Politisi Tulen

0
636

Oleh : Robert Bala

BANYAK orang tercengang. “Masa sih terhadap lawan politik, Jokowi malah memberikan penghargaan?”. Masyarakat masih ingat siapa itu Fadli Zon dan siapa itu Fahri Hamzah. Kritiknya terlampau pedas. Hampir tidak ada sedikit pun kebaikan dari Jokowi. Tetapi Jokowi berbalik. Kedua tokoh kontroversial itu diberi tanda jasa bertepatan dengan HUT Proklamasi RI 2020.

Kisah ini hanyalah sebuah konfirmasi. Sesudah proses pilpres yang melelahkan dengan klaim sebagai pemenang, Jokowi malah balik merangkul. Dua orang figur Gerindra termasuk Ketua umumnya Prabowo diangkat jadi Menteri. Dunia terhentak dengan langkah Jokowi.

Dua contoh ini sudah cukup untuk menafsir kebijaksanaan yang tengah dipertontonkan Jokowi. Yang diperlihatkan bukan seperti yang dibuat politisi pada umumnya: menghempaskan lawan. Ia malah merangkul dan memberi ruang. Ruang yang diberi pun bukan sembarangan.

Ini yang barangkali disebut sebagai politisi tulen. Hal itu berbeda dengan ‘politisi’ pada umumnya. Politisi seperti itu gemar dengan iri hati dan dendam. Mereka malah senang kalau lawan susah dan susah kalau lawan senang.

Jokowi melakukan yang sebaliknya hal mana ia pantas dikategorikan sebagai politisi tulen. Hanya demi kesejahteraan umum, ia merangkaul lawan, memberinya tempat terhormat. Ia tahu di balik perbedaan ide dan tidak sedikitnya penuh ironi yang merendahkan, tetapi ia masih sanggup melihat bobot yang disembunyikan sebagai kekuatan mereka. Ia lalu merangkul dan memberi mereka ruang setelah sebuah perhelatan melelahkan seperti pemilu terjadi.

Bahwa Jokowi bisa seperti itu tentu bukan sebuah kebetulan. Ia tersaring dari bawah melihat kesaksian kecil yang dilakukan di sebuah kota kecil, Solo. Penulis seperti banyak orang yang awam dalam politik tidak mengetahuinya. Yang penulis buat saat Kongres 2010 di Sanur Bali saat dipercayakan sebagai narasumber adalah usulan agar mengorbitkan pemimpin lokal berkualitas.

Inilah tema yang disodorkan kepada penulis. Sebagai narasumber, di hadapan banyak petinggi negeri ini, penulis mengambil contoh Amerika Latin. Tavare Vasquez di Uruguay, Lula di Brasil, sekadar menyebut dua contoh. Ternyata hal itu didengarkan dan terlahirlah Jokowi yang hari ini kita kagumi sebagai politisi tulen.

Gagal Paham

Apakah contoh menarik yang lagi dipertontonkan di level nasional khususnya melalui ‘perilaku’ Jokowi, merembes juga ke politik lokal di NTT?

Tanya melupakan politisi tulen yang juga berusaha lahir dari bawah dan konsisten dalam berpolitik, harus diakui, cipratan itu masih jauh dari harapan. Membaca postingan media sosial, dengan segera kita simpulkan betapa rendahnya kita dalam menanggapi sebuah isu secara matang dan dewasa.

Jelasnya, dengan mudah terlihat dominasinya apa yang disebut gagal paham. Ungkapan ini sedikit terkejut lahir dari seorang petinju dan promotor tinju nasional, Wilem Lojor. Lojor yang kepalanya berulang kali tersondok kepalan tinju meyakini, banyak orang yang mengklaim diri politisi bahkan pernah mencalonkan dirinya untuk jabatan legislatif malah eksekutif tetapi sesungguhnya didominasi oleh kegagalan untuk memahami sebuah wacana.

Yang kita sayangkan, fenomena gagal paham ini bahkan dilakukan secara berjemaah. Ada pertemanan karena intensi politik yang mendukung kandidat tertentu lalu diarahkan agar secara bergerombolan saling menyerang kubu lainnya. Di sana sudah dipastikan bahwa akal sehat tidak berjalan. Yang dikejar adalah sejauh mana mencelah lawan secara terbuka dan kalau perlu mencampakkan lawan ke jurang yang dalam.

