan ini tentu saja lebih diarahkan kpada politisi bermodal yang ingin berlangkah secara pasti.

Bagi politisi lain yang ‘biasa-biasa’ saja tentu tidak ada pilihan selain kembali kepada habitatnya. Kalau hanya bisa mengakses media sosial maka gunakan itu secara positif. Ungkapkan pikiran yang membangun. Kurangkan positigna yang hanya mengkritik tetapi tanpa menawarkan solusi. Kalau perlu, biasakan ungkapkan diri melalui tulisan yang lengkap sehingga oragn bisa mengenal isi hati lebih jauh.

Kalau hal ini tidak bisa diikuti maka tentu nasihat terakhir ini tidak bijak tetapi terpaksa disampaikan. Kalau hanya sebatas menghadikan isu tanpa solusi, maka sebaiknya tidak usaha maju karena ‘nasib’ sudah bisa ditetak. Orang di Atadei – Lembata, mengungkapkannya dengan istilah sangat simbolis: “Penere, oto peno” (berhenti karena mobil /out sudah penuh). Di dalam sudah dipenuhi oleh orang-orang yang mungkin lebih berkualitas. Kehadiran Anda, hanya menambah beban tidak saja sebelum dan saat pemilihan tetapi sesudahnya akan jadi beban seumur hidup.

Ajaran ini tentu berlebihan. Tetapi ia hanya mengingatkan bahwa banyak kali politisi salah tempat. Ia menginginkan sesuatu tetapi tidak diiringi dengan hal yang menunjang. Ia perlu sadar dan kembali ke ‘habitatnya’. Tetapi kalau pun ia hendak maju dalam kontestasi, maka berubah merupakan sebuah keharusan.

=======

Robert Bala. Pemerhati masalah sosial. Alumnus Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?