Puncak Peringatan Harnus Hanya Dihadiri Dua Menteri

0
176
Foto: Mendagri Tjahyo Kumolo ketika tiba di Lembata, Senin, 12 Desember 2016

LEWOLEBA, NTTsatu.com – Puncak Peringatan Hari Nusantara 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2016 besok di Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur hanya dihadiri dua Menteri yakni Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan

dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo selaku Ketua Panitia Tingkat Nasional Peringatan Hari Nusantara 2016.

Peringatan Hari Nusantara yang dilaksanakan setiap tanggal 13 Desember ditetapkan oleh Presiden RI kelima Ibu Megawati Soekarnoputri melalui Keppres No.126 Tahun 2001. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Djuanda Kartawijaya.

Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 merupakan tonggak bagi penyatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh, menekankan bahwa di antara pulau yang satu dengan yang lain tidak terdapat laut internasional. Deklarasi ini juga mendasari perjuangan bangsa Indonesia untuk menjadi rezim negara kepulauan (Archipelagic State) dalam rangka mewujudkan Wawasan Nusantara.

Jika saja tidak ada “Deklarasi Djoeanda”, maka wilayah laut Indonesia hanya di sekitar pulau-pulau, sejauh tiga mil dari pantai. Artinya, di antara pulau-pulau Indonesia terdapat laut internasional, siapa saja boleh masuk dan pulau-pulau saling terpisah, padahal laut adalah penghubung kita.

Hal ini tentunya membahayakan kedaulatan, persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui Deklarasi Djuanda ini pula, maka prinsip-prinsip wilayah laut negara kepulauan kemudian diterima, sehingga wilayah laut Indonesia bertambah luas menjadi kurang lebih 5,8 juta km2

Sebagai negara kepulauan yang terbesar di dunia, sebagian besar wilayah Indonesia, hampir 75 %, merupakan laut. Laut yang demikian luasnya itu memiliki kandungan potensi yang luar biasa berupa ikan, terumbu karang, rumput laut, hutan bakau, bahkan sumber energi yang dapat dibangkitkan dari perbedaan pasang air laut, gelombang, 2 pasang surut air laut, dan lain-lain yang dapat menjadi alternatif bagi sumberdaya dari daratan yang sudah semakin terbatas.

Momen Hari Nusantara, selain bertujuan untuk mengingatkan kembali tentang jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari yang hidup di negara kepulauan bercirikan nusantara, juga dimaksudkan untuk mengubah mindset terhadap ruang hidup dan ruang juang dari matra darat menjadi matra laut, serta meningkatkan pemahaman wawasan kelautan kepada masyarakat.

Hal ini tentunya dalam rangka mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mampu mengelola potensi sumberdaya alam laut bagi kesejahteraan masyarakat, sebagaimana visi pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Tema peringatan Hari Nusantara 2016 ini adalah “Tata Kelola Potensi Maritim Nusantara yang Baik Menuju Poros Maritim Dunia”, dan puncak acaranya dilaksanakan di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Peringatan Hari Nusantara ini tidak hanya sekedar seremonial saja, tetapi juga menjadi model pembangunan terintegrasi bagi kepulauan terluar atau terpencil, yang merupakan wujud sinergitas program Kementerian/Lembaga dalam pembangunan kelautan.

Berbagai macam kegiatan telah dilaksanakan, seperti: pembangunan fisik, bakti sosial, pemberian bantuan, dan kegiatan positif lainnya.

Satu hal yang perlu menjadi perhatian kita adalah, bahwa di sini terdapat sebuah kearifan lokal yang melegenda yaitu tradisi menangkap ikan paus di Lamalera dengan menggunakan alat tradisional yang ramah lingkungan. Selain menjadi budaya bahari, kegiatan ini akan menjadi daya tarikpariwisata, terutama pariwisata bahari. Tradisi ini terus dilakukan sampai sekarang dan diperbolehkan karena tidak mengganggu ekosistem laut. (bp)

Komentar ANDA?