Meskinya kesadaran akan hal ini tidak perlu diingatkan dari luar apalagi nasihat itu harus diarahkan kepada politisi yang sudah bukan muda lagi. Politisi yang pernah gagal (dan mungkin juga ke depannya masih gagal) mestinya belajar dari pengalaman. Mereka sebenarnya sadar akan kata-kata dari Lev Vygostsky tentang upaya membangun pengetahuan. Baginya, pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial, interaksi sosial dapat terjalin pada dua orang atau lebih.

Artinya, pembuktikan akan pemilihan yang pernah dilewati dengan dulangan suara yang nyaris ada, mestinya mereka paham bahwa di situ interaksi sosial yang mereka gagas gagal (total). Tetapi itu tidak berarti tidak ada peluang lagi. Peluang hanya bisa terjadi ketika politisi itu keluar dari kebisingan media sosial dan kesenangan mengombal cap negatif dan secara diam menghadirkan karya nyata meski sekecil apapun.

Sayangnya, hal seperti ini masih terlalu jauh untuk dipahami. Begitu mudahnya terprovokasi hal mana menunjukkan rendahnya kualitas berpolitik dan jauhnya mereka dari kategori politisi tulen. Mereka malah merancang lubang yang akan melaluinya mereka terjerumus.

Narasi Aksi

Tidak ada tawaran lebih positif selain narasi aksi. Hal itu dimaksud mewarnai waktu yang Panjang dengan aksi yang meski sekecil apapun tetapi dilakukan dalam bingkai kejujuran dan ketulusan.

Beberapa politisi lokal melakukan hal yang sangat sederhana. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung menawarkan kebisaannya dalam mengiringi koor di stasi. Sebuah dedikasi yang dilakukan demi pelayanan. Namun hal itu menjadi kredit poin. Selain itu mereka irit komentar apalagi melacurkan mulutnya dengan kata-kata pedas nyaris terpikir logikanya.

Aksi sederhana di kampung sendiri bisa menjadi contoh. Membaca peta perpolitikan di mana begitu banyak orang yang ingin maju, maka suara yang didapatkan sangat minim. Memperoleh seratusan apalagi seribu suara sudah disyukuri. Malah banyak yang lolos dengan suara hanya ‘segitu’.

Hal ini menyadarkan bahwa hal kecil yang bisa dilakukan di kampung sendiri menjadi modal awal. Ketika tiba saatnya, modal awal itu bisa menjadi umpan dan akan dilengkapi di ‘kampung’ lain. Malah hal kecil itu dari waktu ke waktu akan menjadi cerita. Sebuah cerita hanya bisa menjadi buah bibir karena didasarkan pada aksi nyata yang meski kecil tetapi mengundang kekaguman.

Narasi atas aksi kecil ini yang mengena dan bukan umbalan akan rencana besar yang akan dibuat. Lebih lagi masyarakat sederhana kurang mengerti (gagal paham) ketika dikisahkan beberan tentang MOU yang pernha ditandatangani di luar sana. Bagi mereka bahkan hal itu hanya menjadi candaan.

Disayangkan bahwa level masyarakat hanya seperti itu dan tidak paham akan ‘big picture’, rencana ‘wuah’ yang akan dilakukan. Tetapi mereka tidak bisa dipersalahakan oleh minimnya pemahaman. Yang disayangkan bahwa politisi yang terlalu tinggi konsep dan tidak membumi dalam program.

Ini mestinya jadi cambuk bagi politisi yang ingin kembali ke kampung halaman jadi pemimpin. Mereka perlu merancang narasi aksi kecil yang jadi sumber cerita dan jadi omongan dari mulut ke mulut. Bila itu dibuat maka sudah dipastikan, ketika tiba saatnya, rakyat akan mudah mendepositokan kepercayaannya pada calon dimaksud.

Sebaliknya kita hanya bisa kembali akan menepuk dada ketika saatnya tiba nanti. Di sana kita kembali sadar bahwa kita bukan politisi tulen seperti Jokowi. Kita hanya sebatas itu saja. ****

=======

Penulis : Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Facultad Ilmu Politik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?