Program Pemerintah Dengan Pendekatan Pemberdayaan Sangat Tepat

0
253
Foto: Kepala Bappeda Kabupaten Ngada, Hilarius Sutanto

BAJAWA. NTTsatu.com – Program Pemerintah dengan Pendekatan Pemberdayaan dinilai sangat tepat. Program dengan pendekatan seperti ini berbeda dengan proyek fisik yang bisa langsung dilihat hasilnya sedangkan program dengan pendekatan pemberdayaan, membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kepala Bappeda Kabupaten Ngada, Hilarius Sutanto yang ditemui di Bajawa, Selasa (18/10) menjelaskan, pekerjaan pemberdayaan itu memang melelahkan, karena harus merubah perilaku bahkan karakter masyarakat.

Dikatakannyas, sejak tahun 2011 hingga Tahun 2016, Program Desa/Kelurahan Anggur Merah telah menyentuh hingga 120 Desa/Kelurahan, di Kabupaten Ngada. Total keseluruhan sasaran di Kabupaten itu adalah sebanyak 151 Desa/Kelurahan. Jadi, masih tersisa 31 Desa/Kelurahan lagi, yang belum mendapatkan sentuhan program. Program ini sejalan dengan spirit pemerintah daerah yaitu, Membangun Ngada dari Desa.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada juga punya Program PERAK (Pemberdayaan  Ekonomi Rakyat). Program ini sudah mulai digagas di akhir Tahun 2010. Peluncuran Program PERAK dilakukan pada Tahun 2011. Jadi, bisa juga dianggap sebagai program replikasi, mendukung program Pemerintah Provinsi NTT. Ada juga program-program pemberdayaan dari Pemerintah Pusat yang kami nilai sejalan,”  tutur Sutanto.

Sutanto menjelaskan, Kabupaten Ngada termasuk salah-satu dari empat pemerintah daerah di NTT, yang sudah keluar dari kategori daerah tertinggal. Tiga daerah lainnya adalah Kota Kupang, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur.  Bahkan, Indeks Pembangunan manusia pun, Ngada sempat mengungguli kabupaten lainnya di NTT.

Semua program pemberdayaan yang ada, mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTT hingga Pemerintah Kabupaten Ngada, disebutnya memberi pengaruh terhadap penurunan angka kemiskinan di Ngada.

Khusus Program PERAK sendiri, disebutnya telah menginterfensi sejumlah 15.955 KK miskin. Untuk Tahun 2014 saja, Program Perak telah diberikan kepada 5.915 KK miskin. 5.320 KK miskin sasaran penerima sisanya, masih menjadi Pekerjaan Rumah yang harus juga dituntaskan.

“Jika dibandingkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), bisa juga dilihat terjadinya penurunan angka kemiskinan yang mencolok. Hingga Tahun 2014, setidaknya BPS, mencatat penurunan angka kemiskinan di Ngada sebesar 10,76 % dari jumlah penduduk. Dalam periode ke dua kepemimpinan pasangan incumbent ini, telah ditetapkan penurunan angka kemiskinan menjadi sebesar 9 % dalam RPJMD kami,” lanjutnya.

Sutanto kemudian menyampaikan empat catatan sebagai saran perbaikan program. Pertama, menurutnya penting untuk terus dilakukan pelatihan-pelatihan teknis bagi tenaga Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM).

Kedua, perlunya pelibatan dinas-dinas tekhnis di daerah, untuk menghindari double budget/sasaran dan tumpang tindih program. Ketiga, Untuk keberlanjutan program dan pembukaan lapangan kerja baru, diharapkan agar tenaga PKM dapat dimaksimalkan perannya, sebagai Manajer Koperasi. Jika koperasi binaan mereka berhasil, para PKM bisa saja dipekerjakan sebagai Manajer tetap dengan penghasilan sendiri. Keempat, agar Pemerintah Provinsi terus melakukan fungsi pendampingan. (*/bp)

Komentar ANDA?